Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori

​Selamat Tinggal Air Mata Part 6 : Laut Serta Langit Bermandikan Cahaya Senja


“Apa-apaan kamu ini, Hans? Lepaskan Hans!” kata Nadya.

“Aku masih cinta kamu, aku tak pernah benar-benar bisa melupakan kamu. Tentang yang kemarin itu, aku berdusta.” kata Hans pelan.
Nadya tersentak mendengarnya, sempat ia terdiam beberapa saat. Hatinya di permainkan, setelah kemarin di sakiti dan hari ini di berikan harapan. Meski begitu bagi Nadya segalanya telah berakhir.
“Ngomong apa kamu ini? Semuanya sudah sampai sejauh ini, pernikahan itu serius, jangan di buat main-main. Sekarang, lepaskan pelukan kamu. Aku malu tau…” kata Nadya.

“Gak, gak mau. Biarkan saja semua orang melihat, aku tak peduli. Yang penting aku bisa bersamamu seperti ini.” bisik Hans.

“Sialan!” batin Nadya.
Nadya memukul perut Hans dengan sangat keras, membuat Hans terduduk di tempat duduknya sembari memegangi perutnya. Sementara Nadya meraih tangan Arif. Dan sebelum meninggalkan Hans dan Mira, ia sempat menjabat tangan Mira sekedar mengucap selamat.
“Nadya!!!” teriak Hans.
Nadya dan Arif turun dari panggung, berjalan menembus kerumunan yang sekarang semua orang melihat kepada mereka. Sesampainya di mobil, air mata Nadya tumpah, kali ini sudah tak dapat ia tahan lagi.
“Kamu kenapa? Kok nangis lagi?” tanya Arif.

“Hans bilang kalau dia masih cinta gue, Rif. Bayangin aja, hati gue kaya di permainkan mendengar itu. Seenaknya aja ngomong putuslah, sukalah…” jawab Nadya.

“Yang sabar, hidup harus tetap berjalan, Nad. Kita gak boleh stay di kesedihan.” kata Arif sembari memberikan tisu pada Nadya.

“Makasih.” kata Nadya sambil meraih tisu itu lalu mengusap air matanya.
Mobil mewah Arif berjalan keluar gedung lalu melaju dengan kecepatan sedang di jalanan. Mobil itu menuju ke sebuah bukit yang letaknya di pinggiran kota.
“Lhoh… Rif. Ini bukan jalan pulang…” kata Nadya.

“Emang kita gak lagi mau pulang kok.” kata Arif.

“Lalu kita mau kemana?” tanya Nadya.

“Ada, nanti kamu lihat sendiri saja.” jawab Arif.

“Sebenarnya dia mau bawa gue kamana sih?” tanya Nadya dalam hati.
Kesal karena Arif karena tak menjawab dengan pasti akan pertanyaannya, akhirnya Nadya memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil. Disana nampak pemandangan indah laut berpadu bersama langit dengan semburat cahaya senja dan sang mentari yang hampir tenggelam.
“Indah banget!” kata Nadya.
Mendengar hal itu, Arif hanya tersenyum.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di lahan yang luas di dekat bukit. Perjalanan mereka lanjutkan dengan berjalan kaki, Nadya dan Arif berjalan berdampingan menuju ke puncak bukit. Disana atas sana ada sebuah ayunan yang langsung menghadap ke laut.

Nadya duduk di ayunan itu, melihat pada pemandangan laut serta langit bermandikan cahaya senja.
“Dulu kalau saya lagi sedih, saya sering datang kesini. Tempat ini adalah kenangan bersama kedua orang tua saya dan juga sahabat saya.” kata Arif.

“Memangnya orang tua loe kenapa? Sudah meninggal ya?” tanya Nadya.

“Eh, maaf. Bukan gitu maksud gue.” tambah Nadya.

“Gak apa-apa kok. Mereka masih hidup, cuma ya memang seperti yang kamu bilang, mereka kaya udah meninggal. Saya gak pernah bisa merasakan kasih sayang mereka, sejak kecil saya di tinggal kerja. Mereka selalu sibuk bekerja, bahkan sampai saya segede ini pun tetap begitu.” kata Arif.

“Mereka mungkin ingin yang terbaik buat loe.” kata Nadya.

“Yah, mungkin kamu benar.” Arif tak mengindahkan, kata itu juga keluar begitu saja.

“Mau saya dorong gak? Nanti saat di atas, kamu teriak yang kenceng ya… Di jamin masalah kamu hilang.” kata Arif.
Arif pun mendorong Nadya sekuat tenaga sampai ayunan itu membawa Nadya mengayun tinggi. Nadya pun mengikuti kata Arif, ia berteriak sekencang-kencangnya. Namun pada satu ayunan Nadya terjatuh, tubuhnya terpental jauh dan terguling di di lereng bukit.
“Nadya!!!” Arif berteriak.
Ia lalu berlari ke arah Nadya, memastikan keadaannya.
“Nadya, bangun Nad. Nad, bangun!” kata Arif.
Arif pun panik, di tempat ini juga tak ada orang lain. Lalu kepada siapa ia akan meminta bantuan, akhirnya ia sendiri mencoba mengangkat tubuh Nadya. Saat Arif mengangkat tubuh Nadya, tiba-tiba Nadya kejang-kejang dan membuat Arif semakin panik.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

5 tanggapan untuk “​Selamat Tinggal Air Mata Part 6 : Laut Serta Langit Bermandikan Cahaya Senja

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s