Diposkan pada Cerpen, Cinta, Dongeng, Tak Berkategori

Mencari Maaf

Aku tertinggal dari rombonganku,kini aku tersesat. Aku tak tau harus kemana.
Disela kegelisahanku ini,aku melihat seekor burung yang indah. Ia sedang hinggap pada suatu rerumputan. Burung itu berwarna warni,perpaduan warnanya sangatlah indah. Dan ekornya yang panjang dan menjuntai indah membuatku ingin memegangnya walau sesaat.
Entah kemana rasa gelisah itu hilang,harusnya saat ini aku takut dan panik karena tertinggal oleh rombonganku. Tapi justru aku sangat senang karena bertemu burung yang sangat ini.
Aku mencoba menagkapanya,namun burung itu dengan gesit menghindar. Lalu ia hinggap pada sebuah pohon,akupun memanjat pohon itu. Ketika aku ingin kembali menangkapnya,lagi lagi ia bisa menghindar.
Kemudian ia terbang perlahan,kepakan sayapnya indah membuatku semakin ingin menyentuhnya.
Akupun kembali mengikuti jejaknya,tanpa sadar aku telah berada di tepi jurang. Namun,aku tak memghiraukannya. Burung itu hinggap pada sebuah pohon kecil di tepin jurang,dengan berani aku memanjatnya kemudian mencoba menangkapnya. Namun sial,burung itu kembali bisa menghindari tangkapanku.
Ketika aku berusaha kembali,sungguh sial dahan yang aku pijak malah patah. Akupun terjatuh,tubuhku terguling hingga aku jatuh ke jurang.
Semuanya terjadi begitu cepat,aku merasa kini kepalaku sangat pusing. Kemudian perlahan semuanya mulai gelap.

Dengan berat aku membuka mata,rasa pening di kepala itu masih tersa hingga kini. Aku berada pada sebuah rumah,bukan lebih tepatnya ini gubuk. Gubuk yang sangat jelek.

Aku haus dan juga sangat lapar,di meja sudah tersedia makanan dan minuman. Namun aku tidak bisa mengambilnya sendiri karena kepalaku yang masih sangat sakit ini.
Dan akhirnya aku berteriak,

“Tolong!!!,tolong!!!” teriakku.

Namun tak ada yang datang menghampiriku.

“Tolong!!!!! Tolong!!!!! Tolong!!!!” aku berteriak lebih keras lagi.

Akhirnya ada pula yang datang. Penampilannya aneh,sungguh sangat jauh berbeda dengan gaya berpakaian anak jaman sekarang.

“Ada apa nak? Kenapa teriak teriak?” tanya bapak itu.
“Aku lapar dan aku haus,tolong ambilkan aku makanan yang disana.” bentakku.
“Baiklah.” kata bapak itu.

Ia-pun berjalan ke arah meja itu,langkahnya lambat membuatku kesal.

“Woi bapak,Cepatlah!!!” bentakku kasar.
“Begitukah caramu minta tolong? Sopanlah sedikit nak!” kata bapak itu sambil melihat ke arahku.

Bapak itu lalu membawa makanan itu ke ranjang tempatku tertidur ini,lalu ia membantuku bangun. Dan dengan rakus akupun segera menyantapnya.

“Pelan pelan nak!” kata bapak itu.
“Diamlah!!! Aku sangat lapar!” kataku kasar.
“Anak ini.” kata bapak itu.

Lalu bapak itu mengarahkan tangannya ke makanan yang saat ini aku tengah aku santap. Dan sungguh mengejutkan. nasi berubah menjadi belatung,mie berubah menjadi cacing,dan daging bakar itu ternyata adalah bangkai. Minuman itupun berwarna merah,sepertinya itu adalah darah.
Aku segera memuntahkannya,betapa menjijikannya hal ini. Dan siapa bapak itu sebenarnya?

“Siapa kau? Apakah kau penyihir?” tanyaku.
“Bukan,aku adalah sang pemberi pelajaran. Aku akan memberi pelajaran kepada siapa saja yang sering berbuat jahat dan kasar. Dan ini adalah tempat dimana orang lain tidak akan pernah menemukanmu,tempat dimana hanya ada kau dan aku.”

Dalam hati aku berfikir,

“Berbuat kasar,berbuat jahat… Apa aku…”

Kemudian aku ingat suatu kejadian di sekolah,

kejadian dimana hari itu aku mengerjai guru matematika ku yang cerewet dan juga galak. Ia adalah ibu mawar.
Aku membuatnya terjatuh di dari tangga,terpeleset di ruang kelas hingga di tertawakan semua murid sampai menguncinya di kamar mandi. Hingga akhirnya ia mengundurkan diri tidak betah karena terus menerus aku jahili.
Tak hanya itu aku juga sering meminta uang pada seorang murid yang cupu dan lemah. Ia adalah kiki,Setiap hari aku selalu meminta separuh uang jajannya,bahkan terkadang semuanya. Pernah waktu itu aku melihat ia berjalan kaki karena tidak bisa membayar ongkos karena semua uangnya sudah aku minta.
Dan yang paling parah,aku mengfitnah kakak kelasku aida mencuri uang temannya. Aku melakukan hal itu karena ia menolak cintaku beberapa hari sebelum hal itu terjadi. Tak hanya uang milik temannya yang aku masukkan ke tasnya,tapi juga hp milik bu guru juga aku masukan. Hingga akhirnya ia di keluarkan dari sekolah.

“Jika kamu ingin terbebas dari tempat ini,kamu harus mendapat maaf dari orang orang yang telah kamu sakiti perasaannya. Dan jika kamu gagal maka kamu akan terjebak diaini selamanya hahaha!” bapak bapak itu tertawa.

“Tidak!!!” aku berteriak.

Aku terbangun,kini aku berada di sebuah dasar jurang. Bukan di gubug yang jelek itu tadi. Ternyata yang barusan aku alami adalah mimpi. Namun anehnya aku masih mual karena mimpi memakan belatung dan cacing tadi. Aku segera meraih ranselku dan pergi dari sana.

Aku berjalan menyusuri hutan,dan untunglah aku menemukan jalan. Aku berjalan menyusuri jalan itu,berharap ada mobil yang lewat.
Dan benar saja beberapa saat kemudian,ada sebuah mobil lewat.
Aku melambaikan tangan dan mobil itu berhenti,aku menumpang mobil itu sampai ke kota. Hingga akhirnya aku bisa pulang.

Hari haripun berlalu,perlahan aku bisa melupakan hal yang pernah terjadi beberapa minggu yang lalu itu.

Di taman sekolah

Aku melamun,ternyata aku masih memikirkan kejadian jatuh ke jurang dan bertemu bapak bapak yang aneh itu. Ternyata kejadian itu sulit sekali untuk di lupakan.

Seseorang menepuk pundakku dari belakang,aku tahu dari suaranya ia adalah ardi sahabat baikku. lalu ia bertanya…

“Hey!!! Ada apa,kok melamun?” tanya ardi.
“Gak ada apa apa kok di!” kataku mencoba tersenyum.
“Akh sudah,jangan bohong. Kamu mungkin bisa bohong pada semua orang,kamu mungkin bisa menutupinya. Tapi bukan aku,sahabatmu yang nengerti semua tentangmu. Kalau ada masalah cerita saja…” ardi tersenyum.

Kata kata nya menenangkanhatiku,sahabat memang orang yang paling mengerti kita.

“Aku memikirkan waktu itu di,saat aku tertinggal dari rombongan hutan sampai akhirnya aku jatuh ke jurang dan di tolong oleh bapak bapak yang aneh. Lalu ia tahu segalanya tentang diriku,kejahatan,keburukan,perbuatan nakalku dan semuanya. Bapak itu berpesan agar aku bisa mendapat maaf dari orang orang yang pernah aku sakiti hatinya. Terutama 3 orang yang ia sebutkan,dan mereka adalah : bu mawar,kiki,dan aida. Kata bapak itu mereka lah yang paling sakit hati karena kelakuanku. Dan kata bapak itu,aku akan di bawa ke rumahnya dan tinggal disana selamanya jika tidak bisa mendapat maaf dari mereka bertiga. Masalahnya rumah bapak itu bukan rumah biasa,dunianya pun tak sama dengan dunia kita. Itu adalah dunia gaib,menakutkan,sepi dan sangat mencekam. Aku tidak yakin apakah aku bisa mendapat maaf dari mereka? Aku binggung! Aku takut di!!!” kataku pada ardi.
“Menurutku bapak itu benar,kamu memang sudah keterlaluan saat itu.kamu membuat bu mawar di pecat,kamu membuat kak aida di keluarkan dari sekolah,dan kamu masih memalak kiki si cupu itu sampai sekarang. Bagaimanapun kamu harus mendapat maaf dari mereka,agar kamu tidak di bawa ke dunia bapak itu. Tenanglah,aku akan membantumu.” kata ardi.

Lagi lagi ardi tersenyum,dan lagi lagi hatiku merasa tenang. Bebanku seolah berkurang. Itu karena sahabtku,ardi.

Beberapa hari kemudian,

Saat itu hari senin,dan di sekolahan sedang di adakan upacara bendera.
Sebenarnya upacara telah selesai,tapi aku membuat mereka tidak bubar dan meninggalkan lapangan sekolah. Hari ini di depan guru dan teman teman aku akan jujur.

Aku meraih sebuah mic lalu aku mulai berbicara,

“Hari ini aku akan berkata jujur. Sebenarnya,aku-lah yang telah meletakkan uang teman kak aida ke dalam tas kak aida. Agar semua mengira kalau kak aida lah yang salah. Aku melakukannya karena kak aida sudah menolak cintaku.”

Saat aku berhenti berbicara,suara itupun terdengar kompak terucap dari mulut mereka.

“Boooo,boooo,boooo…..” teriak mereka.

Aku yang tak kuat mandengarnya lalu menutup mataku dan mencoba meneruskan bicaraku ini.

“Dan juga soal bu mawar,akulah yang setiap hari mengerjainya. Dari membuatnya terpleset,menguncinya di kamar mandi dan masih banyak lagi kejahilanku yang lainnya yang akhirnya membuat bu mawar tidak betah dan memutuskan mengundurkan diri. Aku melakukannya karena ia sangat cerewet. Itu semua salahku…tentang kak aida,tentang ibu mawar itu semua karena aku. Salahku.” tanpa sadar aku menangis.

Lalu pak kepala sekolah memghampiriku dan memelukku.

“Tidak apa apa,yang penting kamu sudah sadar. Dan berjanjilah kamu tidak akan mengulanginya lagi.” kata pak kepala sekolah.
“Ia pak,aku janji.” kataku terisak isak sambil menghapus air mataku.

Lalu pak kepala sekolah meraih mic itu lalu berbicara,

“Semuanya,kita patut memberi apresiasi karena anak ini sudah mau jujur. Ia mengakui kesalahannya,dan sebaik baiknya manusia adalah orang yang mau mengakui kesalahannya dan mau berubah.” kata pak kepala sekolah.

Lalu,suara tepuk tangan terdengar. Awalnya hanya satu orang saja yang melakukannya,hingga akhirnya disusul beberapa orang sampai akhirnya semua orang bertepuk tangan. Mereka menghargai kejujuranku.

Setelah kejadian itu,aku menemui kiki si anak cupu. Dan aku memberikan sebuah amplop putih kepadanya.

“Apa ini?” tanya kiki dengan nada yang masih ketakutan padaku.
“Itu adalah uang,semua uang tabunganku aku berikan kepadamu. Maafkan aku ya,selama ini aku selalu meminta uang padamu. Apa kau mau memaafkan aku?” kataku.
“Iya” kiki tersenyum.
“Terimakasih” kataku tersenyum.

Lalu aku memeluknya,tanda bahwa sekarang aku bukan tukang palak lagi dan kiki bukan anak yang terpalak lagi.

Beberapa hari kemudian,

Aku melihat bu mawar ada di sekolah. Sontak aku langsung menghampirinya.

“Bu mawar,kok… Maafkan aku ya buk,sebenarnya…” kataku bermaksud menjelaskan.

Namun,belum sempat aku menjelaskan ia malah menimpalnya.

“Sudahlah,ibu sudah dengar ceritantmya dari kepala sekolah. Dan ibu bangga karena kamu mau jujur. Dan maaf mungkin selama ini ibu sangat cerewet ya,sampai sampai kamu mengerjai ibu setiap hari.” ibu mawar tersenyum,ia bangga padaku.
“Jadi ibu mau memaafkanku?” tanyaku.
“Tentu saja,ibu akan memaafkan anak yang pemberani dan jujur seperti kamu.” kata bu mawar sambil mencubit pipiku.

Aku hanya tersenyum.

Sepulang sekolah,aku di antar ardi ke rumah kak aida.

“Tok,tok,tok!!!” aku mengetuk pintu.
“Iya…” dari dalam suara itu terdengar.

Lalu pintu itupun terbuka,yang membukanya adalah kak aida sendiri.

“Ardi… Dan kau!!!” kak aida lalu membanting pintu itu.
“Tok,tok,tok!!! Kak,tolong buka pintunya kak! Tok,tok,tok!!! Kak!!! Kak aida!!!” kataku.
“Sudahlah,kita kesini lain kali saja.”

Keesokan harinya,di sekolah.

Aku melihat kak aida kembali bersekolah,aku tak tahu apakah ini halusinasiku atau apa. Tapi kini ia berjalan ke arahaku,ia menatapku tajam lalu menyodorkan tangannya.

“Baikan!” kata kak aida.
“Maksudnya!!!?” tanyaku.
“Kemarin kamu ke rumahku mau minta maaf kan? Agar kita bisa baikan. Aku udah denger semuanya dari ardi. Dan berkat kejujuranmu itu aku tidak jadi di keluarkan daribsekolah. Ya udah aku maafin kamu sekarang kita baikan.” kata kak aida.

“Ardi,jadi dia yang sudah mejelaskan semuanya pada kak aida. Terimakasih sahabatku.” kataku dalam hati.

“Maaf kan aku ya kak! Aku udah keterlaluan.” kataku.
“Iya” kata dia.

Dan akhirnya akupun mendapatkan permintaan maaf dari mereka mereka yang pernah aku sakiti.

Aku melihat bapak bapak aneh itu di sudut ruangan sekolah,ia tersenyum padaku. Mungkin itu adalah tanda kalau aku tidak jadi ia bawa.
Aku berjanji,mulai sekarang aku tidak akan berbuat jahat lagi.

Meminta maaf tidak akan mudah seperti saat kita menyakiti perasaan seseorang.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

12 tanggapan untuk “Mencari Maaf

      1. Paham kok πŸ˜„ nggak pa pa keep writing aja, suka kok saya
        Saya juga nulis cerita tp klo punya saya cerbung, kak Arisnohara klo minat boleh baca hehe 😁 sekalian minta pendapat biar saya juga bisa berkembang

        Suka

  1. Kunjungan balik.

    Um, saya mohon maaf kalau berkesan keterlaluan. Hanya saja, saya pikir kaunya butuh banyak belajar soal penulisan/ redaksional. Soalnya, di tulisan ini, sekurang-kurangnya ada 4 kesalahan penulisan yang langsung bisa saya lihat. Dan jujur, saya malah lebih tertarik mengomentari itu 😦 Entahlah. Mungkin karena sudah kebiasaan.

    Pun begitu, orang bilang sebaiknya mengomentari dengan rinci πŸ™‚ Maka keempat poin tsb adalah sbb: 1) Penulisan imbuhan dan preposisi, 2) Penggunaan tanda koma, 3) Tentang kalimat pelengkap/ pengiring dialog, dan 4) Penulisan kata sapaan. Saya pikir penjelasan keempatnya bisa dengan mudah dicari di belantara Google.

    Mohon maaf kalau kurang berkenan πŸ˜‰

    Suka

    1. Terima kasih kritik dan sarannya

      Tidak apa apa kok,saya terima semua itu. Lagipula memang saya juga merasa belum bisa,maaf ya. Maklumlah saya ini lagi belajar.πŸ˜πŸ˜‚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s