Diposkan pada Cerpen

Mimpi 1M

PhotoGrid_1505643345074

 

Jam dinding menujukan pukul 01:00 dini hari. Akan tetapi Restu masih juga terjaga,malam ini dia tidak bisa tidur,dia masih teringat dengan kata-kata temannya tadi siang.

 

❇❇❇

 

Siang itu…

 

Restu dan dan kedua temannya mengadakan reuni setelah selama ini saling sibuk.

Restu yang duduk di sebuah meja cafe nomor 12 itu di buat terkejut saat di hampiri oleh dua orang anggota polisi.

 

“Selamat siang mas?” tanya polisi itu.

“Iya siang,ada apa ya pak?” tanya Restu.

“Anda saya tangkap,mari ikut saya ke kantor polisi.” jawab polisi itu.

“Tapi salah saya apa pak?” tanya Restu,dan dia mulai panik.

 

Beberapa menit lamanya suasana menjadi hening,kedua polisi itu juga malah terus saja terdiam seolah telah berubah menjadi patung.

Hingga akhirnya,terdengar mereka tertawa cukup keras.

 

“Hahaha… hahaha…”

 

Suaranya terdengar bahkan sampai ke bagian ujung cafe. Tak luput dari semua itu,semua orang memperhatikan kedua polisi tersebut.

 

“Kok malah ketawa pak?” tanya Restu lagi.

“Ini gue Rizal.” kata polisi di sebelah kanan.

“Dan ini gue Reihan.” kata polisi di sebelah kiri.

 

Reihan dan Rizal yang sekarang itu sangatlah berbeda dengan yang dulu. Jika dulu badan mereka sama-sama kurus dan seperti mau terbawa angin,kini badan itu menjadi tegap berisi,perawakan merekapun gagah. Tak hanya itu,mereka juga di anugrahi wajah yang tampan. Dulu,mereka hanyalah anak ingusan yang udik dan polos yang pastinya tidak tahu apa-apa.

Di tambah lagi dengan seragam itu membuat mereka menjadi semakin gagah dan tampan. Restu tak akan pernah tahu mereka adalah sahabatnya jika mereka tak memberitahu Restu.

 

“Rizal! Reihan! Astaga!!! jadi kalian ini sudah…” kata Restu.

“Iya,kita sudah meraih mimpi kita.” kata Rizal.

“Wah,selamat ya? gak nyangka eui,kalian sudah jadi polisi.” Ucap Restu sambil menjabat tangan mereka.

 

Restu sangat senang karena kedua sahabatnya kini telah meraih mimpi-mimpinya,disisi lain dia sedih melihat dirinya sendiri yang masih tetap sama belum menjadi apa-apa.

 

“Ini semua berkat loe juga kok Res.” kata Reihan.

“Lhoh,kok bisa?” tanya Restu.

“Iya karena loe lah yang menginspirasi kita.” jawab Reihan.

 

Lalu mereka mengigat masa lalu mereka…

Ketika mereka masih kecil,mereka saling membicarakan tentang mimpi mereka masing-masing.

 

“Suatu hari Aku pasti jadi penulis yang terkenal. Guru,dokter,banyak deh pokoknya. Aku pasti bisa meraihnya.” kata Restu.

“Kalau aku,bisa gak ya jadi polisi?” tanya Reihan.

“Aku juga pengen jadi polisi,tapi gak yakin.” kata Rizal.

“Hey,kalian gak boleh gitu. Harus yakin dong kalau punya mimpi,kejar mimpi itu dan raih. Kalian tahu,jarak kita dan mimpi mungkin hanya 1M saja. Mimpi ada tepat didepan kita,maju selangkah saja lalu kita akan dapat meraihnya. Tapi maju selangkah menuju mimpi itu tidak mudah,harus berusaha keras agar kita bisa melakukannya. Aku percaya kita pasti bisa meraih mimpi-mimpi kita.” kata Restu.

 

Sambil menikmati kopi,mereka saling bercengkerama. Berbicara melepaskan kerinduan sekumpulan sahabat yang sudah lama tidak bersama.

 

“Oh…jadi kata-kata itu.” kata Restu.

“Gimana res,loe udah jadi penulis?” tanya Rizal.

“Belum.” jawab Restu.

“Dokter?” tanya Reihan.

“Belum juga.” jawab Restu.

“Guru?” tanya Rizal lagi.

Restu menggelengkan kepalanya.

“Kok bisa res? bukannya dulu loe udah mulai nulis novel ya?” tanya Reihan.

“Iya sih,tapi belum selesai.” jawab Restu.

“Bagaimana bisa novelku terbit,bila cerpen yang kukirim ke media koran saja tidak dicetak. Malah dikritik super pedas oleh seorang editor koran tersebut.” kata Restu dalam hati.

 

Setelah itu merekapun berpisah. Restu mengantar mereka sampau ke parkiran,terlihat Rizal dan Reihan menaiki sebuah mobil sport mewah.

Restu yang melihatnya hanya tersenyum,ia sangat bangga pada pencapaian kedua sahabatnya itu.

Dengan tetap mengemudi Reihan terlihat hormat kepada Restu saat mereka melintas di depan Restu,disambut dengan senyum manis dari Restu.

 

❇❇❇

 

Restu menarik selimut lalu mulai memejamkan mata.

 

“Aku juga harus bisa menjadi seperti mereka. Aku juga pasti bisa meraih cita-citaku.” kata Restu dalam hati.

 

Selesai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Mimpi 1M

    1. Harus dong itu mah. Tapi sayangnya di lingkungan saya tidak ada yang memikirkan tentang mimpi/cita-cita,yang mereka utamakan adalah pekerjaan yang menghasilkan uang.😢

      Memangnya mas shiq ini umurnya berapa sekarang? Gakpapa dikejar aja terus,mari sama-sama mengejar mimpi😁😁😁

      Suka

      1. Ya baru 28-tahun ha ha ha… artinya baru punya impian belakangan ini saja. Soalnya untuk pertama kalinya saya merasa menulis adalah passion saya. Pinginnya bisa nulis buku. Makannya saya rajin berlatih menulis. 😀

        Suka

  1. Halo Aris. Asyik nih, cerita dan ‘flow’-nya lumayan. Oya, karena di bagian ‘Note’ kamu bilang minta input, ini sedikit sumbang saran saja (bukan koreksi), OK?
    KETERANGAN
    (+) menjelaskan (mis: kurus)
    (-) cuma bikin kacau (mis: mobil sport mewah)
    Maksudnya, sebuah keterangan bisa kita anggap OK (+) kalau itu menjelaskan, dan bisa kita bilang tidak OK (-) kalau itu cuma bikin kacau.
    Soal ‘kurus’ itu bagus, karena menjelaskan kenapa Restu sampai tidak mengenali mereka sekarang. Tapi soal ‘mobil sport mewah’ kebilang blunder karena jelas cuma bikin kacau (polisi berseragam ke mana-mana naik mobil sport mewah?)
    OK Aris, semangat terus nulisnya ya! 🍸

    Suka

    1. Ok,terimakasih. Sangat bermanfaat sekali.
      Oh iya… Terkadang saya ingin belajar tentang penulisan,tapi saya selalu ingat tujuan awal bahwa saya hanyalah iseng saja. Tapi saya pasti belajar🙏😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s