Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori

Selamat Tinggal Air Mata Part 5 : Pengusaha Paling Tajir Di Kota Jakarta

PhotoGrid_1516360267035

“Heh, kok loe malah benggong?” bentak Nadya.
“Sorry, sorry, habisnya kamu cantik banget sih.” kata Arif.

Pipi Nadya kini merah merona, senyuman di wajahnya pun kembali terukir yang kini tak dapat ia sembunyikan.

“Ya udah, berangkat yuk.” kata Nadya.
“Ok, silahkan masuk.” kata Arif yang seketika membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Nadya masuk.

Sore itu, mobil Arif melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan komplek perumahan ini.
Di balkon lantai dua, Nelly menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Rupanya sejak tadi ia telah berada disana melihat Nadya di jemput oleh pangerannya.

“Yah, inilah yang gue maksud dengan hadiah terindah dari tuhan. Seorang lelaki tajir yang wajahnya tampan rupawan bak pangeran dari negeri dongeng.” kata Nelly sambil tersenyum sendiri.

Di perjalanan, handphone Arif berdering. Segera ia memasang headset bluetoothnya dan segera mengangkat panggilan masuk tersebut.

“Halo?” sapa Arif.
“Halo pak, cuma mengingatkan saja, nanti sore ada meeting ya.” kata seorang asisten Arif di telephone.
“Aduh… Kan saya sudah bilang, semua meeting hari ini di majukan tanggalnya.” kata Arif.
“Gak bisa pak, mereka gak mau.”
“Kalau gitu, kamu suruh Mario untuk menghandle semuanya. Dia pasti bisa.”
“Tapi pak, Mario itu kan cuma…”
“Mario itu orang yang saya percaya.” kata Arif.
“Baik pak.”

Nadya melirik ke arah Arif, kali ini ia benggong karena terharu.

“Sampe segitunya buat gue.” kata Nadya dalam hati.

Melihat Nadya yang tersenyum melihat dirinya, Arif pun bertanya,

“Kenapa kamu senyum gitu lihat saya…?” tanya Arif.
“Akh, enggak kok. Makasih ya, udah mau nemenin gue.” jawab Nadya.

Hampir satu jam lamanya dan kini mobil Arif telah sampai di gedung pernikahan Hans.

“Kamu siap?” tanya Arif.

Nadya mengangguk yang sebenarnya tidak yakin.
Arif menggandeng tangan Nadya bak pangeran menggandeng seorang putri. Semua mata tertuju padanya, sebab mereka adalah pasangan yang serasi.
Nadya mulai gugup melihat Hans dan Mira duduk di kursi besar di atas panggung sana.

“Kamu kenapa?” tanya Arif.
“Gue gugup.” jawab Nadya.

Arif melihat ke sekitar, ke meja-meja yang terdapat makanan dan minuman.

“Kita minum dulu yuk…” ajak Arif.

Mereka pun berjalan ke arah meja itu, mengambil beberapa kue dan dua gelas minuman. Dalam sekejab saja Nadya telah menghabiskan sebanyak sepuluh kue seukuran kepal orang dewasa serta tiga gelas minuman jus. Hal itu tentu membuat Arif terheran-heran. Bagaimana tidak? Sedang dirinya saja belum selesai memakan satu buah kue. Arif pun melihat Nadya dengan bengong dan tatapan mata tidak biasa. Nadya yang menyadari sedang di perhatikan lalu salah tingkah, dan mencari sebab mengapa Arif sampai memandanginya dengan tatapan seperti itu.

“Kalau lagi gugup kaya gini, gue suka laper.” kata Nadya.

Lalu,

“Hoekkk!!!”

Nadya bersendawa di tengah keramaian, yang sontak membuat semua orang memperhatikannya.

“Kamu ini apa-apaan? Jaim dikit dong. Kamu sudah terlihat anggun lho sebenarnya.” kata Arif.
“Ya, maap. Gue kelepasan.” kata Nadya.

Setelah menikamati berbagai macam kue dan minuman, akhirnya mereka berjalan ke atas panggung, berjalan ke arah Hans dan Mira.
Melihat Nadya naik panggung, pandangan mata Hans langsung tertuju padanya. Hingga pada saat Nadya di depan matanya pun, tatapan itu tetap tertuju pada Nadya.

“Hi…?” sapa Nadya.

Hans hanya terdiam, sementara Mira menanggapinya dengan senyuman sinis.

“Perkanalkan ini pacar gue, pengusaha paling tajir di kota Jakarta ini.” kata Nadya.

Arif seketika melihat ke arah Nadya, ingin protes tapi Nadya tak melihat balik padanya. Akhirnya ia meremas tangan Nadya yang justru Nadya balas dengan remasan yang lebih keras lagi, cukup untuk membuat Arif kesakitan hingga nyengir.
Beberapa saat kemudian Arif memperkanalkan diri, penampilan Arif memang terlihat mewah, setidaknya pantas untuk menyandang gelar ‘pengusaha paling tajir di kota Jakarta’ seperti kata Nadya.

“Perkenalkan, saya Arif.” kata Arif sembari menyodorkan tangannya.

Mira menyambut dengan hangat perkenalan itu, dan saat ajakan Arif pada Hans, Hans hanya terdiam. Mira yang melihatnya lalu mencubit tangan Hans. Hal itu membuatnya tersadar bahwa yang di depannya kini memang bener-benar Nadya. Nadya terkejut karena seketika Hans memeluk dirinya. Andai pelukan itu bisa di lepaskan, pasti akan segera Nadya lepaskan. Tapi pelukan itu erat, sangat erat.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

7 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 5 : Pengusaha Paling Tajir Di Kota Jakarta

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s