Diposkan pada Cerpen, Love

Happy 6th Anniversary

PhotoGrid_1509101571275

Malam itu…

Puspa terbangun ketika ia sadar bahwa suaminya tak berada disampingnya. Suami Puspa sedang ada diluar, menerima telepon dari seseorang. Diam-diam, puspa menguping pembicaraan suaminya dengan seseorang ditelepon tersebut melalui pintu kamarnya.

“Iya… kamu atur semuanya, pokonya aku serahkan sama kamu ya nis. Kamu memang selalu baik sama aku, selalu pengertian. Makasih ya, aku bahagia punya kamu.”

Meski samar, tapi Puspa dapat mendengarnya.

“Reihan bicara sama siapa sih?” tanya Puspa dalam hati.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah mendekati pintu. Puspa bergegas pergi dari sana lalu kembali ke tempat tidur serta menutupi tubuhnya dengan selimut dan menutup matanya. Reihan pun kemudian masuk. Ia sempat mencium kening Puspa sebelum ia kembali tidur, ia juga berbisik lirih “I Love U”.

Ke esokan harinya…

Suara bising yang asalnya dari handphone Reihan membuat Puspa terbangun dari tidurnya. Handphone ini ditinggal oleh pemiliknya di kamar. Puspa melihat handphone itu, disana tertulis sebuah nama panggilan masuk ‘Niswa’.

“Niswa? bukannya dia itu adalah mantan Reihan? jadi mereka masih berhubungan?” tanya Puspa.

Karena kesal, Puspa pun membiarkan panggilan masuk tersebut. Selang beberapa saat, ada sebuah pesan masuk. Puspa sempat melihatnya walau sebentar, disana tertulis ”Han, nanti kita ketemuannya di top cafe ya. Jam 16:00 ya, jangan sampai lupa lhoh…”.

Di meja makan…

Reihan senyam-senyum sendiri saat melihat pesan yang ada di handphonenya.

“Sms dari siapa? kelihatannya seneng banget, sampai senyum-senyum gitu.” kata Puspa.
“Akh gak, bukan dari siapa-siapa kok.” kata Reihan.
“Heh! dasar pembual! kita lihat saja nanti, top cafe jam 4 sore, aku juga akan datang.” kata Puspa dalam hati.
“Pah, nanti kalau pulang bawain Andre mainan ya…” kata Andre.
“Iya sayang, kamu mau mainan apa? mobil atau pesawat? tanya Reihan.
“Mobil aja pah.” jawab Andre.
“Nanti papah bawain ya, sekarang papah berangkat kerja dulu.” kata Reihan sambil mencium kening Andre.

Hari berlalu dengan begitu cepat, dan sore pun telah tiba. Puspa sudah ada di top cafe sejak 1 jam yang lalu, berdandan dengan sedikit agak aneh, membuat siapapun yang mengenalnya tak akan tahu bahwa itu adalah dia. Meski begitu, belum ada tanda-tanda kehadiran Niswa atau Reihan suaminya.

“Mana mereka?” tanya Puspa.

Tak lama kemudian akhirnya Niswa datang bersama dengan Reihan. Lalu mereka duduk di meja bernomor ’12’.

“Kita makan dulu kali ya, laper nih.” kata Reihan.
“Sama han, aku juga.” kata Niswa.

Mereka pun memesan makanan dan memilih untuk makan sebelum akhirnya membicarakan rencana mereka. Ketika selesai makan, terlihat di bibir Niswa terdapat sisa makanan. Reihan mengusapnya dengan sebuah tisu.

“Makasih han.” kata Niswa.

Reihan hanya tersenyum. Sementara itu, Puspa yang sedari tadi mengamati di buat geram dengan adengan romantis mereka.

“Jadi, mana yang aku pesan?” tanya Reihan.
“Bentar han, aku cari dulu.” kata Niswa sambil mengorek isi tasnya.

Tiba-tiba Puspa datang dan seketika langsung menarik Niswa dan menamparnya keras.

“Kamu ini ya, Reihan itu udah punya anak istri, masih aja kamu deketin.” bentak Puspa.

Niswa menatap wajah orang yang menamparnya tersebut, dan ia mengenal orang itu.

“Puspa… aku bisa jelasin, ini semua gak seperti yang kamu lihat.” kata Niswa.
“Iya sayang, kamu jangan gegabah.” Reihan menambahkan.
“Akh… diam kalian! aku sudah tahu, aku melihatnya. Ternyata selama ini kalian masih saling berhubungan, ternyata kalian masih saling cinta.” bentak Puspa.
“Reihan! kamu itu sudah punya istri, punya anak pula.” kata Puspa sambil menangis.

Reihan memeluk Puspa dan mencoba menenangkannya.

“Aku tahu itu.” bisik Reihan.
“Nis, tolong tunjukan pada Puspa.” kata Reihan.

Niswa kembali mengorek tasnya, mencari sebuah benda yang di pesan oleh Reihan.

“Ini han.” kata Niswa sambil memberikan sebuah kalung yang bertuliskan nama ‘puspa’.

Reihan melepas pelukannya dan menunjukan kalung bertuliskan nama istrinya itu pada puspa.

“Ini apa?” tanya Puspa.
“Ini adalah kado buat kamu, Happy 6th Anniversary…” kata Reihan tersenyum.
“Jadi…”
“Iya sayang. Jadi aku pesen ini sama Niswa, kebetulan dia punya toko emas yang terkanal bagus. Memang sih… kita dulu pernah pacaran, tapi percayalah itu hanya masa lalu, mas depan adalah kamu dan Andre.” kata Reihan lagi.

Puspa memeluk erat Reihan, kemudian melihat pada Niswa dan memeluk Niswa.

“Maafin aku ya, nis. Aku benar-benar gak tahu.” kata Puspa.
“Iya, gakpapa kok. Aku ngerti.” kata Niswa.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s