Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen

Korban

Aji berjalan ke arah Ririn dengan membawa sebuah kotak kado yang ia sembunyikan di balik badannya.
“Ini buat kamu… selamat ulang tahun, rin.” kata Aji seraya memberikan kotak kado itu.

“Apa ini?” tanya Ririn.

“Buka aja.” jawab Aji.
Ririn pun membuka kotak itu. Namun, bukannya senang karena telah di beri kado, ia malah membuangnya di hadapan Aji.
“Apa ini? boneka? murahan lagi!” kata Ririn sambil marah-marah.

“Tapi rin, ini…”

“Aku gak mau terima kado murahan seperti itu.”

“Lihat ini… cincin, di kasih sama Gilang.” kata Ririn sambil menunjukan cincin itu pada Aji.

“Tapi rin, gilang itu kan…”

“Apa? kamu mau bilang lagi kalau Gilang itu playboy? akh, sudah! aku mau pergi, sia-sia aja aku nemuin kamu hari ini. Ternata cuma mau ngasih kado murahan seperti itu.” kata Ririn.
Setelah itu, Ririn pun pergi meninggalkan Aji sendirian.

Sahabatnya itu kini telah berubah, berubah menjadi orang yang bahkan tak Aji kenal. Ia menjadi seperti itu sejak mengenal Gilang, sejak menjadi pacar Gilang.

Aji kemudian memungut boneka yang dibuang Ririn tersebut, ia menatap boneka itu.
“Memangnya apa yang salah dengan aku? apa yang salah dengan kamu? apa yang salah dengan kita?” tanya Aji.

“Padahal waktu itu…”
Aji teringat pada beberapa hari yang lalu, ketika ia memutuskan untuk lembur beberapa hari demi untuk bisa membelikan Ririn hadiah.

Dan tak pernah ia sangka bahwa pengorbanannya akan di sia-siakan begitu saja.
Suatu hari, Aji melihat Gilang duduk berdua dengan seorang perempuan. Akan tetapi, perempuan itu bukanlah Ririn.

Gilang terlihat mesra dengan perempuan tersebut, lebih mesra dari perlakuannya kepada Ririn.

Aji marah melihat kejadian itu, ia emosi. Ia lalu menghampiri Gilang dan saat itu pula seketika ia memukul Gilang dengan keras.
“Woi!!! gila loe ya!!!” teriak Gilang.

“Loe yang gila. Loe tu udah punya pacar, ngapain loe sama cewek ini?” tanya Aji.

“Ya terserah gue mau sama siapapun juga kek, loe gak usah ikut campur.” jawab Gilang.

“Dan satu lagi, loe gak usah sok jagoan…” kata Gilang sambil melontarkan kepalan tangan itu ke arah Aji.
Aji mendapat pukulan berulang kali, sampai wajahnya babak belur dan keluar darah dari mulutnya. Setelah itu, Gilang berlalu begitu saja bersama perempuan itu tanpa mempedulikan Aji yang terkapar di lantai saat ini.
Ternyata dari jauh Ririn menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi. Termasuk saat Gilang mengandeng tangan perempuan lain.

Ia kemudian berlari ke arah Aji, dan dengan bantuan orang-orang disana, Aji pun akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, ia menatap wajah Aji yang penuh dengan luka itu.
“Ternyata kamu bener ji, Gilang bukan cowok yang baik.” kata Ririn dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit, Aji langsung diperiksa. Dan beberapa jam kemudian Aji sudah bisa dijenguk.
“Ya ampun ji, kenapa loe sampai sejauh ini?” tanya Ririn.
Karena terharu, tak terasa air matapun mengalir.
“Rin… aku sayang kamu.” ucap Aji lirih setengah sadar.
Ririn terkejut mendengarnya, ternyata selama ini Aji menyimpan rasa untuknya.
“Ternyata selama ini aku gak peka ya ji?” tanya Ririn dalam hati.
Lalu, saat itu handphone Aji berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk disana dan Ririn pun mengangkatnya.
“Halo ji! loe dimana? kok belum berangkat?” tanya seseorang lelaki di balik telefon itu.

“Halo! ini saya Ririn, temannya Aji. Aji sedang ada di rumah sakit, dia sedang sakit saat ini.” kata Ririn.

“Apa! sakit? pasti karena lembur selama beberapa hari ini deh…” kata lelaki itu.

“Jadi, Aji lembur mas?” tanya Ririn.

“Iya, katanya dia lagi butuh uang untuk membelikan kado boneka seseorang.” jawab lelaki itu.
Handphone itu terlepas dari genggaman Ririn, dan Ririn berlari menuju ke arah Aji. Saat itu pula Ririn memeluk Aji.
“Maaf ji, maafin aku.” ucap Ririn sambil terisak.


“Terkadang kita tak sadar bahwa di sekitar kita ada(banyak) yang menyayangi dan mencintai kita dengan tulus.”
Selesai.
Maaf bila jarang pos, saya sedang membaca beberapa komik yang saya beli di bookfest di Temanggung beberapa hari yang lalu. Dan juga, saya sedang belajar menulis puisi hehe😁😁😁 Yah, begitulah. Saya ingin bisa semuanya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Korban

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s