Diposkan pada Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Tak Berkategori

Menjemput Kematian Saat Mentari Senja

“Tuan,mari masuk. Hari sudah petang.” kata salah satu perawat-nya.
“Baiklah,bantu aku!” kata dia.

Kemudian perawat itu menghampiri nya dan memutar kursi roda yang ia singgahi,lalu menjalankannya menuju ke arah villa.
Ia dan perawat-nya pun meninggalkan tanah lapang nan luas yang selalu di hiasi oleh sinar matahari tenggelam.
Tempat itu adalah tempat favourit-nya.
Ia adalah seorang lelaki tua penyakitan yang mempunyai hobi melihat sunset atau matahari tenggelam.
Maka dari itu,ia sengaja membeli villa yang letaknya ada di sebuah bukit agar bisa selalu melakukan hobi-nya itu.
Sebenarnya,Ia adalah seorang pengusaha yang sukses maka dari itu tak heran kalau dia mampu membeli sebuah villa mewah. Bahkan apapun yang ia ingini pasti dapat di beli.
Namun sayangnya,ia tak memiliki kelurga. Baginya semua kekayaannya tiada arti tanpa seseorang yang ia cintai.
Dahulu ia adalah seorang ayah,ia mempunyai anak dan juga istri,namun mereka meninggal karena suatu kejadian yang memilukan.

Dua puluh tahun yang lalu…
Saat ia masih miskin,

“Saat saat seperti inilah yang akan ayah rindukan selama kerja di luar negeri. saat bersama kalian,melihat matahari tenggelam…” kata ia.

“Sudah-lah yah,ayah harus bisa. Kami disini akan selalu mendoakan ayah.” kata istrinya sambil tersenyum.
“Iya,ayah harus semangat.” tambah anaknya yang masih berusia 8 tahun.

Ia mendapat tawaran untuk bekerja di luar negeri oleh seorang temannya,dan iapun menerima nya. Besok ia akan berangkat.

Ke-esokan harinya,di sebuah bandara…

Ia di antar oleh anak dan istrinya.

“Ayah,jaga diri ayah baik-baik.” kata istrinya.
“Ayah,aku akan merindukan ayah.” tambah anaknya.
“Kalian,doakan ayah ya? Semoga ayah betah disana,supaya ayah bisa dapat uang.” kata dia.

Ia-pun meninggalkan istri dan anaknya,sesekali ia melihat ke arah mereka. Mereka melambaikan tangan lembut,itulah tanda perpisahan,tanda kalau ia akan berpisah lama dengan orang yang paling ia cintai.

Di luar negeri…

Akhirnya ia berhasil,awalnya beberapa tahun yang lalu ia datang ke negara ini hanya untuk menjadi seorang cleaning service pada sebuah kantor. Namun siapa yang akan menduga kalau ia sekarang menjadi bos di kantor itu.
Awalnya ia sering ikut saat meeting sedang berlangsung. Bukan karena apa apa,hanya kalau seseorang membutuhkan jasanya untuk disuruh suruh.
Suatu hari ia dengan berani mengutarakan sebuah ide,tanpa ia duga semuanya suka dengan idenya tersebut.
Sejak saat itu ia bukan hanya cleaning service atau sekedar jasa pesuruh saja,tapi seorang karyawan. Ia di angkat langsung oleh bos nya.
Setiap tahun jabatannya naik,hingga sampai saatnya seperti sekarang ini,ia telah menjadi bos.

Sepuluh tahun sudah ia berada di luar negeri dan belum pernah pulang lagi ke negaranya. Sungguh ia rindu terhadap anak dan istrinya. Maka dari itu ia memutuskan untuk pulang.

Pagi hari itu…

Ia telah berada di dalam sebuah pesawat,ia sedang dalam perjalanan pulang. Beberapa kali ia melihat sebuah foto kusam yang ia simpan di dompetnya. Foto itu adalah foto anak dan istrinya.

“Sabar ya kalian,ayah segera pulang.” kata dia.

Kini ia telah sampai di negara-nya,ia segera mencari taksi untuk segera menuju ke kampungnya dulu.

Sore harinya…
Ia telah sampai di kampung halamannya,di sana semuanya berubah. Kampungnya nampak sepi,rumah rumah di kampung itu nampak kotor terkena lumpur yang kini telah kering.
Ia berjalan menuju ke rumahnya,di sepanjang perjalanan ke rumahnya tak satupun orang yang ia temui. Ia dibuat heran,karena yang ada hanyalah rumah rumah yang kotor akibat lumpur dan tak berpenghuni lagi.
Kini,Ia telah sampai di rumahnya.lalu ia masuk,namun seperti rumah rumah yang lainnya rumahnya pun kosong.
Ia berjalan ke luar berharap ada orang yang lewat dan menjelaskan apa yang terjadi. Ia melihat ke sekelilingnya.
Dan ia mememukan seseorang yang pemulung yang sedang memilah barang barang.

“Pak,maaf. Bolehkah anda menjelaskan apa yang terjadi disini. Kenapa rumah rumah disini sangatlah kotor dan bukankah ini adalah sebuah kampung? Kemana perginya semua orang?” tanya dia.
“Rumah ini kotor karena lima tahun yang lalu terjadi banjir bandang disini,banjir itu menenggelankan kampung ini jadi wajar saja kalau sekarang ini keadaan kampung ini sangat kotor. Dan banyak warga yang hanyut tenggelam,mereka mati.” kata pemulung itu.
“Apa!!!!!” ia kaget.

Penglihatannya memudar,ia jatuh dan tak sadarkan diri.

Saat ia bangun ia sudah ada di sebuah rumah sakit,

“Bapak sudah bangun? Tadi bapak pingsan,dan seorang kakek tua beserta beberapa orang mengantarkan bapak ke rumah sakit ini.” kata seorang suster padanya.
“Terimakasih sus.” kata ia.
“Iya. Saya tinggal dulu ya pak.” kata suster itu.

Suster itu lalu meninggalkan ia,

“Kenapa? Kenapa? Kenapa!!!!!? Ibu,adik, ayah sudah pulang,tapi kenapa kalian tak ada.” kata ia sambil menangis.

Sejak saat itu kantor yang ada di luar negeri itu ia serahkan pada seseorang yang ia percayai.
Meskipun begitu,ia uang tetap mengalir padanya. Karena ia telah dianggap berjasa dengan membesarkan nama kantor.
Dan ia memutuskan untuk membeli sebuah villa,villa itu adalah yang saat ini ia tinggali.
Umurnya sudah 80 tahun,yang ia lakukan hanya melamun dan melihat senja saja.
Ia juga penyakitan,dokter memprediksi umurnya hanya tinggal menghitung hari.
Namun ia tak peduli,baginya itu justru adalah sebuah jalan untuk segera bertemu anak dan istrinya.

Semenjak hal itu semua,ia selalu melihat matahari terbenam di sore hari. Untuk sejenak mengobati kerinduan pada anak dan istrinya yang telah tiada.
Menunggu dan menunggu ajal menjemputnya.

Menjemput kematiannya.

Note :

Senja adalah akhir sebuah hari,ia mengingatkan bahwa ada sebuah akhir. Meski itu tak selalu akhir yang bahagia.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

8 tanggapan untuk “Menjemput Kematian Saat Mentari Senja

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s