Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen

Wanita Pencari Kesempurnaan

 

Bakhri duduk di meja makan, hendak sarapan. Ia membuka tudung saji itu dan ternyata hanya ada nasi putih saja. Bahkan tempe goreng favoritnya yang murah pun tiada tersaji disana.

Bakhri melihat ke arah Wulan yang tengah sibuk bermain handphone saat ini.
“Lauknya mana, Neng?” tanya Bakhri.

“Gak ada. Kamu makan apa adanya aja, uang yang kamu kasih gak cukup buat beli lauk.” jawab Wulan.

“Tapi kan, aku kasih kamu lima ratus ribu!” protes Bakhri.

“Uang terakhir yang aku punya.” tambahnya dalam hati.

“Bahkan uang segitu gak cukup buat beli make up. Gak bisa bikin aku bahagia.” kata Wulan.

“Kalau gak cakep aja, lu pasti udah gue buang, Bakhri.” batin Wulan.
Hati Bakhri tersentak, bagai di serang sesuatu yang tak dapat ia hindari.

Akhirnya sarapan pagi itu ia nikmati dengan hanya makan nasi putih saja.

Sementara itu Wulan pergi menjauh dan berbicara dengan seseorang melalui telepon.
“Gue gak bisa, Nit. Dia itu cakep banget”

“Ya elah! Yang kaya gitu mah, cerai’in aja. Wulan, lelaki yang cuma cakep doang, itu gak cukup. Harus cakep dan tajir. Harus sempurna. Lagian lu juga hidup sama laki yang cakep apa lu bahagia? Kagak pan? Rumah juga, lu yang punya. Apa-apa lu yang sedia’in, bukan laki lu.”

“Dulu lu udah gua kasih tahu gak dengerin sih, sekarang tanggung sendiri akibatnya.” tambah Nita.

“Nita, bener juga.” batin Wulan.

“Gua pikirin dah, Nit. Makasih ye!” kata Wulan.
Sambungan telepon itu pun berakhir, dan Wulan masih belum tahu kepututusan apa yang akan ia ambil.
❇❇❇
Sore harinya…
“Assalamu’alaikum?” Bakhri memgetuk pintu.

“Wa’alaikumsalam.” jawab Wulan.
Bakhri membuka pintu itu, nampak wajahnya penuh akan peluh karena seharian ini ia berkeliling mencari pekerjaan dari kantor satu ke kantor yang lainnya.
“Gimana… Udah dapat pekerjaan?” tanya Wulan.

“Belum, Neng.” jawab Bakhri.

“Kalau kamu gini terus, kita mau makan apa?” ucap Wulan seraya meninggalkan Bakhri.
Hari berikutnya…
Bakhri membuka pintu lalu masuk dengan wajah sumringah penuh semangat.
“Nang, kamu dimana?” tanya Bakhri.
Bakhri mendapati istrinya duduk di teras belakang rumahnya.

Bakhri pun duduk di sebelahnya dan bersiap menceritakan keberhasilannya.

Belum sempat Bakhri bercerita, Wulan melayangkan sebuah map berwarna merah muda dan diletakkan di meja, di depan Bakhri.
“Kamu baca!” ucap Wulan.

“Apa ini?” tanya Bakhri.

“Buka aja!” jawab Wulan.
Bakhri pun membuka map itu, disana tertera sebuah judul dengan huruf kapital yang tebal bertuliskan “AKTA PERCERAIAN”. Disana juga sudah ada sebuah tanda tangan Wulan, Ekpresi wajah Bakhri seketika berubah. Nafas serta jantungnya memburu.
“Maksud kamu apa?” tanya Bakhri.

“Sudah jelas bukan? Aku mau kita cerai.”

“Tapi, Neng. Kenapa? Ada apa? Kalau ada masalah, lebih baik kita bicarakan. Jangan seketika langsung mengambil keputusan.” kata Bakhri.

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semuanya cukup sampai disini saja.
❇❇❇
Dengan menenteng koper, Bakhri berjalan menuju pintu diikuti oleh Wulan. Sesampainya di pintu, Bakhri sempat menitip pesan pada Wulan.
“Neng, saya harap kita tetap berhubungan baik meski sudah bukan suami istri lagi.” ucap Bakhri.
Wulan hanya tersenyum. Senyum yang di paksakan terlukis di wajahnya.
Bakhri pergi meninggalkan Wulan, meninggalkan rumah itu, dan impiannya yang harus ia kubur saat ini juga.
❇❇❇
Tahun demi tahun pun berlalu begitu cepat, kini Wulan telah menikah lagi dengan lelaki lain. Akan tetapi iming-iming kekayaan yang di janjikan, rupanya tidak sesuai dengan kenyataan. Wulan bahkan harus mau bekerja demi bertahan hidup.
Hari ini ia akan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan.

Wulan tampak tegang menunggu di luar ruangan bergantian interview dengan pelamar yang lainnya.

Sampai akhirnya namanya di panggil. Wulan masuk ke ruangan yang cukup besar, nampak seorang tengah sibuk mengetik di komputernya.
“Permisi pak.” ucap Wulan.

“Silahkan duduk.” kata lelaki itu.

“Nama kamu siapa?”

“Wulan, Pak.” jawab Wulan.
Lelaki itu memutar kursinya, dan kini menatap Wulan.
“Wulan.”

“Bakhri.” ucap Wulan.
Jantung Wulan berdegub kencang, dan ia semakin gugup setelah tahu bahwa bos nya adalah Bakhri.

Meski beetahun-tahun Wulan tak bertemu, namun Bakhri nampak sama, wajah tampan dengan penampilan serba rapi.
“Kamu kok nglamar kerja?” tanya Bakhri.

“Banyak hal yang terjadi.” jawab Wulan setenang mungkin.

“Aku ikut senang kalau pada akhirnya kamu bisa berubah menjadi lebih baik.” ucap Bakhri.
Wulan tersenyum.
“Kalau bukan karena terpaksa, gua juga ogah kali.” batin Wulan.
Terlintas rasa menyesal dalam hati Wulan. Jika saja ia tahu bahwa Bakhri akan sukses seperti saat ini, ia takkan pernah menceraikannya.
Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

7 tanggapan untuk “Wanita Pencari Kesempurnaan

    1. Waduh! Ini saya aja idenya cuma terlintas, gak yang bertumpuk-tumpuk seperti yang lain. Mungkin nanti di buat lagi tapi dengan judul yang berbeda😄
      Btw, gimana penulisannya ya? Sudah lama kan tidak mengomentari tentang penulisan…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s