Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Masih Adakah Cinta? Part ² : Hari Yang Penting Bagi Ridwan

Umurku kini 35 tahun,dan 15 tahun telah kuhabiskan di penjara.

Hari ini Aku kembali bisa menghirup udara segar,Aku akan memulai hidup baru yang benar.

Sejak Aku di penjara lagi,Aku mulai sadar,Aku mau tahu ternyata selama ini yang kulakukan salah. Balas dendam mungkin hanya akan menimbulkan dendam yang lainnya.

Sejak saat itu pula Aku merasa bersalah dan banyak dosa,Aku harus menebusnya dengan melakukan kebaikan.
Aku mengawali kehidupan normalku dengan menikahi seorang wanita bernama Mawar. Aku dikenalkan pada Mawar oleh seorang teman,tak disangka kami cocok dan nyambung,hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah.

Sudah 2 tahun lamanya kami menikah,namun kami belum juga di karuniai buah hati.
“Maafkan Aku,kau boleh menceraikan Aku bila kau mau. Carilah seseorang yang bisa memberimu keturunan.” kata Mawar pasrah.

“Ngomong apa kamu ini? Aku mencintaimu apa adanya,tak mengharapkan apapun. Dan jika kita dalam suatu masalah besar,yakinlah pasti akan ada jalan keluar.” kataku.

“Terimakasih.” kata Mawar.
Iapun memelukku.
Kamipun memutuskan untuk mengadopsi seorang anak.
Pada suatu pagi Aku dan Mawar pergi ke sebuah panti asuhan,kami berencana mengadopsi seorang anak laki-laki.

Di antara banyaknya anak yang berlarian kesana-kemari,Aku melihat seorang yang berjalan dengan tertatih,ia berjalan menggunakan tongkat.

Hatiku tergerak untuk mengadopsi dia.
“Beb,lihat deh anak itu. Dia berbeda,kakinya sakit,Aku ingin mengadopsinya.” kataku.

“Iya beb,kasihan ya anak itu,yaudah kita adopsi dia saja.” kata Mawar.
Kami mendekati anak itu,kami duduk di sampingnya.
“Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Ridwan.” jawab dia.

“Oh Ridwan. Kaki kamu kenapa? sakit ya?” tanyaku lagi.

“Sakit,dulu Aku kecelakaan.” jawab Ridwan.

“Kamu mau gak kalau kami adopsi?” tanya Mawar.

“Kenapa? Kenapa malah memilihku,sementara banyak anak normal lainnya. Kenapa malah memilih Aku yang cacat ini?” tanya Ridwan.

“Eh… Kamu gak boleh ngomong gitu,kamu seharusnya bersukur karena masih di beri kesehatan oleh tuhan.” kataku.

“Iya,bener tuh kata om,kamu gak boleh mengeluh. Kamu mau ya jadi anak kami,nanti kami janji akan menyembuhkan luka kamu.” kata Mawar.

“Iya,dan pasti sembuh.” tambahku.
Ridwan menjawabnya dengan anggukan,tanda ia setuju.
Sebelum pulang,kami makan malam dulu di sebuah restoran. Saat makan itu Aku sempat bertanya pada Ridwan tentang mimpinya.
“Ridwan,kamu kalau sudah besar nanti mau jadi apa?” tanyaku.

“Aku mau jadi polisi biar bisa nangkap penjahat om.” jawab ridwan.

“Oh polisi,wah hebat. Oh iya,mulai sekarang jangan pangil om lagi,panggil papah aja.” kataku.

“Baik pah.” kata Ridwan.
Setiap hari Aku membawa Ridwan ke dokter untuk menyembuhkan kakinya yang pincang itu,meski butuh waktu lama tapi akhirnya kakinya bisa sembuh.
“Aku sembuh pah,thank u papah.” kata Ridwan sambil memelukku.

“Akh betapa senengnya Aku kau panggil papah. Anakku,papah janji akan membuatmu bahagia.” kataku dalam hati.
Sejak sembuh,Ridwan lebih percaya diri,iapun Aku sekolahkan di sebuah akademi kepolisian. Butuh waktu lama membuat Ridwan lulus sampai mendapat pangkat. Kami dan Ridwanpun harus terpisah jauh karena tempat sekolah Ridwan ada di luar kota.
Dan hari ini,hari yang sangat penting,hari setelah kelulusannya dari akademi kepolisian dan hari pemberian pangkat. Namun sayangnya Aku dan Mawar ada urusan sehingga kami tidak dapat menghadiri upacara kelulusannya. Kami hanya bisa saling memberi kabar melalui pesan singkat saja. Dan batapa senangnya Aku ketika mendengar kabar bahwa namanya kini menjadi -Bripda Ridwan Mukhamad-.
Bel rumahku berbunyi,Aku dan Mawar segera menuju ke pintu masuk.
“Siapa yang datang malam-malam begini ya beb?” tanya Mawar.

“Gak tau beb.” jawabku.
Aku membuka pintu itu,dan disana sudah ada seorang laki-laki bertengger dengan gagahnya memakai seragam polisi lengkap dengan topinya yang semakin membuatnya terlihat gagah. Ia kemudian hormat pada kami seraya berkata “Selamat malam!”.
“Ridwan!!!” teriak Mawar.
Lalu Mawar berlari ke arah Ridwan dan memeluknya.
“Akhirnya kamu pulang,mamah kangen sama kamu,maaf mamah dan papah gak bisa datang,dan mamah bangga sama kamu,bangga sekali.” kata Mawar.

“Terimakasih mah.” kata Ridwan.
Anak itu kini sudah meraih mimpinya,Aku sangat senang dan bangga sampai tak bisa menjelaskannya dengan hal apapun juga.
Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

4 tanggapan untuk “Masih Adakah Cinta? Part ² : Hari Yang Penting Bagi Ridwan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s