Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Love, Novel, Tak Berkategori

Bintang Part 2 : Dilanda Dilema


Cahaya mentari masuk melalui jendela rumah itu, dingin yang sedari tadi ia rasakan, kini semakin menjadi. Adit terbangun dari tidurnya dan tersadar bahwa ia telanjang bulat saat ini. Ia setengah mengingingat kejadian tadi malam.

Di pakailah kemeja dan celana Adit, lalu ia mencari Mirna. Mirna di dinding dekat pintu masuk, kakinya ia peluk. Ia terisak bukan main saat tersadar apa yang telah di lakukan dengan Adit tadi malam. Air mata tak henti mengalir  dari matanya. Sampai pada akhirnya datanglah Adit yang menepuk pundaknya.
“Kamu tenang aja Mir, aku pasti tanggung jawab.” kata Adit mantap.
Mendengar kata itu air mata Mirna justru semakin mengalir dengan derasnya. Ia teringat pada kejadian beberapa hari lalu di kantornya, saat tak sengaja seorang karyawan menabrak seorang perempuan cantik.
“Maaf Mbak, saya gak sengaja.” kata karyawan itu.

“Ok, gak apa-apa kok.” kata dia ramah.

“Btw, Mbak ini karyawan baru ya? saya belum pernah liat.” tanya karyawan itu.

“Perkenalkan, nama saya Gina, calon tunangannya Adit.” kata Gina dengan senyum lebar.

“Wah, calon bos. Maaf banget ya, mbak. Sekali lagi…” kata karyawan itu sembari menjabat tangan Gina.
Gina pun kembali tersenyum.
                            ⭐⭐⭐
Tak seperti biasanya, Mirna kini lebih sering terlihat murung dan sedih. Dalam hatinya ada rasa takut, ia takut bila ia akan hamil.

Icha, teman sekantornya menghampiri Mirna.
“Mir, nanti pulang kantor kamu kemana? ada acara gak? kita jalan yuk!” kata Icha.
Mirna hanya terdiam, seolah tiada orang yang mengajaknya bicara.
“Mir!?” panggil Icha sembari menepuk pundak Mirna.
Mirna pun tersadar dari lamunannya,
“Eh! kamu Cha, ada apa?” tanya Mirna.

“Mir, kamu gak biasanya kaya gini, kamu kenapa? sakit?” Icha justru balik bertanya.

“Nggak kok…” jawab Mirna.
Baru saja Mirna mengatakan bahwa ia baik-baik saja, akan tetapi kini tubuhnya bergetar hebat, ada sesuatu dari perutnya yang memaksa keluar. Mirna berlari menuju ke kamar mandi di susul dengan Icha yang mengikutinya.

Di kamar mandi Ia langsung muntah-muntah.
“Mir, kamu masuk angin ya?” tanya Icha.

“Gak tau nih.” jawab Mirna.

“Atau…”

“Kamu hamil ya!”
Entah kenapa Mirna tak asing mendengar kata itu, jantungnya berdegub kencang tak beraturan, perasaan takut itu kini kembali menyelimutinya.
                           ⭐⭐⭐
Sebelum semua orang di kantor pulang, Adit sempat memberikan sebuah pengumuman pada mereka.

Saat itu Adit meraih tangan Mirna lalu membawanya ke depan.
“Kami akan bertunangan. Secepatnya.” kata Adit.
Semua orang di sana tercengang mendengarnya, diam antara banyaknya gadis cantik yang mengaguminya, mengapa Adit bisa memilih Mirna yang hanya bawahannya? pikir mereka. sunyi sempat menghiasi atmosfer kantor saat itu walau sesaat. Sampai pada akhirnya, suara tepuk tangan memecah kesunyian itu.

Lalu semua orang bergantian memberi selamat pada keduanya.

Hingga perhatian mereka tersita pada bunyi sesuatu yang jatuh. Di belakang sana, seseorang menjatuhkan cangkir berisi teh panasnya.
“Gina.” kata Mirna dalam hati.
Ia terkejut mendengar pernyataan Adit yang barusan. Tak kuasa, air matanya pun mengalir.

Gina pun berlalu begitu saja, membawa kesedihan yang tak tertahankan lagi.

Mirna merasa bersalah atas ini semua, saat ini ia tengah dilanda dilema. Antara senang karena Adit mau nenikahinya dan sakit melihat seseorang kehilangan orang yang paling di cintainya memilih orang lain.
Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s