Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 7 : Hari Akan Segera Berganti

Selamat Tinggal Air Mata Part 7 : Hari Akan Segera Berganti
“Nadya!!! Kamu kenapa. Nad?” tanya Arif.
Suara tertawa cekikikan Nadya memecah suasana panik saat itu. Arif sangat kesal karena di kerjai oleh Nadya lagi.
“Jadi cuma bercanda to?” tanya Arif.
Arif kini memalingkan mukanya, menghadap ke depan melihat ke pemandangan senja yang hampir berakhir itu. Nadya duduk di samping Arif, mereka berdua menyaksikan akhir dari hari ini bersama. Hari pun akan segera berganti dan kesedihan hari ini harus di lupakan. Songsong yang akan datang dengan senyuman agar penuh dengan kegembiraan.
“Makasih ya, Rif.” kata Nadya.

“Untuk?” tanya Arif.

“Untuk pemandangan yang indah ini.” jawab Nadya sambil merentangkan tangannya.

“Untuk hari ini juga, gue gak tahu bakalan kaya apa jadinya kalau gue datang ke nikahan Hans sendirian.” tambah Nadya.

“Iya, saya juga senang bisa membantu kamu.” kata Arif.
Mentari senja telah menghilang di ujung laut sana, cahayanya pun telah benar-benar pergi. Kini langit perlahan berubah menjadi gelap, di hias oleh titik-titik cahaya bintang yang berhamburan di atas sana.

Nadya bangkit dari tempatnya berdiri,
“Pulang yuk!” ajak Nadya.
Kemudian Nadya berjalan duluan, sementara Arif masih duduk disana. Nadya telah sampai di mobil 15 menit yang lalu, namun Arif tak kunjung datang jua.

Akhirnya Nadya kembali ke bukit itu, berjalan ke arah Arif.
“Eh, Rif. Ayo pulang! Loe ngapain masih disini?” tanya Nadya.
Arif masih terdiam, akhirnya Nadya berjalan lebih dekat ke atah Arif. Arif terlihat sedang memegangi bagian dadanya.
“Loe kenapa, Rif? Loe sakit?” tanya Nadya.
Melihat Nadya ada disebelahnya lagi, Arif langsung bersikap biasa.
“Gak, gak apa-apa kok. Ini cuma gatel saja. Ayo kita pulang.” jawab Arif.
Arif pun berdiri dan berjalan menuruni bukit disusul dengan Nadya yang berjalan di belakangnya.
“Gatal? Gak mungkin gatal sampai terlihat kesakitan kaya gitu. Dia kenapa sih sebenarnya?” tanya Nadya dalam hati.
Waktu menunjukan pukul 19:00 dan kini mereka telah sampai di depan rumah Nadya. Nadya memperhatikan dengan serius wajah Arif yang sejak tadi nyengar-nyengir entah kenapa.
“Loe beneran gak apa-apa, Rif?” tanya Nadya.

“Iya, gak apa-apa. Kamu tenang saja.” jawab Arif dengan melempar senyuman ke arah Nadya.

“Ya udah kalau gitu, gue masuk dulu ya.” kata Nadya.
Arif hanya mengangguk saja.

Nadya berjalan ke arah pintu rumahnya, sesekali ia melihat ke belakang melihat mobil Arif yang biasanya akan langsung pergi begitu Nadya berjalan beberapa langkah ke arah rumahnya. Tapi kali ini tidak, ia masih ada disana dan Nadya tak tahu entah kenapa.

Berjam-jam lamanya Nadya terbaring di tempat tidur, membalut seluruh tubuhnya dengan selimut dan mencoba memejamkan matanya namun semua itu tak berhasil membuatnya terlelap. Entah kenapa dia selalu memikirkan Arif, dan tak bisa berhenti memikirkannya. Akhirnya Nadya berjalan ke arah balkon lalu melihat bintang-bintang di langit malam. Sejenak ia melihat ke perumahan komplek yang lampunya padam semuanya dan suasananya sepi. Lalu pandangan matanya terfokuskan pada sebuah mobil yang terletak tepat di depan rumahnya. Mobil yang ia tahu, mobil yang mengantarnya pulang beberapa jam yang lalu dan itu adalah mobilnya Arif.
“Arif, ngapain masih disini?” tanya Nadya dalam hati.
Nadya berjalan menuruni tangga, lalu ke arah pintu dan keluar rumah. Ia langsung menghampiri Arif, melihatnya melalui kaca mobil. Arif tertidur disana, terduduk di kursi mobil, ia tertidur dengan lelap. Nadya bahkan merasa iba untuk membangunkannya. “Tapi bagaimana jika ia tidak tidur? Bagaimana jika justru ia malah tidak sadarkan diri? Mengingat sedari tadi ia terus memegangi dadanya dan bersikap aneh dan sangat berbeda dari biasanya.” dan pertanyaan demi pertanyaan yang menggambarkan kekhawatiran itu hadir mengganggu benak Nadya saat ini. Ia kemudian mengetuk-ngetuk kaca mobil itu berkali-kali, namun Arif tak bangun. Akhirnya ia membuka pintu mobilnya, ia menepuk pundak Arif dan tetap tak bangun juga. Kini ia memengang wajah Arif dengan kedua tanggannya, lalu menggoyang-goyangkan kepalanya, Ia tetap tak bangun. Nadya mulai panik akan tetapi tak tahu harus berbuat apa lagi.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

3 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 7 : Hari Akan Segera Berganti

  1. Hhmmm…apa ini trik balasan Arief ke Nadya? Krn td ia jg dikerjain atau emang sakit bneran? Ahh…mas Aris pling bs dech buat pmbaca pnasaran…😀😀
    Oya, Nadya bs buka pintu mobilnya berarti gak dikunci dong oleh si Arief..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s