Diposkan pada Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Tak Berkategori

Hingga Sampai Pada Akhir Waktu-ku

Malam itu…

Mobil itu membawaku,membawa kami menuju ke suatu tempat. Tempat dimana nantinya akan aku singgahi.
Panti Jompo. Yah,apalagi tempat yang pantas untuk nenek tua tak berguna seperti diriku ini selain Panti Jompo.
Aku di antar oleh anakku satu satu-nya,namanya Ricko. Ia adalah anak angkat yang selama ini Aku besarkan hingga sekarang menjadi sukses,namun malah justru saat ia berniat membuang diriku. Dan juga istrinya,yang sepenuhnya mendukung keputusan Ricko anak-ku untuk membuangku ke Panti Jompo. Jika ada orang yang paling senang aku tidak ada,itu adalah istrinya Ricko. Menantuku sendiri.

Di perjalanan Aku hanya bisa menangis,menangis dan terus menangis.
Rasanya ini tidak mungkin,rasanya ini seperti mimpi. Anak yang sudah susah payah Aku besarkan malah membuangku ke Panti Jompo.
Ia jahat,ia sangat jahat. Dan juga istrinya itu,ia lebih jahat lagi. Mereka semua jahat.

❇❇❇

Beberapa jam sebelumnya…

Kami bertiga ada di teras belakang rumah,menikamati secangkir teh dan sedikit berbincang-bincang.

Lalu dengan tiba-tiba Ricko menggenggam tanganku erat,ia menangis. Seraya berkata,

“Bu,maaf.” kata Ricko.

Dari rauk wajahnya,ia terlihat putus asa dan sangat pasrah.

“Maaf untuk apa nak?” tanyaku.
“Sudah,jangan cenggeng. Cepat katakan!!!” kata Rini istri Ricko.
“Sebenar-nya kami berniat memgirim ibu ke Panti Jompo.” kata Ricko.
“P…anti jo…mpo…” kataku tertatih.

Bagaikan tersambar petir,Aku begitu kaget. Ini seperti mimpi,dan Aku mencubit tanganku sendiri yang tengah Ricko genggam.

“Oh,ternyata sakit.” kataku di dalam hati.

Itu berarti saat ini Aku tidak bermimpi,dan ternyata memang benar Ricko berniat membuangku ke Panti Asuhan.
Mataku berkaca-kaca,Aku sudah tak kuat berada di teras ini. Aku segera pergi meninggalkan Ricko beserta istrinya dengan alasan mau ke kamar mandi.
Disana Aku nyalakan air kran,suara air yang mengalir dari air kran itu lumayan keras. Jadi,tidak akan keyahuan kalau sebenarnya didalam kamar mandi Aku sedang menangis.

“Kenapa!!! Mengapa!!! Apa salah-ku???” tanyaku dalam hati sambil terus Aku menangis.

Tak sadar Aku sudah lama berada disini,Aku harus segera keluar.
Aku hapus air mataku,Aku membasuh mukaku agar tidak ketahuan. Lalu,Aku-pun keluar.
Aku berjalan menuju ke kamarku,entah kenapa pintunya terbuka.
Aku memasuki kamarku dan disana sudah ada bik Ijah. Ia terlihat sedang sibuk membereskan baju yang ada di lemariku lalu ia masukkan ke dalam sebuah koper.

“Sedang apa bik?” tanyaku.
“Ini nyonya,kata tuan muda baju-baju dan barang-barang nyonya harus segera di kemas karena nanti malam mau berangkat ke Panti Asuhan.” jawabnya.

Lagi-lagi mataku berkaca-kaca,bahkan hampir saja menetes. Namun Aku sigap dan langsung memghapusnya dengan tanganku.

“Apa! Jadi,secepat itu?” tanyaku dalam hati.

Setelah bik Ijah selesai berkemas,iapun meninggalkan kamarku dengan membawa koper itu.

“Jangan lupa ya tuan,jam 8 nanti berangkatnya.” kata bik Ijah.
“Iya bik.” jawabku.

Bik Ijah kini telah meninggalkan kamarku,Aku segera mengunci pintu lalu kembali ke ranjangku.

“Kenapa??? Mengapa???” lagi-lagi aku bertanya dalam hati.

Air mataku kembali mengalir deras. rasanya air mataku sudah habis di kamar mandi tadi,tapi tenyata masih mengalir.
Aku menangis sambil ku remas bantal yang saat ini sedang aku peluk erat.
Sesekali aku menampar wajahku sendiri berharap bahwa ini adalah mimpi,namun aku masih merasakan sakit.

“Ini nyata,Aku memang akan di buang ke Panti Asuhan.” kataku.

Kemudian suara ketukan pintu terdengar,

“Tok! Tok! Tok!”

“Nyonya? Di panggil tuan muda.” kata bik Ijah.
“Baik,sebentar bik.” kata-ku.

Aku menghapus air mataku,aku mencuci mukaku lagi di kamar mandi kamarku dan aku membuka pintu.
Lalu menuju ke ruang tenggah,dimana Ricko dan istrinya berada.
Sesampainya disana,nampak Ricko dan istrinya yang sudah berpakaian rapi duduk di ruangan itu. Dan juga koper yang tadi di kamarku sudah ada di sana.

Aku mendekati mereka dan…

Ricko sesekali melihat kepadaku,dan aku pun menatap kepadanya. Hanya bisa sekedar berharap bahwa ia akan membatalkan niatnya membuang diriku ini.

“Kita berangkat!” kata Rini.
“Bik,tolong bawakan koper ini.” kata Ricko.

Lalu kami berjalan menuju ke garasi,dan kamipun masuk ke dalam mobil itu.
Lalu,kamipun berangkat.

❇❇❇

Akhirnya mobil ini berhenti,dan air mataku semakin mengalir deras. Jika saja Aku bisa berkata-kata,Aku ingin memohon kepada Ricko untuk membatalkan niatnya ini. Tapi,sayangnya Aku tak bisa. Saat ini Aku tengah di selimuti kesedihan,dan Aku hanya bisa menangis. Aku mengungkapkan perasaan hatiku ke dalam tangisan.

“Sudahlah buk,jangan cengeng! Ayo cepat turun.” kata Rini.

Ia sepertinya sudah tidak sabar melihat-ku terbuang. Dan Ricko anakku itu ia sedari tadi hanya diam saja. Mungkin karena ia dilema,atau bahkan mungkin saja ia sudah rela.
Kamipun turun dari mobil itu,lalu berjalan menuju ke Panti Asuhan.
Disana tertulis “Panti Asuhan Harapan”.
Kami masuk ke dalam,di lobi nampak Ricko dan Rini yang sedang mengurus surat-suratku. Dan hanya ada Aku sendiri saja disini,duduk di sebuah kursi panjang. Di lorong Panti Aku melihat segerombolan kakek-kakek dan nenek-nenek yang sedang bermain catur. Yah,memang hanya dua orang saja yang bermain. Namun,yang menonton ada banyak sekali.

Dari sebuah pintu terlihat seorang berbaju serba putih,ia seperti seorang suster.

“Prok! Prok! Prok! Prok!” ia menepuk tangannya beberapa kali.
“Eee…udah malam lhoh,udahan ya main caturnya,ini waktunya untuk tidur.” kata suster itu.
“Hmmm…padahal sebentar lagi aku akan menang,tapi sayang sudah waktunya istirahat.” kata seorang kakek yang bermain catur.

Lalu mereka bubar meninggalkan tempat itu dan pergi ke kamar mereka masing-masing.

“Buk,ayo kita ke kamar ibuk.” ajak Ricko.
“Ya.” jawabku.

Kami berjalan melewati lorong yang tadi,di temani beberapa suster dan menuju ke sebuah kamar. Kamar itu bernomor 148.

“Jadi,disini Aku akhirnya.” kataku dalam hati.
“Ini kamar nenek.” kata salah satu suster.

“Buk,maaf tapi…” belum sempat Ricko berbicara dan sudah di timpal oleh Rini.

“Akh,dari tadi maaf melulu. Sudah ayo kita pulang.” kata Rini.
“Buk,kami pulang dulu.” kata Ricko.
“Iya nak,jaga dirimu baik-baik.” kata-ku sambil mencoba tersenyum.

Ricko dan Rinipun berjalan melewati lorong panti,Aku melihat mereka dari depan pintu kamarku. Mereka semakin jauh,jauh dan akhirnya mereka berbelok.
Lalu Aku masuk ke kamarku,melihat ke jendela. Dan Aku lihat mobil Ricko meninggalkan Panti Asuhan ini.

“Aku benar-benar di buang.” kataku.

“Nek,ini mau di letakkan dimana ya?” tanya salah satu suster di belakangku.
“Disebelah situ saja.” jawabku sambil menunjuk ke sebuah lemari.
“Baik.” jawabnya.

Setelah itu para suster itu pergi meninggalkanku. Kini hanya Aku sendiri berada di kamar ini. Perasaan itu muncul lagi,perasaan sedih yang menyelimutiku. Dan lagi-lagi Aku menangis.

“Hwaaaaaaaa…hwaaaaaaa…hwaaaaaaaaaaaaaa…..” tangisku pecah.

Aku bahkan sudah tak peduli lagi meski orang-orang di kamar sebelahku sudah tidur.
Hingga seseorang membuka pintu kamarku dan membuatku berhenti menangis keras. Ia berlari ke arahku,ia juga sama sepertiku,ia adalah seorang nenek-nenek. Hanya saja mungkin usianya sedikit lebih tua dariku.

Tangannya menggapai bahuku.
Dan,

“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanya dia.
“Aku telah di buang disini oleh anakku sendiri,anak yang sudah susah payah aku besarkan.” jawabku dengan terisak.
“Oh,soal itu. Akupun sama.” jawabnya dengan mata terpejam.

Mungkin ia tengah menenang sesuatu.

“Mungkin bukan di buang,tapi lebih tepatnya di bebas-kan!” kata dia.
“Bagaimana bisa?” tanyaku.

Ia duduk di atas ranjang di sampingku.

“Ya,bebas. Waktu kita masih bersama anak kita,kita lah yang selalu mengurusnya. Kita yang selalu khawatir pada-nya,dan semua tentang dia. Tapi,setelah ia punya istri dan juga anak ia memutuskan untuk memindahkan kita kesini. Agar kita bisa beristirahat dan menikmati masa tua kita. Mungkin bagi sebagian orang,ini adalah seperti dibuang. Namun,bagi diriku justru ini sebuah kebebasan. Karena aku tak perlu lagi mengurus anakku itu,aku tak perlu lagi memikirkannya. Hanya perlu mendoakan yang terbaik saja.” kata dia.

Kata-katanya mendamaikan hatiku,jika Aku pikir pikir lagi memang benar. Selama ini kitalah para ibu yang paling khawatir,paling sayang dan apapun yang berhubungan dengan anak kita.

“Kau benar,bebas.” kataku.
“Iya,bebas.” kata dia tersenyum.

Lalu Aku menghapus air mata di pipiku dan berkenalan dengannya. Lalu kami banyak bicara,berbagi cerita tentang kehidupan kita. Lambat laun,ia menjadi sahabatku. Dan ia banyak mengajari tentang banyak hal. Dan Akupun bisa menerima ini semua. Seperti sahabatku itu,perlahan Akupun merasa bebas.
Aku menemukan kebahagia’an kembali walau itu tak bersama anakku.
Aku menikmati masa-masa indah berada disini,bersama para lansia. Hingga suatu hari Aku akan bertemu dengan hari itu,hingga pada akhirnya nanti akan tiba saatnya Aku akan berpulang. Aku akan kembali pada Tuhan.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

18 tanggapan untuk “Hingga Sampai Pada Akhir Waktu-ku

  1. Itulah efek klo waktu msih muda bpknya main whatshapp dan ibu main fesbuk, dan anaknya ditinggalin di pohon pisang, waktu tua jngan slhkan si anak klo ortunya kmudian diti2pkan ke panti jompo, 😂😂
    Maaf, komen di atas cuma intermezo.😂
    Imajinasimu boleh juga ya, memandang dari sisi si ortu. Ini pkai atau tnpa riset mas? Menarik loh.
    Hanya saja, alasan si nenek diti2p ke panti jompo oleh anaknya itu tdk bgtu sy tangkap, ap ini krn pngruh si Rini sja yg sbnrnya si Ricko trpksa krn tak brdaya atau bgmna?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya gpp kok bang,intermezo juga boleh.😁

      Ya itu menghayal aja,tidak pakak riset.

      Sebenarnya itu karena Rini dan juga si Ricko pun terpaksa namun tidak bisa berbuat apa apa.

      Penulisannya bagaimana? Udah saya edit dan saya check,dan juga udah hati hati nulisnya…☺

      Suka

  2. Sepertinya ada kesalahan dikit, waktu saya baca bagian atas si nenek mau dibawa ke panti jompo, tp setelah saya baca ke bawah kok tulisannya “Panti Asuhan Harapan” ya? Apa memang sengaja dibuat begitu?

    Suka

      1. Iya.😊
        Gak,aku mah udah gak sekolah lagi. Udah tua,umur aja udah 21.😂
        Hehe mungkin karena aku lg belajar bahasa indonesia kali ya!? Yah maklumlah namanya juga orang JAWA,jadi belum terlalu bisa bahasa indonesia yang baik dan benar.😁😃

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s