Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Love, Novel, Tak Berkategori

Hujan Meteor


Jam diding tua itu membunyikan loncengnya sebanyak dua kali, yang berarti saat ini adalah pukul dua pagi.

Saat itu pula aku terjaga, dan langsung menggeser pandanganku ke arah jendela yang memang sengaja aku buka tirainya.

Disana nampak titik cahaya kerlap-kerlip.

“bintang” kataku.

Seperti yang telah di katakan Bobby temanku tadi siang di kampus, bahwa katanya malam ini sampai jam 4 pagi akan ada hujan meteor. Bobby yang tahu bahwa aku adalah seorang yang menyukai dunia fotografer langsung memberitahuku tentang hal ini.

Dan benar saja, kerlap-kerlip cahaya di atas itu merupakan buktinya. Aku percaya karena beberapa hari belakangan ini, langit kota Jogja selalu di selimuti awan hitam yang tebal. Bahkan kadang hujan deras yang membuat atmosfer dingin disana menjadi bertambah dingin. Alhasil aku harus rela badanku terdampar di pulau kapuk, selimut tebal membungkus badanku lalu tertidur lebih awal. Atau kadang membaca koleksi komik jepangku yang belum sempat ku baca.

Kulihat satu cahaya itu berkedip, bergerak pelan, lalu dengan secepat kilat ia jatuh ke bawah. Saat itulah siluetnya semakin indah, saat titik itu berubah menjadi garis. Walaupun hanya sesaat saja.

Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu mencuci muka sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk yang ada. Setelah itu aku mengenakan jaket dan tak lupa kamera ku kalungkan di leherku.

Aku kemudian berjalan menuju ke gudang mengambil sepedaku lalu bergegas keluar dari kos-kosan. Ku kayuh sepedaku dengan cepat sampai angin mulai menghembus jaketku.

Dingin memang, tapi nanti akan terbayarkan.

Aku berjalan tak tentu arah, yang ku tuju adalah sebuah lahan yang luas. Aku berhenti di sebuah taman yang luas dekat sebuah kampus.

Aku berjalan menuju ke sebuah bangku, kulihat seseorang tengah duduk disana. Kepalanya tertutup hoodie sehingga ku tak dapat memastikan apakah dia perempuan atau laki-laki.

Aku mendekat ke bangku itu, lalu berdiri di samping orang itu.

“Mbak?” panggilku sambil tersenyum lalu duduk di sampingnya.

Ia tersenyum seraya mengangguk. Ternyata dia adalah seorang perempuan.

“Njenengan bade ningali jawoh meteor?” ¹ tanyaku.

“Kulo mboten asli tiang mriki lho, Mas.” ² jawab Mbak itu.

“Oh… Sama seperti saya dong. Saya juga bukan asli orang sini. Saya asalnya dari Jakarta.”

“Btw… Perkenalkan, nama saya Rudi. Mahasiswa sastra.” kataku sambil menyodorkan tanganku.

“Saya Linda, mahasiswa sastra jepang.” kata Mbak itu sambil menjabat tanganku.

Ku rasakan tangannya dingin, bagai embun pagi yang menyapaku tadi dalam perjalanan kemari.

“Sudah dapat berapa?” tanyaku.

“Ini, baru sedikit.” jawabnya sambil memperlihatkan hasil jepretannya.

Kami duduk berdua di bangku itu, menyaksikan angkasa di hiasi titik cahaya kerlap-kerlip bersama seorang yang meski baru ke kenal namun terasa tak asing.

Satu titik cahaya mulai menghilang berganti goresan garis cahaya yang tak kalah indah. Kemudian dua, tiga titik menyusul. Sepanjang kami memandang, begitu terus sampai aku lupa tujuan awalku datang ke tempat ini. Keagungan tuhan di atas sanalah yang telah membuatku lupa, dan juga yang kini ada di sampingku.

“Kamu tahu gak? Ada yang lebih indah lho, dari hujan meteor itu.”

“Apa itu?” tanya Linda.

“Kamu.” jawabku sambil tersenyum.

Ia pun tersipu malu.

Adzan subuh telah berkumandang, titik-titik cahaya pun telah memudar dan tiada lagi bersinar disana.

Linda bergegas dari tempat duduknya,

“Aku pulang dulu ya…” kata Linda.

“Mau aku anter gak?” tanyaku.

“Akh, gak usah.” jawab Linda.

“Kalau aku kangen kamu gimana?” mulutku mulai liar, berkata tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Bahkan aku merasa bukan aku yang mengatakannya.

Linda tersenyum lagi,

“Kamu cukup datang kesini, aku sering kesini kok.” jawabnya masih dengan senyuman menghiasi wajahnya.

Linda pun berlalu seperti langit yang kini tanpa setitikpun cahaya. Esok, lusa dan hari-hari berikutnya aku pasti akan selalu datang ke tempat ini.

Aku berdiri dan berjalan menuju ke sepedaku yang ku parkirkan di ujung taman. Aku mengayuh pelan sepedaku, berjalan ke arah matahari terbit. Kos-kosanku berada di arah barat memang.

Aku harus puas hanya dengan melihat peristiwa hujan meteor dengan mataku dan menyimpannya di dalam ingatanku. Meski aku kehilangan moment itu, tapi aku tetap gembira. Sebab pengantinya lebih indah.
Selesai.
¹ anda mau meluhat hujan meteor?

² saya bukan asli orang sini lho, mas.
*Catatan saat saya terjaga di jam pukul 02:00 dini hari, yang kebetulan saat itu sedang terjadi hujan meteor gemini. Yang nampak dari jendela kamar saya hanyalah puluhan cahaya kerlap-kerlip yang hanya bergerak ke atas dan ke bawah lalu perlahan cahayanya meredup dan hilang.
15-12-2017

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

22 tanggapan untuk “Hujan Meteor

      1. Itu menurut info lho, sebenarnya saya juga kurang paham.
        Sayangnya waktu itu dari rumah saya tidak terlihat dengan mata telanjang. Padahal dulu pernah saya melihat fenomena itu dengan mata telanjang, rasanya kaya mimpi, indah banget.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s