Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

Rindu Masakan Bunda


Sore itu setelah menerima daging dari seorang panitia pembagian daging qurban,bunda langsung memasaknya. Masakan andalannya adalah Rendang.

Harum sekali aromanya ketika bunda mulai memasukan bumbu-bumbu. Bahkan aromanya tercium sampai kamar Lala. Beberapa saat lamanya aroma harum itu tercium sampai akhirnya berubah menjadi aroma gosong yang menyengat.
“Kok jadi gini baunya?” pikir Lala.
Lala menuju ke dapur untuk mengecek bau gosong itu. Lala terkejut,bundanya sudah tergeletak dilantai. Dan bau gosong itu ternyata dari bumbu yang terlalu lama dibiarkan,Lalapun segera mematikannya. Kemudian ia mencoba membangunkan Bundanya,tapi bundanya tak jua bangun.

Lala binggung,entah mau meminta bantuan kepada siapa. Ayahnya masih ada di kantor saat ini,sementara pembantunya sedang cuti karena hari ini adalah hari idul adha. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak perempuan yang bahkan belum genap berusia 8 tahun?

Akhinya ia menelpon ayahnya.
“Halo yah,bunda yah,bunda pingsan.” kata Lala.

“Apa! Tapi ayah gak bisa pulang sekarang. Ayah akan menelpon ambulance ya,nanti kamu bawa bunda ke rumah sakit. Trus kalau ayah sudah selesai,ayah akan nyusul ke rumah sakit.” kata ayah.

“Baik yah.” kata Lala.
Beberapa saat kemudian,ambulancepun datang. Lalu dibawalah bundanya Lala ke rumah sakit. Setelah itu dia dimasukkan ke ruang ugd. Sementara Lala menunggu diluar dengan perasaan cemas.

Setelah beberapa saat,akhirnya dokterpun keluar dan menghampiri Lala.
“Maaf nak,ibu kamu sudah pergi. Dia terkena serangan jantung.” kata dokter.

“Pergi? Maksudnya dok?” tanya Lala.

“Maksudnya ibu kamu sudah meninggal.” jawab dokter,sebenarnya ia tak tega mengatakannya.

“Meninggal?” tanya Lala lagi.

“Iya.” jawab dokter.
Lala syok,tubuhnya lemas,kesadarannya mulai pudar,dan ia pingsan.
“Nak,nak?” panggil dokter itu.
Namun Lala tak dapat mendengarnya.
Beberapa hari kemudian,Lala bangun,dan disampingnya sudah ada ayahnya yang tertidur.
“Yah,yah…?” panggil Lala lirih.

“Hmmm…” jawab ayahnya namun belum usai dari tidurnya.

“Yah!!!” panggil Lala lebih keras.

“Iya!” jawab ayahnya,kali ini ia membuka matanya karena terkejut.

“Kamu sudah bangun,syukurlah…” kata ayah.

“Bunda mana yah…? tanya Lala.

“Bunda sudah pergi nak,dia pergi ke surga.” jawab ayahnya tersenyum.

“Surga itu apa yah?” tanya Lala lagi.

“Surga itu adalah suatu tempat yang indah,dimana hanya orang baik yang ada disana. Bunda adalah orang yang baik,jadi dia pasti akan ada di surga.” jawabnya lagi.
Anak itu masih polos dan belum tahu apa-apa. Meski begitu,ia tahu tentang kematian. Baginya kata “meninggal” lebih menyeramkan dari kata “pergi”.
Setelah itu,mereka pulang. Para pembantu dengan ramah menyambut mereka.

Tak hanya itu,di meja juga sudah ada beberapa makanan khas idul adha. Ada juga rendang,makanan favourit di keluarga ini.
“Wah…lihat itu,ada rendang. Mari kita makan.” kata ayah sambil menunjuk ke arah meja makan.
Mereka berjalan kesana dan langsung menyantapnya.

Ketika mencicipi rendang itu,sang ayah sempat terdiam sejenak.
“Kenapa pak? tidak enak ya?” tanya pembantunya.

“Nggak,nggak apa-apa kok. Enak,ini enak.” jawab ayah.
Pastinya tak akan ada yang bisa menandingi masakan dari istrinya.

Meski begitu ia bersyukur masih bisa berkumpul dengan anaknya di suasana idul adha ini.
Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s