Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Menangis & Tersenyum


​”Yah,ujan lagi. Ari dateng gak ya?” tanya Eva dalam hati.
Gadis yang sedari tadi menunggu ketadatangan kekasihnya itu terlihat gelisah. apalagi ketika hujan mulai turun,ia semakin gelisah lagi.
“Aduh…hujan,berhenti dong! Please…” kata Eva dalam hati.
Hampir satu jam lamanya dia menunggu namun Ari kekasihnya itu tak kunjung datang dan menemuinya.

Dia berpikir jus jeruk yang ia pesan tadi itu rasanya tidak cocok kalau dinikmati saat hujan begini.

Lalu akhirnya ia memutuskan untuk memesan cokelat panas.
“Sruuuppppp…” ia menyeruput cokelat panas itu.

“Auwww…panas!” kata Eva.

“Uuuh bodoh,cokelat panas ya memang panas. Aku ini bodoh hahaha” kata Eva.
Ia tertawa sendiri karena kepanasan ketika ia mulai meminum cokelat panas itu,ia menertawakan kebodohannya,ia menertawakan dirinya sendiri.

Tak ada satu orangpun di sekitarnya yang tidak melihat ke anehan Eva itu.
“Gadis sinting!” begitu mungkin dalam hati mereka.
Hal itu di tambah pula dengan penampilan Eva yang norak dan kampungan. Kaos polos berwarna merah,rok panjang warna kuning,wajah menor dengan bulatan merah di pipi kanan dan kirinya,serta bando kelinci berwarna biru yang ia pakai. Bahkan itu tidak pantas di sebut norak atau kampungan,tapi lebih rendah lagi. Mungkin aneh lah kata yang paling tepat.

Namun orang tersebut justru bangga pada penampilannya itu.

Dia itu gadis anti mainstream,walaupun anti mainstreamnya itu aneh.

Bagi dia,orang yang mengikuti trend itu justru adalah orang yang norak,kampungan dan aneh.

Dan bagi dia,setiap wanita itu harusnya memiliki style sendiri dan tidak mengikuti trend yang ada.
Tak terasa sudah dua jam  Eva menunggu,namun Ari tak jua datang padanya.

Bahkan colekat panas itu kini sudah dingin karena terlalu lama di biarkan.
“Apa Ari lupa? Gak mungkin deh,yang pelupa kan aku.” kata Eva sambil nyengir.

“Coba aku sms akh…” tambahnya.
Lalu ia mengirim sebuah pesan untuk Ari.
“Ri,kok kamu belum datang juga. Aku udah dua jam lho nungguin kamu. Datang ya,aku kangen kamu sayang.”
“Lalu… Send.” kata Eva.
“Ting.” bunyi hpnya,tanda bahwa pesan sudah terkirim.
“Udah terkirim.” kata Eva lagi.
“Tut…tut…tut…” hpnya bunyi lagi,dan itu adalah tanda sms masuk.
Eva segera mengecek hpnya,disana sudah ada satu pesan yang masuk.
Pesan itu berisi :
“Maaf ini siapa ya? Saya menemukan pengguna hp ini pingsan di bis,jadi saya membawanya ke rumah sakit harapan. Jika anda keluarga atau temannya,tolong segera kemari.”
“Astaga!” kata Eva terkejut.
Lalu Eva menjawab sms itu…
“Saya pacarnya,saya akan segera kesana.”
Eva bergegas dari meja nya dan berniat meninggalkan cafe itu.

Karena ia panik,ia berlari untuk kemudian segera menuju ke rumah sakit. Namun seorang pelayan cafe mengejarnya akan tetapi Eva sudah sampai di pintu keluar cafe.

karena tidak terkejar,akhirnya pelayan cafe itu meneriaki Eva.
“Woi…!!! Bayar dulu dong. Makan banyak tapi gak bayar,kalau gak punya duit jangan makan disini…” teriak pelayan itu.
Eva memperlambat laju larinya itu. Samar-samar ia mendengar kata pelayan itu. Lalu akhirnya ia berhenti.

Sementara itu pengunjung cafe kembali melihat pada Eva,lagi-lagi Eva jadi pusat perhatian karena tingkah lakunya. Kali ini ia lupa membayar pesanannya.

Eva balik badan dan berlari menuju ke pelayan itu.

Lalu berkata.
“Nih uangnya,maaf tadi gue lupa. Kembaliannya buat loe aja.” kata Eva kesal.
Gue dan Loe,saat ia mengucapkan kata itu artinya ia sedang kesal atau marah.
Lalu Eva berniat meninggalkan cafe itu dan belum sempat satu kalipun ia melangkahan kakinya,lagi dan lagi-lagi pelayan itu berteriak.
“Woi…! Kembalian apanya? Kurang nih. Loe pikir ini warung pecel lele apa?” bentak pelayan itu.

“A hahahahaha…” Eva tertawa.

“Dasas orang gila.” batin pelayan itu.

“Kurang ya? Nih uangnya,maaf ya.” kata Eva.
Eva pun sekarang bisa benar-benar bebas dari cafe itu,dan saat ini ia menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit,
Disana sudah ada ibunya Ari duduk di kursi di dekat ranjang Ari,sementara Ari sendiri masih terbaring diranjang itu.
“Tante?” panggil Eva.

“Eh…Eva,sini va.” kata ibunya Ari.
Eva pun duduk di samping ibunya Ari.

lalu…
“Ari sakit apa tante?” tanya Eva.
Mendengar pertanyaan itu ibunya Ari malah menangis.
“Tante?” panggil Eva.

“Maaf va,tan..te ha..nya…” ia terbata.

“Hanya apa tante?” tanya Eva.

“Tante hanya tidak percaya kalau dalam waktu beberapa hari ini Ari akan pergi meninggalkan kita untuk selamanya.” jawab ibunya Ari.
Eva diselimuti perasaan sedih,air matanya mengalir.
“Apa!” kata Eva.

“Kamu harus sabar va,tante tahu ini tidak mudah. Tapi kamu harus bisa demi Ari.” kata dia.
Tanpa mereka sadari Ari telah sadar dari pingsannya.
“Va,kenapa kamu nangis?” tanya Ari.
Sontak Eva segera mengusap air matanya.
“Nggak kok,kamu tu apa-apaan sih buat aku nunggu lama? Capek tau.” kata Eva genit.

“Hehe,maaf sayang.” kata Ari.

“Dia tersenyum saat sakit seperti ini,semua karena Eva,semua karena cinta.” kata ibunya Ari dalam hati.

“Ibu keluar dulu ya.” kata ibunya Ari.
Dari luar ia mendengar Ari dan Eva tertawa terbahak-bahak.
“Anak itu,benar-benar membuat Ari bahagia.” kata dia.
Semetara itu di dalam,
“Kamu tahu gak? Aku tadi di cafe tuh udah sok gaya mau berikan kembalian pada pelayan,tapi ternyata yang aku berikan malah uang 20ribuan. Yang akhirnya kurang dan membuat pelayan itu marah padaku. Hahaha…” kata Eva.

“Hahaha… Kebayang deh wajah pelayan itu,pasti dia kesel banget.” kata Ari

“Iya,coba aja kamu disana. Kamu bisa lihat mukanya yang memerah seakan mau meledak karena saking keselnya sama aku. Haha” kata Eva.

“Hahaha…” Ari pun tertawa.
Dan disela percakapan itu tiba-tiba.
“Akh…”
Ari merintih seraya memegang kepalanya.

Suasana yang tadi sudah mencair kembali menegang.
“Kenapa ri? Aku panggilkan dokter ya.” kata Eva.

“Gak usah,cuma pusing dikit aja kok.” kata Ari.

“Oh,ya udah.” kata Eva.
Eva menemani Ari di ruangan itu sampai Ari kembali tertidur.

Saat Ari sudah tertidur,Eva meninggalkan ruangan itu untuk pulang.
“Tante,aku pulang dulu.” kata Eva.

“Iya,kamu hati-hati ya va.” kata ibunya Ari.

Sambil tiduran di kasurnya,
“Hari ini sungguh aneh dan melelahkan. Aku harap ini adalah mimpi,aku belum bisa bila harus berpisah dengannya. Oh tuhan,tolong berikan dia hidup. Aku mohon.” kata Eva,ia terlihat sedih.
Keesokan harinya,

Eva menjenguk Ari di kamarnya,namun sesampainya disana ia dapati Ari tidak ada di kamarnya.

Eva panik,ia mencari Ari.

Dan ternyata ia ada di taman. Duduk di sebuah bangku panjang dengan dikelilingi bunga-bunga.
“Apa yang kau lakukan disini? Ayo masuklah,kita ke dalam.” kata Eva.

“Tidak,aku suka disini.” kata Ari.

“Ayolah Ari,kau belum sehat.” kata Eva.

“Aku tidak peduli lagi.” kata Ari.
Eva jadi khawatir,ia takut terjadi apa-apa pada kekasihnya itu. Eva lalu duduk di samping Ari kemudian ia menggenenggam tangannya erat.
“Va?” panggil Ari.

“Ya.” jawab Eva.

“Aku bisa kehilangan tanganku bila kau begitu,tanganku bisa remuk bila kau genggam erat seperti itu.” kata Ari.

“Dan aku sangat takut bila aku kehilanganmu untuk selamanya ri.” kata Eva dalam hati.

“Maaf,aku hanya…” kata Eva.

“Hanya apa?” tanya Ari.
Tanpa menjawab Eva malah memeluk Ari,lalu menangis.
“Tumben-tumbenan nih.” kata Ari.

“Aku menyayangimu.” kata Eva.

“Aku juga.” kata Ari.
Lalu Ari melepas pelukan Eva,dan ia dapati Eva tengah menangis.
“Ada apa? Kok nangis.” tanya Ari.

“Tidak,aku hanya kelilipan.” Eva mencoba tersenyum.
Lalu mereka melanjutkan melihat hanparan bunga di taman itu,mereka saling berpegang tangan.
“Va,apapun yang terjadi kamu harus janji satu hal sama aku.” kata Ari.

“Janji apa?” tanya Eva.

“Tetaplah jadi dirimu yang sekarang ini,yang apa adanya. Tetaplah tersenyum,tertawa dan bahagia. Dan jika suatu saat aku pergi jauh,tetaplah sayang padaku karena akupun selalu menyayangimu.” kata Ari.

“Aku janji.” kata Eva.

“Kau sudah janji dan kau harus menepatinya.” kata Ari.

“Iya,bawel akh.” kata Eva.

“Biarin,siapa tahu besok aku gak bisa bawel lagi.” kata Ari.

“Nggomong apa sih?” tanya Eva.
“Akh..!!! Akh…!!!”
Ari merasakan kepalanya berdenyut hebat seolah mau pecah,ia tak tahan lalu memegangi kepalanya.
Eva lalu membawa Ari ke kamarnya,lalu di panggilnyalah dokter.

Saat pemeriksaan terdengar teriakan Ari yang kesakitan,Eva dan ibunya Ari yang mendengar hal itu hanya bisa pasrah. Mereka saling berpelukan.
Beberapa saat kemudian,
Dokter keluar dari ruangan itu disusul dengan jenazah Ari.
“Kami sudah berusaha keras. Tapi maaf,dia tidak selamat.” kata dokter itu.

“Tidak!!!” teriak ibunya Ari.
Jenazah itu didorong menuju ke kamar mayat,ibunya mengikuti petugas yang membawanya.

Sementara Eva,ia masih ada di depan kamar tempat Ari dirawat. Tubuhnya kaku tak bergerak,air matanya mengalir deras,akan tetapi ia tersenyum.

Ia tersenyum sambil menangis.

Ia mengingat kata-kata yang baru saja diucapkan Ari sebelum kematiannya.
“Tetaplah jadi dirimu yang sekarang ini,yang apa adanya. Tetaplah tersenyum,tertawa dan bahagia. Dan jika suatu saat aku pergi jauh,tetaplah sayang padaku karena akupun selalu menyayangimu.”
Selesai.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

14 thoughts on “Menangis & Tersenyum

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s