Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 4 : Hadiah Terindah Dari Tuhan

PhotoGrid_1516360123181

Hari demi haripun berlalu dengan begitu cepat, hingga hari inipun tiba. Hari dimana pernikahan mantan kekasih Nadya akan di langsungkan.
Nadya kini berada di depan cermin terlihat cantik memakai kebaya warna merah dan saat ia sedang di dandani oleh Nelly.

“Loe dateng sama siapa kesananya?” tanya Nelly.

Nadya hanya terdiam, sebab ia terbawa akan lamunan. Rupanya kejadian malam itu masih membayang-bayangi pikirannya dan susah untuk di hapuskan. Masih Nadya ingat betul bagaimana ia dibuat sakit hati, masih ia ingat bagaimana kekasihnya memutuskan hubungan begitu saja lalu memperkanalkan tunangannya.
Malam itu untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah setahun lamanya, tentunya ini menjadi suatu hal yang membahagiaakan bagi Nadya.

“Aku mau mengatakan sesuatu hal yang penting sama kamu” kata Hans kekasihnya, Nadya.
“Oh iya, apa?” tanya Nadya dengan riang gembira.
“Aku mau kita putus.” kata Hans.

Hati Nadya bagaikan di tusuk-tusuk, rasanya sangat menyakitkan. Dan ia tak bisa berbicara apapun, hanya air mata yang mewakili kesedihannya saat ini.

“Aku juga mau ngenalin seseorang sama kamu.” kata Hans lagi.

Lalu datanglah seseorang dari kejauhan sana yang mendekat ke arah meja makan mereka.

“Namanya Mira, dia adalah anak dari om Gunawan, rekan ayahku. Kami sudah nikah dan minggu depan adalah resepsi pernikahan kami. Ini undangan buat kamu.” kata Hans sambil memberikan sebuah undangan pada Nadya.
“Mira ini juga ialah…”
“Cukup!!!” teriak Nadya yang membanting tangannya di meja dan membuat Mira maupun Hans terkejut.
“Kamu mau bilang apa? Kamu mau bikang kalau dia lebih baik, lebih cantik, lebih dan lebih lagi gitu?”,

Nadya bangkit dari tempat tidurnya, tangannya mengapal dan kini ia di kuasai oleh amarah. Ia mengncengkeram kemeja Hans sampai wajah Hans memerah karena hal itu membuatnya susah bernafas.

“Lalu apa semua yang kita lalui selama bertahun-tahun ini tidak ada artinya? Dan satu lagi, aku menunggu kamu selama setahun. Itu bukanlah waktu yang singkat, selama itu pula aku masih setia, namun ternyata kesetiaan itu kamu balas dengan hal ini. Kamu jahat!!!” teriak Nadya.

Seketika tangan Nadya mengepal dan ia kumpulkan kemarahannya disana sebelum akhirnya ia landaskan ke wajah Hans sampai bibirnya mengeluarkan darah. Hans tak berbuat apa-apa, ia hanya menunduk ke bawah. Sementara Nadya kini berlanggang pergi dari sana, meninggalkan Hans dan Mira dengan kesan yang akan selalu mereka ingat. Dimana seketika sifat kepremanannya bengkit dari diri Nadya yang melampiaskan kemarahan pada Hans.

“Kamu gak apa-apa Hans?” tanya Mira yang saat itu menghapus darah yang keluar dari mulut Hans.

Hans hanya terdiam, di telinganya masih terngiang kata-kata yang baru saja Nadya katakan.

“Gila, masa perempuan kaya gitu. Sudah kaya preman saja.” kata Mira.

Sementara itu Nadya berjalan tak tentu arah dan tanpa tujuan, hingga tak sadar dan tak peduli bahwa ia kini berada di tengah jalan raya. Hujan turun dengan lebatnya, membasahi gaun putih dan tubuh Nadya kala itu. Suara klakson mobil terdengar dimana-mana yang tak pernah di gubris oleh Nadya.

Nelly menepuk pundak Nadya,

“Eh, loe dengerin gue gak sih?” tanya Nelly.
“Iya, iya, denger kok.” jawab Nadya.

Nelly melihat dari kaca bahwa di wajah Nadya mengalir satu, dua air mata. Nelly langsung memastikannya, dan memang benar Nadya meneteskan air mata.

“Kok loe nangis sih, kan make up nya jadi luntur.” kata Nelly sambil menghapus air mata Nadya.
“Sorry, gue cuma…”
“Jangan bilang loe inget sama Hans. Come on Nad, lupain dia. Cobaan ini akan jadi hadiah terindah dari Tuhan, Tuhan memberikan loe cobaan ini karena ia ingin loe mendapatkan yang lebih baik.” kata Nelly.
“Dan satu lagi…” kata Nelly sambil memegang kedua tangan kakaknya itu.
“Loe harus terlihat tegar di depan Hans, tunjukan ke mereka kalau loe itu kuat, loe itu bisa.” kata Nelly.

Nadya mengangguk dengan ekpresi wajah yang penuh akan keyakinan, kali ini kata-kata adiknya telah menyadarkan Nadya bahwa hidup harus tetap berlanjut meski seribu kesedihan menghadang di depan sana.
Tak lama setelah itu, handphone Nadya berbunyi. Disana terdapat sebuah pesan dari Arif.

“Saya sudah ada di depan rumah kamu.”

Nadya bergegas turun ke bawah dan menghampiri Arif. Arif datang dengan salah satu koleksi mobil mewahnya, ia juga mengenakan pakaian formal seperti biasanya. Hanya saja kali ini ia terlihat lebih tampan dari biasnya dan membuat senyum terukir di wajahnya walau sesaat. Sementara penampilan Nadya yang kali ini, telah berhasil membuat Arif benggong sejak ia melihat Nadya keluar dari pintu rumahnya tadi.

“Gue cantik gak?” tanya Nadya.

Yang di tanya bukannya menjawab malah terus memandangi Nadya tanpa sekalipun berkedip.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 4 : Hadiah Terindah Dari Tuhan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s