Diposkan pada Cerpen, Cinta, Dongeng, Love, Novel, Tak Berkategori

Selamat Tinggal Air Mata Part 2 : Mantra Penyihir Cakep


“Jadi gini ceritanya, gue itu tadi habis ketemu sama pacar gue. Kita udah lama gak ketemu, sudah hampir satu tahun lamanya. Dan sekalinya ketemu, dia malah mutusin gue sepihak. Parahnya lagi, dia juga bawa tunangannya ke hadapan gue. Gue sakit hati, sakit banget. Tapi gue juga gak bisa ngapa-ngapain, mau marah, nangis, semua itu percuma. Apapun yang gue lakuin gak bakalan ngerubah keputusan pacar gue kalau dia udah mutusin gue dan bakalan nikah sama cewek lain. Yah, walau pada akhirnya gue nangis sih… Lalu apa artinya penantian gue? Selama itu gue menanti dengan setia dan ternyata yang gue nanti malah mau nikah. Anjir banget kan? Nih, bahkan gue di kasih undangan pernikahan mereka…” jawab Nadya.

“Tapi kamu gak boleh gitu, di luar sana banyak orang yang gak sehat dan usianya tidak panjang dan ngerep banget bisa hidup lebih lama sedikit saja. Tapi mereka gak bisa, takdir berkata mereka harus sudah pergi. Kita sebagai manusia yang baik-baik saja seharusnya bersyukur, tidak ada apa-apapun sebenarnya juga sebuah nikmat yang di berikan tuhan.” kata Arif.

“Loe kelihatannya aja ya, pendiem. Padahal mah, cerewet juga.” kata Nadya.

“Hehe… Biasanya kalau sama orang baru gak secerewet ini sih, itu berarti kamu ini spesial.” kata Arif.
Entah kenapa Nadya merasa tersanjung di buatnya, ia berusaha menahan senyum dan menyembunyikan kegirangannya walau tak berhasil karena pipinya kini memerah. Padahal ia baru saja putus cinta bahkan mau bunuh diri, akan tetapi di bilang ‘spesial’ saja hatinya sudah berbunga-bunga.

Beberapa saat kemudian, datanglah pelayan dengan membawa sepiring besar kentang goreng yang langsung di sambut oleh Nadya. Sementara Arif kembali menghabiskan makanannya, Nadya justru kini memperhatikan dengan seksama wajah Arif.
“Cakep juga.” batin Nadya.
Melihat Nadya senyam-senyum sendiri melihat dirinya, Arif pun salah tingkah.
“Kamu ngapain liatin saya begitu?” tanya Arif.

“Habis, cakep sih…”

“Eh, gak. Gak. Sorry gue ngelamun.” jawab Nadya.
Padahal Arif dan Nadya baru satu jam yang lalu bertemu, akan tetapi mereka sudah akrab seperti sepasang manusia yang telah di satukan bertahun-tahun lamanya.

Selesai makan di restoran, mereka pun kembali ke mobil.
“Kok duduk di belakang?” tanya Arif.

“Lha… Terus, gue duduk di depan?” tanya Nadya.

“Iya, siapa tahu bisa ngobrol-ngobrol apa gitu.” jawab Arif.
Bukan sifat Nadya menuruti perintah seseorang, tapi entah kenapa kata-kata Arif barusan bagaikan mantra yang menyihir Nadya dan membuatnya menuruti kata Arif. Akan tetapi sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, Arif yang pendiam mungkin masih wajar bila tak berani memulai percakapan. Akan tetapi lagi-lagi bukan sifat Nadya malu-malu dan menahan ribuan kata untuk di ucaokan. Tapi kali ini lidahnya kelu serta mulutnya beku yang entah kenapa sebabnya. Sekalinya bicara, mereka membicarakan tentang alamat rumah Nadya.

Dan setelah perjalanan yang cukup lama karena tadi juga terjebak macet, akhirnya sampailah mereka di depan rumah Nadya.
“Makasih ya udah nganterin gue.” kata Nadya.

“Sama-sama. Justru saya mau minta maaf sekali lagi karena telah menabrak kamu.” kata Arif.

“Akh, gak apa-apa. Santai ae sama gue mah.” kata Nadya.

“Ya sudah kalau gitu, saya pulang dulu.” kata Arif.
Arif pun masuk ke mobil dan melajukan mobilnya pelan menyuauri jalan perumahan ini. Lalu ia di kejutkan dengan kaca pintu mobilnya yang di ketuk beberapa kali oleh seseorang, sontak saat itu dia menginjak rem dan mobilnya pun berhenti.

Ia membuka kaca mobil, dan ternyata orang yang mengetuk-ngetuk tadi ialah Nadya.
“Kamu? Ngapain lagi?” tanya Arif.

“Sorry, gue lupa minta nomor hp loe.” kata Nadya.
Arif mengeluarkan sebuah kartu nama dari balik saku kemejanya lalu memberikannya pada Nadya.
“Ok, gue save ya.” kata Nadya.

“Iya, saya pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi…” kata Arif.

“Ok, bye.” kata Nadya sambil melambai tangan lembut.
Arif pun kembali melajukan mobilnya dan berlalu meninggalkan Nadya sendiri di jalanan perumahan yang sepi karena hari sudah terlalu malam.
“Arif Rahman. Pekerja kantoran, cakep dan baik. Keknya cocok sama gue.” kata Nadya sambil tersenyum melihat kartu nama yang baru saja di berikan Arif.

“Eh, apa’an sih gue? Ngaco deh…” kata Nadya pada dirinya sendiri.
Nadya berjalan ke rumahnya, sesampainya disana dia langsung disambut oleh Nelly yang memang sengaja menungu Nadya pulang hanya karena ingin tahu tentang pertemuan Nadya dengan Pacarnya.
“Gimana ngedate after 1 year-nya?” tanya Nelly.
Ekspresi wajah Nadya seketika berubah, ia teringat kembali dengan kekasihnya yang kejam itu, ia ingat kembali alasan mengapa ia sampai ingin mengakhiri hidupnya beberapa jam yang lalu. Tanpa tersadar air matanya pun kembali menetes.
“Loe kanapa?” tanya Nelly.

“Gue gak apa-apa.” jawab Nadya sambil menghapus air matanya.

“Gue capek, gue ke kamar dulu ya…” kata Nadya.
Nadya pun pergi ke kamarnya meningalkan Nelly dengan berbagai pertanyaan baru, apa yang terjadi pada Nadya? Mengapa ia sampai menangis? Apakah pacarnya yang telah membuatnya menangis?

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 2 : Mantra Penyihir Cakep

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s