Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori, Teman

Pisah Terpaksa

“Jika kamu berubah pikiran, pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kamu.” ujar mamanya Nabil.

“Makasih ma.” kata Nabil.
Mamanya lalu memeluk Nabil,
“Jaga diri kamu baik-baik.”

“Iya ma.” kata Nabil.

“Nauval, jaga Nabil ya.”

“Pasti ma.” kata Nauval.
Mereka pun pergi berlalu. Dan saat anaknya itu hilang di ujung jalan, wanita itu menangis tersedu-sedu. Sementara suaminya melihatnya dari dalam rumah, melalui sebuah jendela di ruang kerjanya yang tirainya sedikit terbuka. Ia tengah marah saat ini sebab anaknya tak mengikuti perintahnya, anaknya justru lebih memilih hidup bersama orang yang ia cintai.
“Dasar bodoh!” ucapnya nyaris mengeram.
Barang-barang mewah didalam ruangan ini pun akhirnya menjadi pelampiasannya. Satu persatu barang ia hancurkan, kadang ia jatuhkan ke lantai atau ia lemparkan ke dinding dan membuat suara yang cukup keras.

Apapun yang ia lakukan semuanya hanya akan menjadi sia-sia saja. Buah hatinya tak akan kembali meski rumah ini ia hancurkan sekalipun.

Jauh dari pemukiman, mereka berdua menyusuri jalan setapak. Sambil keduanya menenteng tas yang besar, menembus dinginnya angin malam saat itu.

Hingga pada akhirnya, sampailah mereka di sebuah rumah bambu di dekat perkebunan teh. Satu-satunya penerangan ialah sebuah dian¹ yang menempel di dinding depan rumah. Rumah peninggalan orang tua Nauval ini tampak bersih di bagian depan, karena setiap hari di bersikan oleh petani yang menumpang beristirahat di sana.
“Cukup luas dan sejuk.” ucap Nabil seraya tersenyum.
Melihat senyum itu, hati Nauval justru merasa sakit. Ia tahu betul bahwa itu bukan senyum yang tulus dari dalam lubuk hati. Ia tahu bahwa itu adalah senyum yang di paksakan. 

Hari ini, kesan pertama Nabil mungkin sejuk. Tapi, hari-hari berikutnya. Mungkin kesejukan itu akan berganti menjadi penderitaan, kedinginan yang ia paham betul seperti apa rasanya.

Seketika matanya berkaca-kaca, air matanya membendung, lalu tetes demi tetes pun berlinangan.

Melihat hal itu, Nabil mendekat pada Nauval. Memegang pipi Nauval dengan kedua tangan. Lalu menghapus air mata itu.
“Aku gak apa-apa sungguh. Dimanapun itu, asalakan kita selalu bersama.” ucap Nabil.
Nauval mendekap erat tubuh Nabil seraya berbisik,
“Terima kasih.” ucap Nauval.


Beberapa tahun kemudian,
Sudah berhari-hari lamanya Nabil sakit dan terbaring di tempat tidur. Dalam keadaan ini Nauval sangat kebingungan. Andai ia punya uang pasti sudah dibawanya Nabil ke dokter. Tapi apalah daya, ia tak bisa berbuat apa-apa. Yang dapat ia lakukan hanya membelikan Nabil obat yang biasa ada di warung-warung, sementara ia tak tahu pasti penyakit apa yang tengah di derita istrinya itu.
“Tidak ada pilihan lain.” kata Nauval dalam hati.
Telah lama ia pikirkan keputusan ini, keputusan yang berarti akhir dari hubungan mereka, dan keputusan tentang perpisahan yang tak diinginkan. Tapi Nauval sudah tak sanggup lagi melihat Nabil menderita, yang ia pikirkan adalah tentang bagaimana Nabil bisa kembali sehat seperti dulu.

Sore itu Nauval sengaja pergi menemui seorang teman untuk meminjam handphone padanya. Di ambilah sebuah kartu nama dari dalam kantongnya yang ia dapat dari tas Nabil. Kartu itu bertuliskan sebuah nama “Gatot Prayitna Diningrat” beserta alamat rumah serta, alamat kantor serta nomor telepon. Orang itu tak lain adalah adalah ayahnya Nabil. Ia pernah menawarkan pada Nauval untuk menukar Nabil dengan uang yang jumlahnya beratus-ratus juta, akan tetapi Nauval tetap teguh pada pendiriannya dan tetap memilih Nabil.

Di pencetnyalah satu-satu nomor yang tertera pada kartu itu,
“Halo?” suara lelaki tua yang khas terdengar dari speaker telepon.

“Halo Pa, ini Nauval. Papa apa kabar?” tanya Nauval.

“Oh kamu, ada apa telepon?” Ia justru balik bertanya.

“Pa, Nabil sakit. Dan saya gak ada biaya untuk membawanya ke rumah sakit.”

“Apa!!! Sakit? Kamu ini bagaimana, kenapa anak saya bisa sampai sakit? Kamu ini gak becus jadi suami.”

“Maafkan saya Pa, ini semua memang salah saya. Jadi maksud saya menelpon, saya mau minta bantuan sama Papa.”
Perbincangan itu berlangsung cukup lama, yang pada akhirnya Papanya Nabil bersedia membantu Nabil dengan sebuah syarat yang terpaksa di setujui oleh Nauval.
Beberapa hari kemudian,
Bebapa petugas medis telah lebih dulu meninggalkan rumah ini dengan membawa Nabil yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Kini tinggalah Nauval dan Papanya Nabil(Pak Gatot) di rumah ini. Sejak tadi ia hanya mondar-mandir kesana dan kemari sambil sesekali memperhatikan detail rumah ini.
“Jadi kamu tinggal di gubug ini? Pantas saja anak saya sampai jatuh sakit. Ia sengsara, menderita hidup di gubug seperti ini.” kata pak Gatot.

“Hanya rumah ini saja Pa yang saya punya.” kata Nauval.
Memarahi Nauval karena ia merasa anaknya di sia-siakan karena tinggal di rumah kecil seperti ini ia pikir tak akan berguna, toh semuanya juga sudah terjadi.
“Akh, sudahlah. Saya akan urus perceraian kamu dengan Nabil.”

“Ini, sesuai perjanjian kita.” kata pak Gatot sembari melempar sebuah tas yang mendarat tepat di depan kaki Nauval.

“Maaf pa, saya gak butuh uang ini, yang terpenting adalah Nabil bisa kembali sehat seperti sedia kala.”

“Jangan sok-sokan menolak ya kamu! Saya tahu kamu butuh benar uang ini. Dengan uang ini setidanya kamu bisa beku rumah yang besar dan layak. Hidup kamu akan terjamin selama bertahun-tahun. Jadi, terima saja. Jangan munafik.”

“Tapi, saya…”

“Sudah-sudah, saya pergi dulu, masih banyak urusan yang lebih penting dari pada hanya mengurus hak ini.”
Pak Gatot pun pergi meninggalkan Nauval, tinggalah Nauval sendiri disana memandangi tas yang ada di depan kakinya.
“Munafik?” tanya Nauval dalam hati.
Ia tahu kalau pak Gatot akan berpikiran ia akan benar-benar menukar Nabil dengan uang ratusan juta itu. Tapi sungguh, itu tak benar. Yang ia pikirkan hanya kesehatan Nabil, hanya itu saja.

Nauval kini memikirkan perasaan Nabil, entah apa yang akan terjadi nanti saat ia sadar. Nauval berpikir bahwa mungkin ia akan menjadi orang yang paling di benci Nabil, penipu bahkan penghianat cinta. Tapi sungguh, segala sesuatunya telah ia relakan. Impian, harapan dan cita-cita untuk menjalin hidup berdua selamanya dan apapun itu.

Nauval rela asal kesehatan Nabil kembali, dan mungkin suatu saat nanti akan ada saat dimana Nauval bisa kembali hidup bersama Nabil. Walau itu semua tak akan mudah bahkan mustahil untuk terjadi.
Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

4 tanggapan untuk “Pisah Terpaksa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s