Diposkan pada Cerpen

Merry Christmas and I Love You Part 2

“Kemungkinan besar… ibu Gracia mengalami amnesia, pak.” kata dokter.
Gracia segera melepaskan genggaman tangan Samuel.
“Maaf, bukan mukhrim.” ujarnya.
Samuel dan kedua anaknya terkejut, belum sempat mereka berkata-kata, Gracia malah bergegas pergi dari sana.
“Kamu mau kemana?” tanya Samuel.

“Aku mau pulang.” jawab Gracia.
Samuel berlari mengejar Gracia sampai akhirnya terkejar.
“Biar saya antar.” ucap Samuel.
Samuel dan kedua anaknya mengantarkan Gracia ke tempat yang hendak ia tuju. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, ini adalah kali pertama mereka saling membisu.
“Berhenti disana.” ucap Gracia sembari menunjuk ke sebuah bangunan yang cukup besar.
Mobil Samuel berhenti di sebuah bangunan bertuliskan “Pondok Pesantren Tahdzibul Fuad”.

Gracia berjalan melewati kerumunan para santri yang sedang berkumpul di halaman. Samuel dan kedua anaknya kini mengikutinya dengan berjalan kaki. Bagi mereka, pemandangan seperti ini sangatlah asing.

Sampailah mereka disebuah rumah di pojokan asrama.
“Assalamu’alaikum?” ucap Gracia.
Tak butuh waktu lama, suara langkah terdengar mendekati pintu.
“Waalaikumsalam.” jawab seseorang di dalam sana seraya membuka pintu.

“Teteh?” ucap orang tersebut dengan mata tak berkedip dan mulut mengangga.

“Khusni, teteh pulang.” kata Gracia sambil memeluk Khusni.

“Siapa yang datang, Neng?” tanya seseorang dari dalam sana.
Khusni dan Gracia masuk ke dalam lalu berjalan ke arah seorang lelaki tua yang duduk di kursi. Mereka berdua kini ada di depan lelaki itu, sementara itu lelaki tua tersebut langsung memakai kaca matanya.
“Astagfirullah.” Abi terkejut.

“Alkhamdulillah… Ya Allah.” ucap Abi lagi.
Seketika keterkejutan Abi berubah menjadi kebahagiaan.

Gracia berlari ke arah Abi, mencium tangannya lalu memeluknya. Pipinya pun berurai air mata. Dalam pelukan Abi, Gracia tidak sadarkan diri.
“Astagfirullah. Bangun neng!” kata Abi.
Samuel, Lita dan Lia tahu-tahu sudah ada didalam sana. Melihat Gracia tak sadarkan diri, Samuel buru-buru menghampirinya.
“Anda siapa?” tanya Abi.

“Saya suaminya.” jawab Samuel.

“Nanti saya jelaskan, sekarang yang terpenting kita bawa dia ke rumah sakit dulu.”
Mobil Samuel kembali melaju, kali ini dengan di tambah dua penumpang, Khusni serta Abinya.

Dan sampailah mereka di rumah sakit. Mereka duduk di kursi menunggu dokter selesai memeriksa Gracia.

Abi mendekat pada Samuel,
“Boleh kita bicara,” ucap Abi.

“Empat mata saja.” tambah Abi.

“Boleh.” jawab Samuel.
Mereka berdua berjalan menuju ke sebuah taman di rumah sakit itu, duduk di bersebelahan di bangku.
“Anda bilang anak saya adalah istri anda, bahkan saya tidak pernah memberi restu.” ucap Abi.

“Pertama-tama, saya minta maaf atas hal itu. Saya menemukan Gracia dalam keadaan parah, dia bahkan sampai koma. Tapi akhirnya dia sadar, akan tetapi ia tidak bisa mengingat dirinya, dan apapun tentangnya. Saya berinisiatif membawanya ke beberapa tempat ibadah. Dan dari kesemuanya, gereja lah yang ia pilih. Maka dari itu saya memberinya nama Gracia, yang berarti anugrah. Bagi saya dia adalah anugrah yang di kirimkan oleh Tuhan.” kata Samuel.

“Lalu sekarang bagaimana? Setelah kamu tahu asal usul yang sebenarnya…” tanya Abi.

“Saya serahkan semuanya ke dia, biarlah dia yang memilih.” jawab Samuel.
❄❄❄
Sementara itu, suasana canggung menyelimuti mereka bertiga. Khusni, Lita, dan Lia. Mereka hanya saling melempar senyum, sampai akhirnya dokter keluar dari ruangan tempat Gracia di rawat dan mengalihkan perhatian mereka.
“Bagaimana keadaan teteh saya, Dok?” tanya Khusni.

“Kakak anda baik-baik saja. Cuma kecapek’an. Dia harus banyak istirahat.” jawab dokter.
Dokter itu berlalu, sementara Khusni, Lia, dan Lita masuk ke dalam ruangan.
“Khusni. Lia, Lita. Sekarang saya ingat semuanya.” ucap Gracia.

“Tenang teh, coba ceritakan.” ucap Khusni.
Seberkas ingatan terputar di kepala Gracia. Tentang dirinya di masa lampau, tentang kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, bahkan saat ia menikah dengan Samuel.
“Dulu saya adalah Uswatun Khasanah, dan di panggil Uus. Dan setelah kecelakaan, saya hilang ingatan dan di beri nama Shania Gracia Puspa Dewi.”
Khusni, Lia serta Lita di buat terkejut dengan perkataan Gracia barusan. Mereka saling memikirkan nama lain orang di hadapannya tersebut.
“Abi juga sudah tahu semuanya sekarang.” ucap Abi seraya berjalan mendekati mereka berempat di susul dengan Samuel di belakangnya.

“Semuanya terserah kamu, Neng. Kamu yang berhak memilih, kamu berhak menentukan.” tambah Abi.
Gracia menghela nafas panjang,
“Saya memilih…”

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

7 tanggapan untuk “Merry Christmas and I Love You Part 2

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s