Posted in Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Tak Berkategori

Tiada Kata Terlambat

Sebagian besar rumah di desa ini telah Dion hancurkan. Kini hanya tinggal sebagian lagi dan desa inipun hancur sepenuhnya.
Semua ini Dion lakukan karena ia sakit hati pada desa ini,ia dendam pada desa ini.
Dengan memegang granat mini ciptaannya,ia berjalan melewati rumah demi rumah. Sesekali ia menaburkan granat mini itu lalu terdengarlah suara ledakan.
Meski granat mini ciptaannya hanya seukuran kacang,namun satu buah saja mampu menghancurkan satu rumah besar.

“Hahaha…keluarlah kalian para penduduk desa,lihatlah aku yang berhasil menjadi hebat ini!” teriaknya.

Meskipun ia sebagian besar desa sudah hancur,namun tak terlihat satu orangpun warga yang ada disana. Dan Dion pun mulai curiga. Ia melihat kekiri dan kekanan,kebelakang,dan kesetiap sudut. Dan tetap saja tak ada siapapun.

“Sebenarnya kemana mereka semua pergi?” tanyanya dalam hati.

Lalu ia melanjutkan langkahnya dengan terus menaburkan granat-granat itu sampai pada akhirnya ia tiba di suatu bangunan.
Bangunan itu adalah tempat yang dulunya di gunakan sebagai tempat belajar bagi Dion. Bangunan itu adalah sekolahan.

Lalu Dion pun mengingat memori tentang bangunan itu…

⚫⚫⚫15 tahun yang lalu

Di sebuah ruang kelas,

“Demikianlah pelajaran kita hari ini. Ingat ya anak-anak! Seperti tokoh dalam buku yang baru saja kita bahas,suatu saat kalian harus jadi orang yang berguna bagi orang lain. Itu adalah perbuatan terpuji nan membanggakan.” kata guru pada anak-anak.
“Baik pak guru.” kata anak-anak.
“Baiklah,sekarang kalian boleh pulang!” kata pak guru.

Lalu para murid berhamburan meninggalkan tempat itu kecuali Dion.

Seperti biasa Dion selalu gugup bila berhadapan dengan pak Khasan. Pak Khasan adalah guru favouritnya,bisa dibilang ia adalah idola Dion. Sosoknya yang lemah lembut namun terkadang bisa tegas juga,dan juga sifatnya yang penyayang seperti seorang ayah membuat Dion semakin mengaguminya.

Didepan meja pak Khasan,Dion dengan gugupnya mencoba berbicara.

“Pak Khasan?” panggil Dion suaranya bergetar.
“Iya Dion,ada apa?” tanya pak Khasan pada Dion.
“Saya mau bertanya pak?” kata Dion.
“Ehmmm…itu.” kata Dion,kali ini wajahnya memerah.
“Apa Dion?” tanya pak Khasan.

Pak Khasan tersenyum melihat Dion dengan wajah yang memerah dan juga salah tingkahnya itu. Dion justru semakin gugup,matanya berkaca-kaca. Bagi Dion,ia butuh banyak keberanian untuk berbicara dengan guru favouritnya itu.
Setelah Dion terdiam tak bicara dan juga salah tingkah itu,akhirnya ia bicara juga.

“Apakah seorang penemu alat akan jadi kebangga’an?” tanya Dion.
“Oh iya,seorang penemu juga akan menjadi kebanggaan. Asal,penemuan itu bermanfa’at bagi banyak orang.” kata pak Khasan.
“Oh begitu ya,terimakasih. Saya pulang dulu pak.” kata Dion.

Dion langsung lari meninggalkan ruangan itu,

“Jangan lari Dion,nanti kamu bisa jatuh.” kata pak Khasan.

Akan tetapi Dion tetap saja berlari.

“Anak itu… Selalu saja bertingkah aneh bila berhadapan langsung denganku.” gumannya dalam hati.

pak Khasanpun juga meninggalkan tempat itu.
Di perjalanan pulang ia terfikir oleh kata Dion tadi.

“Penemu? Semoga suatu saat ia akan jadi penemu yang hebat.” kata pak Khasan dalam hati.

Masa kecil Dion sangatlah pahit,ia harus menjalani masa kecilnya itu tanpa ayah dan ibunya. Dan juga ia harus menerima di benci oleh seluruh warga. Ayah Dion adalah seorang yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan.
Suatu hari,
ayah Dion mengamuk,ia mengobrak-abrik seisi rumah karena waktu itu ia kalah judi. Ia berniat mencari barang yang bisa ia jual untuk berjudi lagi,namun ternyata tidak ada barang berharga.

Ibu Dion yang melihat peristiwa itu mendekati suaminya.

“Bang,cukup!!! Hentikan!!!” kata istrinya.
“Diam kamu,aku butuh uang!!! Uang!!!” teriaknya.
“Sudahlah bang,abang tidak usah berjudi lagi. Uang kita pun telah habis karena abang selalu menggunakaannya untuk berjudi.” kata ibu Dion.
“Diam!!! Kalau tidak bisa bantu,lebih baik diam!!! Pergi sana!!!” bentak ayah Dion.

Ayah Dion mendorong istirnya,dan itu menyebabkan kepala istrinya terbentur di tembok. Kepalanya penuh darah,dan ia meninggal.
Dion yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu hanya bisa menangis,saat itu ia masih terlalu kecil untuk bisa menghentikan ayahnya.

Ayah Dion telah membunuh ibunya,saat itu Ayahnya di penjara. Ia dipenjara seumur hidup.
Sejak saat itu ayahnya itu dikenal tidak hanya seorang pemabuk dan penjudi,namun juga pembunuh. Para warga pun malah justru membenci Dion,ia tidak ingin bila anak-anaknya bermain dengan Dion. Dion harus di benci semua orang atas kesalahan ayahnya,atas perbuatan tercela yang bahkan tak ia lakukan.

Hal itu membuat Dion memutuskan untuk pergi ke luar desa.
Sejak saat itu ia belajar,belajar dan belajar. Ia berusaha keras. Sampai pada akhirnya ia berhasil meraih cita-citanya,ia akhirnya bisa menjadi seorang penemu alat-alat hebat.
Akan tetapi Dion yang sekarang bukanlah Dion yang dulu,Dion yang sekarang adalah Dion yang mengutamakan balas dendam pada desa.

Dan hari ini rencana balas dendam itu akan di Dion lakukan,ia akan menghancurkan desa.

⚫⚫⚫

“Tempat ini dulunya adalah tempat dimana aku belajar. Tapi… Aku tak peduli lagi.” kata Dion.

Dion lalu mengangkat tangannya,ia bersiap melempar granat itu ke arah bangunan sekolah itu.

“Dion! Hentikan!” teriak seseorang.

Suara itu berasal dari arah belakang,Dion pun menoleh. Seseorang berlari dari kepunlan asap tebal. Dan orang itu adalah…

“Pak Khasan.” kata Dion.

Tubunya bergetar,wajahnya memerah,dan ia gugup.

“Apa yang sudah kamu lakukan?” tanya pak Khasan.
“Aku… Aku akan menghancurkan desa ini,aku akan balas dendam karena semua orang membenciku dulu.” kata Dion.
“Menghancurkan? Apa aku mengajarimu hal itu? Lagipula,tidak semua orang membencimu.” kata pak Khasan.
“Bohong,semua orang pasti membenciku karena aku ini anak seorang pembunuh.” bentak Dion.
“Aku,aku tidak membencimu. Aku adalah orang yang selalu bangga padamu,kau adalah anak yang pintar. Sampai saat ini akupun masih bangga padamu,kau berhasil menciptakan sebuah bom penghancur. Yah,meskipun bom itu untuk menghancurkan semua bangunan yang ada disini. Dan perlu kau ketahui,bukan hanya kau saja yang mengagumiku tapi aku juga mengagumimu. Kita ini sama-sama saling mengagumi. Bagiku kau bukan hanya sekedar murid,kau berbeda,kau lebih dari semua.” kata pak Khasan tersenyum.
“Pa…ak khasan…” kata Dion.

Lalu Dion menundukan kepalanya,

“Kemarilah Dion,ikutlah bersamaku. Masih ada kesempatan untuk berubah.” kata pak Khasan.

Dion berjalan ke arah pak Khasan,kini mereka saling berpelukan.

“Tidak ada kata terlambat untuk berubah,Dan setiap orang itu pasti berbuat kesalahan. Tinggal kita bisa menghapus kesalahan itu dengan banyak berbuat baik atau tidak.” kata pak Khasan.

Lambat laun desa yang sebagiannya sudah hancur itupun di perbaiki,semua biayanya di tanggung oleh Dion. sementara itu Dion harus menjalani 10 tahun dari hidupnya di penjara. Meski begitu ia tetap tabah karena ia sadar ia memang bersalah.

Di penjara,

Romy sahabat Dion menjengguk Dion di penjara,dan saat ini mereka duduk berhadapan di sebuah meja.

“Dion? Bagaimana kabarmu?” tanya Romy.
“Baik rom,kamu sendiri?” tanya Dion.
“Baik.” jawab Romy.

“Kira-kira Dion bakalan marah gak ya?” tanya Romy dalam hati.

“Dion,aku mau jujur. Sebenarnya,akulah yang sudah membocorkan rencana kamu untuk menghancurkan desa itu ke para warga. Itulah kenapa kamu pasti tak menemui satu orangpun saat kamu mulai menghancurkan desa. Terserah kalau kamu mau marah,tapi aku tidak bisa melihat banyak orang mati.” kata Romy.
“Hmmm…soal itu… Akulah yang bersalah,nasihat kamu tak pernah aku dengarkan. Maaf kan aku ya? Dan aku juga menyesal pernah berniat menghancurkan desa,desa yang membuatku menjadi seorang penemu seperti saat ini. Aku menyesal,sangat menyesal.” kata Dion,ia menangis.
“Sudahlah,yang lalu biarlah berlalu. Saat ini,kamu harus berubah jadi lebih baik lagi.” kata Romy sambil tersenyum.
“Iya,aku akan mencoba.” kata Dion.

Dan percakapan itupun berakhir,Romy meninggalkan Dion sementara Dion kembali ke kamarnya.
Mulai hari ini Dion bertekad akan berubah sepenuhnya,ia mencoba menjadi pribadi yang lebih baik.

Seperti sebuah kata yang diucapkan pak Khasan dulu…

“Tidak ada kata terlambat untuk berubah,Dan setiap orang itu pasti berbuat kesalahan. Tinggal kita bisa menghapus kesalahan itu dengan banyak berbuat baik atau tidak.”

Selesai.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

2 thoughts on “Tiada Kata Terlambat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s