Posted in Cerita Pendek, Cerpen, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Diakah Anakku?

Sore itu…

Seperti biasa Aku pulang kerja dan melewati jalan yang biasanya Aku lewati,sebuah jalan alternatif yang sepi dan cocok sekali untuk dilewati orang-orang sepulang kerja jika tidak mau terjebak macet.

Dengan mobil mini cooper ku,Aku melaju dengan kecepatan 50km/jam.

Di perjalanan Aku melihat seseorang wanita,ia membawa kardus di kiri dan kanan tangannya,lalu tas ransel besar di punggungnya.

Karena Aku penasaran,Aku pun menghampiri wanita itu.
Alu menghampirinya lalu Aku membuka kaca mobilku.
“Eee… Mbak! itu bawa apa ya,kok banyak banget?”  tanyaku penasaran.

“Oh ini,ini itu baju-baju saya. Saya disuruh kesini buat kerja,tapi ternyata malah mau di jadikan pelacur. Saya gak mau dan saya kabur,dan sekarang saya gak tau ini mau kemana.” jawab wanita itu dengan bahasanya yang medok.
Karena Aku merasa iba,akhirnya Aku menawarkannya sebuah pekerjaan. Bekerja di rumahku sebagai pembantu.
“Kalau ikut saya mau gak? Kamu jadi pembantu di rumah saya.” kataku.

“Ohalah,kok baik banget thoh ibu ini. Saya mau,daripada nanti keluarga saya di desa pada sedih karena saya gak jadi kerja,lebih baik saya bekerja jadi pembantu di rumah ibu.” kata dia semakin medok.

“Ya sudah,masuk ke mobil.” kataku.

“Baik,baik.” kata dia.
Aku pun melanjutkan perjalananku,di perjalanan kami saling berbincang-bincang.
“Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Nama saya ajeng bu.” jawab dia.

“Oh,ajeng ya?” kataku.

“Iya.” kata dia.
Ajeng,

Gadis desa yang polos dengan bahasa medok jawanya itu merantau ke jakarta karena dijanjikan pekerjaan oleh temannya,akan tetapi pekerjaan itu adalah menjadi pelacur. Ajeng tidak mau dan akhirnya dia kabur.
Di rumah,
“Walah…rumahnya gede banget.” kata Ajeng.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah keheranan Ajeng itu.
“Yah,inilah rumah saya.” kataku.

“Gede dan bagus banget.” kata Ajeng.

“Ayo masuk.” kataku.
Kamipun masuk ke dalam rumah.
“Bik,bik siti…” teriakku.
Suara langkah kaki mulai terdengar,ia mendekat dan semakin dekat disertai teriakan khasnya itu.
“Iya nyonya…” teriak bik Siti.

“Ada apa nyonya.” kata bik Siti.

“Ini,dia namanya Ajeng. Mulai sekarang dia akan membantu bibik bekerja.” kataku.

“Oh…gak usah nyonya,saya aja udah cukup kok.” kata bik Siti.

“Eh,gak boleh gitu bik. Mulai sekarang kalian harus bekerja sama.” kataku.

“Baik nyonya.” kata bik Siti.

“Baik bu.” kata Ajeng.

“Apa-apaan sih nyonya itu,pake jadiin dia sebagai pembantu segala. Lihat saja,kau tidak akan lama disini ajeng.” kata bik Siti dalam hati.

“Bik,anterin Ajeng ke kamarnya ya.” kataku.

“Iya nyonya.” kata bik Siti.
Bik Siti mengantarkan Ajeng ke kamarnya,
“Nih kamar kamu.” bentak bik Siti.

“Walah,bik Siti ini kenapa toh,kok kaya gak suka gitu sama saya?” tanya Ajeng.

“Emang gue gak suka sama loe!!!” kata bik Siti.

“Lha emange kenapa toh?” tanya Ajeng lagi.

“Gak papa,gue pergi dulu.” kata bik Siti sambil pergi meninggalkan kamar Ajeng.

“Lhoh,bik Siti itu ternyata aneh orangnya.” kata Ajeng.

“Menyebalkan.” kata bik Siti sambil berjalan keluar dari kamar itu.
sementara Aku ke kamarku,disana terdapat foto anakku yang ku letakkan di sebuah meja.

Aku berjalan menghampiri foto itu,aku mengambilnya,lalu menatapnya. Air mataku selalu menetes jika melihat wajahnya,wajah lucu itu tak akan pernah bisa Aku lihat lagi.

Waktu umurnya 5 tahun,ia hilang karena diculik seseorang.

Suamiku yang berniat melindunginya malah justru di tembak beberapa kali oleh para penculik itu.

Tembakan itu mengenai bagian dadanya.

Saat itu Aku sungguh bingung,tak tahu harus berbuat apa lagi. Antara mengejar anakku atau membawa suamiku ke rumah sakit.

Dalam kebingunganku itu akhirnya Aku memutuskan untuk membawa suamiku ke rumah sakit,tapi sayang,ia tewas.

Sementara anakku,Aku tak tahu ia ada dimana kini.
Aku menghapus air mataku,
“Akh,kenapa Aku jadi ingat hal itu lagi.” kataku sambil menghapus air mataku.
Lalu,
“Akh…!!!”
Suara teriakan terdengar,dan ku kenal suaru itu. Suara itu adalah suara teriakan bik Siti,entah apa yang terjadi padanya kini.

Aku memutuskan untuk melihatnya.
“Ada apa bik,kok teriak-teriak?” tanyaku.

“Ono opo sih bik kok teriak-teriak ki lho?” tanya Ajeng.

“Ini nyonya,perhiasan saya hilang. Huhuhu…” jawab bik Siti sambil menangis.

“Kok bisa hilang? Mungkin bibik lupa kali.” kataku.

“Gak kok,saya yakin perhiasan itu ada disini. Padahal butuh 6 kali gaji bulanan untuk membeli perhiasan itu… Huhuhu…” kata bik Siti menjelaskan sambil tetap menangis.

“Yang sabar ya bik.” kata Ajeng.

“I…itu apa?” tanya bik Siti sambil menunjuk ke celemek yang Ajeng kenakan.
Lalu bik Siti meraih saku di celemek yang di kenakan dan ia mengeluarkan sesuatu dari sana. Ternyata itu adalah perhiasan bik Siti.

Ajeng kaget dan panik. Bagimana bisa ada perhiasan di celemek yang ia pakai.
“Sa…saya ndak nyuri buk. Sumpah!!!” kata Ajeng.

“Alah,ngaku sajalah. Dasar pencuri!!!” kata bik Siti.

“Saya ndak nyuri bik,sumpah!” kata Ajeng lagi.

“Dasar pencuri!!!” bentak bik Siti.

“Sudah sudah,cukup!!! Aku lelah dan mau istirahat,kalian jangan membuat kegaduhan lagi.” kataku.

“Baik.” kata Ajeng.

“Baik nyonya.” tambah bik Siti.
Karena Aku lelah,Aku sama sekali tak menghiraukan hal ini. Aku tak peduli kalau Ajeng benar pencuri atau bukan,sekarang ini Aku capek dan butuh istirahat.

Aku meninggalkan mereka berdua dan kembali ke kamarku.
suatu malam,
bik Siti diam-diam masuk ke kamarku saat Aku belum pulang waktu itu. ia mengambil sebuah kalung liontin yang Aku letakkan pada sebuah kotak di laci kamarku.

lalu kemudian ia menaruhnya di kamar Ajeng saat ia sudah tertidur pulas.

tentu saja Aku panik ketika Aku tahu kalungku hilang,kalung yang diberikan oleh almarhum suamiku yang hanya ada dua saja. yang di pakai oleh Aku dan anakku,jika ia masih hidup.
“bik…bik!!! bik siti!!!” teriakku.
lalu bik datang kekamarku segera.
“ada apa nyonya?” tanya bik Siti.

“kalung,kalung liontinku hilang bik. cepat cari bik.” kataku.

“ba…baik nyonya.” kata bik Siti.
hampir satu jam lamanya ia mencari namun tak juga ia berhasil menemukan kalung itu.
lalu,
“coba saja cari dikamarnya si Ajeng nyonya. dia juga kemarin kan mencuri perhiasan saya.” kata bik Siti.

“ah,terserah bibik saja. yang penting kalung itu ketemu.” kataku.
dan kamipun menuju ke kamar Ajeng,saat itu Ajeng tengah tertidur pulas.

bik Siti langsung menggeledah seisi kamar Ajeng sampai Ajeng-pun terbangun.
“ini ada apa toh?” tanya Ajeng.

“kalung nyonya hilang,kamu kan yang nyuri.” kata bik Siti dengan judesnya.

“ya ampun,saya di tuduh mencuri lagi.” kata Ajeng.

“diam kamu! sampai ketemu kalung itu ada disini,kamu akan di pecat.” bentak bik Siti.
lalu bik Siti-pun mencarinya lagi.
“ah, ini bukan nyonya?” tanya bik Siti sambil menunjukan sebuah kalung.

“haaaahhh… iya,itu kalungku.” jawabku sambil mengambil kalung itu.

“ta…tapi nyonya,saya itu benar-benar ndak nyuri,itu kalung saya kok.”
dan
“plak!!!”
belum sempat Ajeng berkata-kata tapi sudah ku tampar wajah polosnya itu.
“diam kamu!!! sekarang juga,kamu saya pecat.” bentakku.

“tapi nyonya… saya…” kata Ajeng.

“pergi kamu dari rumah saya,pergi!!!” bentakku lagi.
mukanya menunduk,lalu dia keluar berjalan perlahan dan ia pun keluar dari rumahku.
beberapa jam setelah kejadian itu,
“hihihi…”
Aku mendengar tawa cekikikan seseorang di dapur,Aku tahu betul itu adalah suaranya bik Siti.

Aku menghampirinya karena penasaran pada apa yang sedang ia lakukan malam-malam begini.
“hihihi… akhirnya ia keluar juga,tidak sia-sia aku sampai mencuri kalung nyonya. tapi aku masih penasaran,padahal aku meletakkannya di bawah kasur,tapi kok sekarang ada di tasnya Ajeng ya? apa dia benar-benar punya kalung yang sama? ah sudahlah,yang penting dia sudah dipecat. hihihi…” kata bik Siti sambil cekikikan.

“apa!!!” Aku kaget.

“jangan-jangan anak itu…” kataku dalam hati.

“diakah anakku?” tanyaku dalam hati.
dan bik Siti pun ikut kaget ketika ia tahu Aku ada dibelakangnya.
“eee…nyonya… itu…” kata bik Siti.

“iya,Aku sudah tahu semuanya. kamu jahat sekali bik!” kataku.

“maaf nyonya. habisnya saya gak mau ada pembantu yang lainnya.” kata bik Siti.

“ah,sudahlah. lebih baik kamu kembalikan kalungku yang kamu curi.” kataku.
kamipun menuju ke kamar Ajeng.

bik Siti menggeledah bagian bawah kasur Ajeng,dan disana ia menemukan kalungku.
“ini nyonya.” kata bik Siti.
lalu Aku mengambil kalung yang Aku kantongi dan Aku menyandingkannya dengan kalung dari bik Siti barusan.
“sama!” Aku kaget.

“jadi dia itu… anakku?” kataku.
Air matakupun menetes,bagaimana mungkin Aku bisa menampar dan mengusir anakku sendiri.
“bik,Ajeng itu ternyata… anakku yang hilang.” kataku.

“itu tidak mungkin nyonya.” kata bik Siti.

“tapi itulah kenyataannya bik.” kataku.

“kita harus menemukan Ajeng bik.” kataku.
lalu kami mencari Ajeng,berhari-hari lamanya sampai akhirnya satu minggu kemudian kami menemukan Ajeng. ia ada di sebuah terminal bis,bekerja pada sebuah warung makan disana.

Aku pun menghampirinya,
“Ajeng!” panggilku.
Aku langsung memeluknya.
“lho,nyonya. ini ada apa to kok meluk saya gini.” kata Ajeng.

“maafkan ibu nak.” kataku.

“ibu? nyonya ini ngomong apa tho?” tanya Ajeng.

“kamu itu anakku,kamu adalah anak saya yang hilang dulu.” kataku.

“apa!!!” Ajeng terkejut.
ia melepas pelukanku.
“lihat ini.” kataku.
lalu Aku menunjukan kalungku dan kalungnya.
“sama.” kata Ajeng. 
dan iapun menangis karena terharu.
“paman dan bibik saya memang bilang bahwa kalung itu adalah brang yang mereka temukan ada bersama saya.” kata Ajeng.
Aku memeluknya lagi.
“kamu itu anakku Ajeng,maafkan ibumu bila menyakitimu.” kataku.

“jadi,apakah saya akan dipecat?” tanya bik Siti.

“tidak,karena Ajeng bukan pembantu lagi. dia anakku bik…” jawabku.

“iYesss!!!” teriak bik Siti dengan girangnya.

“maafkan saya nyonya,maaf kalau waktu itu…”

“Yang sudah berlalu itu,harus dilupakan. asal kita mau berubah menjadi lebih baik,semua akan baik-baik saja.” kataku.
lalu kamipun pulang.

diperjalanan Aku terus memeluk Ajeng,anakku.

Selesai.

Advertisements

Author:

Simple&Friendly

12 thoughts on “Diakah Anakku?

      1. Sipp deh kak wkwkk
        Saran kak, ngg.. jadi gimana ya ngomongnya ‘-‘
        Jadi.. itu kak sudut pandangnya agak aneh kak, jadi kan sudut pandangnya orang pertama tuh.. tapi bisa tau si pembantu bik siti? Nyuri kalung diem-diem. Gtu kak wkwk
        Maaf kalau ada kata² yg kurang berkenan wkwkk

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s