Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Masih Adakah Cinta Part ³ : Sebuah Kebenaran

“Pah,kok bengong?” tanya Ridwan.

“Akh gak,papah cuma gak nyangka akhirnya kamu bisa meraih mimpimu.” jawabku.
Lalu Ridwan memelukku dan berkata…
“Semua ini berkat papah,dan juga mamah. Terimakasih untuk semuanya.” kata Ridwan.
Lalu kami berjalan menuju ke ruang makan,disana sudah ada beberapa masakan di meja yang kini tak mengepul lagi.
“Maaf,hanya ada makanan yang sudah dingin.” kata Mawar.

“Akh,gak apa-apa kok mah,itupun sudah cukup.” kata Ridwan tersenyum.
Setelah itu Ridwan makan di temani Aku dan Mawar sambil bercerita tentang hari-harinya menjadi polisi.

Rindu pada buah hatipun terobati sudah,bahkan bercampur perasaan senang dan bangga atas keberhasilannya.
Pada suatu malam,
“Aku pulang.” kata Ridwan sambil membuka pintu masuk.
Lalu,
“Surprise…!!!” Aku,Mawar dan beberapa kawan Ridwan serentak mengakatakannya.
Ridwan masih mengenkan seragam polisinya,mungkin perasaan bahagia menyelimutinya. Terlihat senyum terlukis diwajahnya kini. Tapi senyumnya berbeda,ia hanya menyapa beberapa kawan-kawannya dan berlalu begitu saja. Dimalam yang bahagia ini,ia justru memilih untuk menyendiri di taman di belakang rumah.

Aku mengikutinya,dan Aku tahu ia sedang sedih.

Akupun menghampirinya,Aku duduk disampingnya.
“Kamu kenapa nak? bukankah ini hari bahagiamu?” tanyaku.

“Aku tidak apa-apa kok pah.” kata Ridwan dengan tersenyum.
Senyuman itu,palsu. Dan juga ia berkata tidak apa-apa,tapi kulihat tangannya dengan sigap menghapus  air mata yang hampir menetes.
“Sudahlah,kamu tidak perlu bohong. Kalau ada apa-apa cerita sama papah saja.” kataku.

“Baik pah.” jawabnya.
Ia menghela nafas panjang,lalu mulai bercerita.
“Sebenarnya aku ingat pada orang tua asliku,sudah bertahun-tahun lamanya. Aku rindu pada mereka pah,aku ingin mereka tahu bahwa aku sudah berhasil kini,aku ingin mereka melihatku dan bangga kepadaku. Tapi sayangnya mereka sudah tidak ada.” kata Ridwan,rauk wajahnya sangatlah sedih.

“Mereka pasti bangga padamu,mereka pasti melihatnya dari atas sana,kau jangan bersedih lagi. Ngomong-ngomong kau belum pernah cerita sama papah dan mamah tentang orang tua aslimu…” kataku.

“Maaf pah,aku hanya tidak ingin mengingat mereka lagi,aku hanya tak ingin mengingat kejadian terburuk dalam hidupku itu.” kata Ridwan.

“Cerita saja nak,papah siap mendengarkan.” kataku.

“Ayahku tewas setelah mengalami kecelakaan,mobil yang ia kendarai mengalami rem blong dan akhirnya masuk ke jurang. Sementara dihari yang sama,ibuku tewas bunuh diri di kamarnya. Lalu tentang aku,dulu waktu aku masih kecil,seseorang berusaha membunuhku dengan menabrakku dengan sebuah mobil. Sayangnya ia gagal,aku memang tertabrak dan luka parah,namun aku belum mati,aku hanya koma.” kata Ridwan dengan wajah terlihat semakin sedih.

“Siapa nama ibumu?” tanyaku.

“Angelina Irawati.” jawab Ridwan.

“Akh…!!!” Aku terkejut,saat itu juga dadaku terasa sakit.

“Apakah itu dia?” tanyaku dalam hati.

“Papah kenapa?” tanya Ridwan.

“Gak apa-apa,apa nama marga ibumu?” tanyaku lagi.

“Hermawan.” jawab Ridwan.

“Akh!!!” lagi-lagi dadaku sakit,kali ini lebih sakit lagi dari sebelumnya.
Betapa terkejutnya Aku ketika mendengar cerita Ridwan tadi,Angelina Irawati Hermawan adalah orang yang kubunuh,sementara itu Aku merekayasa hal yang terjadi pada suaminya agar terlihat seperti kecelakaan padahal Akulah yang melakukannya. Lalu tentang Ridwan sendiri,Akulah yang menabranya sampai ia koma.

Aku binggung apa yang harus Aku lakukan,apa Aku harus jujur saja atau apa.
“Papah kenapa? kita kerumah sakit ya.” kata Ridwan.

“Gak,gak usah.” kataku.
Aku memeluk Ridwan erat,ia terkejut atas perlakuanku yang tiba-tiba.
“Sebenarnya,akulah orang yang telah menabrakmu sampai kau koma.” kataku.
Ridwan yang kupeluk melepaskan pelukannya.
“Maksud papah apa?” tanya Ridwan.

“Papahlah yang menghancurkan hidupmu,Papah menabrakmu sampai kau koma,papah juga menyebabkan ayahmu kecelakaan,sebenarnya papahlah yang membuat ayahmu kecelakaan hingga ia tewas.” kataku.

“Apa!!!” kata Ridwan.
Ridwan mulai menjauhiku.
“Dan juga ibumu,Angelina Irawati Hermawan. Dia adalah penyebab dari semuanya,dia adalah orang yang sangat Aku cintai,namun malah menghinatiku. Ia menuduhku telah memperkosanya sehingga Aku dipenjara,ayahku yang bekerja keras demi bisa membebaskanku malah meninggal karena sakit,iaterlalu berusaha keras. Maafkan Aku nak,maaf. Papah menyesal.” kataku.

“Diam kau! Kau tak pantas meminta maaf,kau manusia yang kejam.” bentak Ridwan.
Air matanya mengalir deras,kemarahannya memuncak. Ia meraih pistol lalu mengarahkannya kepadaku.
“Bunuh saja papah bila itu bisa membalaskan dendammu. Dendam membuat kita bertemu dengan kebencian. Ini salah papah,bunuh saja papah.” kataku pasrah.

“Hentikan!!!” teriak Mawar.
Mawar berlari ke arah kami.
“Ada apa ini? Ridwan,apa yang kau lakukan? Ada apa sebenarnya ini.” tanya Mawar.

“Akh…” Aku merasakan sakit lagi didadaku,kali ini sangat sakit.

“Beb,kamu kenapa? Beb?” tanya Mawar,ia memelukku.
Penglihatanku memudar,lalu semuanya perlahan gelap.
Ketika Aku bangun,Aku sudah ada di kamar rumah sakit.
“Beb,kamu sudah bangun?” tanya Mawar.

“Ridwan mana mah?” tanyaku.

“Ada.” jawab Mawar.
Mawar lalu keluar bergantian dengan Ridwan yang masuk kemudian,ia menundukan wajahnya.
“Nak,maafkan papah.” kataku.

“Tidak pah,aku yang salah. Tak seharusnya Aku melakukan hal semacam itu pada papah. Maaf pah.” kata Ridwan.

“Ya sudah,syukurlah bila begitu,tegakkan badanmu. Seorang polisi tak seharusnya menundukan badan seperti itu.” kataku.

“Iya pah.” ia tersenyum.

“Tapi maaf pah,kebenaran tetap harus ditegakkan.” kata Ridwan.

“Papah mengerti.” kataku.
Setelah Aku sembuh,Aku bertemu dengan penjara lagi untuk mempertanggungkan perbuatanku.
Bertahun-tahun lamanya,kali ini kurasakan lebih lama lagi dari saat sebelumnya.

Aku medengar bahwa Ridwan akan menikah,sayangnya Aku tidak di perbolehkan menghadiri pernikahan itu.
15 tahun lamanya,dan hari ini Aku bebas.

Aku menunggu kedatangan Mawar dan Ridwan menjemputku. Berjam-jam lamanya Aku menunggu,Aku gelisah,Aku takut mereka tak akan datang.
“Apakah mereka akan datang? Masih adakah cinta? masihkah Aku mereka ingat? Apakah mereka telah melupakanku?” Aku bertanya-tanya dalam hati.
Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu terjawabkan sudah,Aku di jemput oleh keluargaku,Mawar yang dengan rambut putihnya namun tetap cantik. Ada juga Ridwan yang kini semakin gagah dengan masih memakai seragam polisinya dan mengandeng tangan seorang wanita berparas cantik.

Dan juga seorang anak yang berlari ke arahku dan memelukku.
“Kakek.” panggil anak itu.

“Kakek?” tanyaku.

“Itu adalah cucu kita beb.” kata Mawar.
Akupun tersenyum,dan semuanya tersenyum.

Ridwan berhati besar,dia memaafkanku setelah semua yang telah kulakukan.
Selesai.

Mau cerita dikit nih… hehe😁

Jadi yang bagian pertama dari cerpen ini itu berdasarkan kisah nyata. Salah satu teman saya bernama irfan,dia di jebak oleh pacarnya sendiri lalu di penjara 10 tahun.

Dan sampai sekarang dia masih di penjara. Sungguh kasihan,mengingat ia adalah orang yang baik hati pada semua orang.

Saya berharap semoga kebenaran bisa terungkap,dan teman saya bisa bebas.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

14 tanggapan untuk “Masih Adakah Cinta Part ³ : Sebuah Kebenaran

  1. Terbawa suasana saya.. Hihi,,,orang baik tidak selamanya bernasib mujur, itu ujian baginya. Mudah2n teman anda saat keluar nanti tidak melakukan seperti apa yang ada dalam cerpen ini. Dendam tidak menyelesaikan masalah.. 👍👍

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wah, ternyata si aku dipenjara krn itu ya… sebuah kbnran terungkap.

    Keren konfliknya.

    Mf, yg part 1 blm sy bca…😂😂
    Sinyal wi-fi di Kinipan pas lg gangguan luar biasa, jd gak bs BW dg leluasa.

    Suka

  3. Haii.. maaf ya baru sempet menuhin janji. Masih inget aku kan? 😁
    Tanggapanku soal ini & karya2 kmu yg lain:
    +) Ide cerita menarik
    +) Alur lumayan rapi
    -) Jalan cerita mudah ketebak
    -) Tata cara penulisan amat berantakan
    -) Penjiwaan kurang
    Saran:
    1. Banyak baca karya orang lain (recomendasi: wattpad. Ada byk bgt karya bagus di sana yg akhirnya diterbitkan jdi buku)
    2. Perhatikan cara penulisan fiksi (beli buku fiksi aja, atau bisa juga buku tentang tata cara menulis)
    3. Banyak belajar sastra lagi
    Kalo cuma sekedar nulis, iseng2, dll.. menurutku ga perlu perhatikan kritik dan saranku.
    Tp kalo pengen berusaha jadi lebih baik lagi dan selalu belajar, silahkan dipake sarannya.
    Sekian 😊

    Suka

    1. Waduh… banyak banget ya kesalahannya😅
      Iya,sebenarnya saya memang hanya iseng. Tapi saya mau belajar jadi lebih baik kok. Dan soal penulisan,saya memang sedang belajar,dan itu sulit sekali.😢

      Suka

      1. Iya,makasih.
        Ya,benar. Dee.
        Lagi baca yang Perahu Kertas,sebenarnya pengen baca Embun Pagi,tapi disini tidak ada toko buku…😂 Akh,jadinya baca yg sudah dibaca deh…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s