Diposkan pada Best Friend, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 8 : Kembali Ke Kantor

Dalam kepanikan itu ia tetap memegangi wajah Arif, dan kini memanggil-manggil namanya. Yang awalnya pelan, pelan kemudian karena ia Arif tak bangun juga, akhirnya iapun bereriak. Arif terkejut karena teriakan itu dan langsung terbangun dari tidurnya.
“Loe gak apa-apa?” tanya Nadya.
Arif tak langsung menjawab, pandangan matanya fokus melirik pada kedua tangan Nadya yang memegangi wajahnya.
“Eh, sorry.” kata Nadya.

“Saya gak apa-apa kok.” kata Arif.

“Syukurlah, gue kira loe tu pingsan tau, gue kira loe mati. Di bangunkan kok susah amat.” kata Nadya.

“Maaf, mungkin saya kelelahan.” kata Arif sambil tersenyum.

“Ya udah, loe pulang sana. Udah malam ini.” kata Nadya.
Nadya tetap berdiri di seberang jalan di dekat rumahnya, kali ini ia ingin memastikan bahwa Arif benar-benar pergi.
“Dia cuma kelelahan, bukan pingsan atau mati. Dan itu karena gue.” kata Nadya dalam hati yang sedikit merasa bersalah karena membuat Arif seperti itu.
Keesokan harinya…

Arif berjalan menuju ke ruangannya di kantor, tanpa ia ketahui Mario mengikutinya dari belakang dengan ekpresi wajah yang serius. Arif duduk di kursi kerjanya dan saat itu pula Mario masuk. Kembalinya Arif ke kantor ini disambut muka kesal Mario.
“Eh, loe kamana aja kemarin? Ngilang seharian, mana nyuruh gue yang handle semua lagi. Gila ya loe?” kata Mario.

“Gue masih bos lho, disini…” kata Arif santai.

“Bodo! Yang jelas gue marah sama loe, gue kesulitan tahu kemarin, binggung gimana mulai semuanya.” kata Mario.

“Tapi loe bisa kan?” tanya Arif.

“Ya, bisa sih.” jawab Mario.

“Itulah mengapa gue mempercayakan semuanya sama loe, itu karena gue percaya bahwa loe itu bisa.” kata Arif.

“Ya udah, gue balik dulu.” kata Mario seraya berlenggang meninggalkan ruangan bos yang sekaligus sahabatnya itu.
Lalu ketika Arif tengah sibuk melihat berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya, sebuah pesan masuk yang berasal dari Nadya.
“Halo Rif, gue udah ada di lobi kantor loe nih… Jemput gue dong!” kata Nadya.

“Lobi? Kok?” tanya Arif pada dirinya sendiri.

“Kok kamu tahu alamat kantor saya?” akhirnya Arif menjawab pesan itu dengan sebuah pertanyaan.

“Ya iyalah, kan ada di kartu nama loe. Ya udah, buruan jemput gue.” jawab Nadya.
Arif berjalan ke arah lobi dengan langkah yang di percepat. Disana nampak seorang gadis duduk di sofa yang ia tahu itu adalah Nadya.
“Hi, udah lama?” sapa Arif.

“Lumayan.” kata Nadya.

“Kamu ngapain kesini?” tanya Arif.

“Main doang, emang kaga boleh?”

“Boleh kok, boleh.” jawab Arif.

“Gue pengen lihat ruangan loe.” kata Nadya.

“Oh, ok. Mari sini saya tunjukan.” kata Arif.
Nadya dan Arif berjalan berdampingan, pemandangan itu tak luput dari perhatian orang-orang kantor. Termasuk Mario, yang tiada henti melihat pada mereka.

Langkah Nadya terhenti ketika Arif masuk ke sebuah ruangan yang paling besar diantara yang lainnya.
“Loe bos disini?” tanya Nadya.

“Begitulah.” jawab Arif santai.

“Gila, keren banget.” kata Nadya.
Tak lama setelah itu, Mario masuk dengan gaya sok coolnya dan langsung mengajak Nadya untuk berkenalan.
“Hi, perkanalkan nama saya Mario.” kata Mario sambil melayangkan tangannya.

“Halo, saya Nadya.” kata Nadya sambil menjabat tangan Mario.
Peristiwa itu berlangsung lama, yang entah kanapa membuat Arif menjadi kesal. Apalagi saat ia dapati Mario tersenyum pada Nadya sambil memgedip-ngedipkan sebelah matanya.

Arif pun sampai harus bangkit dari tempat duduknya hanya demi memisahkan pegangan tangan itu.
“Udah kali, gak usah lama-lama.” kata Arif.

“Yaaa, terserah gue lah. Emang loe siapa? Pacar dia?” tanya Mario.

“Iya, gue emang pacar dia. Makanya gue gak suka kalau loe kaya gitu sama dia.” jawab Arif.
Jawaban itu membuat Mario dan Nadya terkejut. Bagi Mario, ketika Arif telah mamakai kata ‘Loe Gue’ itu adalah pertanda dia sudah bukan Arif yang kalem seperti biasanya, dalam artian dia sedang ngambek, marah atau tidak suka pada suatu hal. Sementara Nadya, hatinya melayang di udara, senyum di wajahnya pun tak bisa ia tahan lagi mengembang namun tetap ia berusaha menahannya. Satu hari yang lalu mereka pernah menjadi pacar pura-pura, dan bila hari ini mereka menjadi pacar yang sesunggunya, Nadya tidak akan keberatan.
“Ya sorry, gue kan gak tau.” kata Mario yang akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Sementara itu Nadya sedari tadi terus berusaha menahan senyum, dan Arif masih dengan muka kesalnya.
“Maaf ya, Mario orangnya emang gitu kalau ada wanita cantik.” kata Arif.

“Gak apa-apa kok.” kata Nadya.
Nadya berharap yang tadi Arif ucapkan akan menjadi kenyataan, dimana mereka akan benar-benar pacaran dan bukan pura-pura lagi.
Dalam kepanikan itu ia tetap memegangi wajah Arif, dan kini memanggil-manggil namanya. Yang awalnya pelan, pelan kemudian karena ia Arif tak bangun juga, akhirnya iapun bereriak. Arif terkejut karena teriakan itu dan langsung terbangun dari tidurnya.
“Loe gak apa-apa?” tanya Nadya.
Arif tak langsung menjawab, pandangan matanya fokus melirik pada kedua tangan Nadya yang memegangi wajahnya.
“Eh, sorry.” kata Nadya.

“Saya gak apa-apa kok.” kata Arif.

“Syukurlah, gue kira loe tu pingsan tau, gue kira loe mati. Di bangunkan kok susah amat.” kata Nadya.

“Maaf, mungkin saya kelelahan.” kata Arif sambil tersenyum.

“Ya udah, loe pulang sana. Udah malam ini.” kata Nadya.
Nadya tetap berdiri di seberang jalan di dekat rumahnya, kali ini ia ingin memastikan bahwa Arif benar-benar pergi.
“Dia cuma kelelahan, bukan pingsan atau mati. Dan itu karena gue.” kata Nadya dalam hati yang sedikit merasa bersalah karena membuat Arif seperti itu.
Keesokan harinya…

Arif berjalan menuju ke ruangannya di kantor, tanpa ia ketahui Mario mengikutinya dari belakang dengan ekpresi wajah yang serius. Arif duduk di kursi kerjanya dan saat itu pula Mario masuk. Kembalinya Arif ke kantor ini disambut muka kesal Mario.
“Eh, loe kamana aja kemarin? Ngilang seharian, mana nyuruh gue yang handle semua lagi. Gila ya loe?” kata Mario.

“Gue masih bos lho, disini…” kata Arif santai.

“Bodo! Yang jelas gue marah sama loe, gue kesulitan tahu kemarin, binggung gimana mulai semuanya.” kata Mario.

“Tapi loe bisa kan?” tanya Arif.

“Ya, bisa sih.” jawab Mario.

“Itulah mengapa gue mempercayakan semuanya sama loe, itu karena gue percaya bahwa loe itu bisa.” kata Arif.

“Ya udah, gue balik dulu.” kata Mario seraya berlenggang meninggalkan ruangan bos yang sekaligus sahabatnya itu.
Lalu ketika Arif tengah sibuk melihat berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya, sebuah pesan masuk yang berasal dari Nadya.
“Halo Rif, gue udah ada di lobi kantor loe nih… Jemput gue dong!” kata Nadya.

“Lobi? Kok?” tanya Arif pada dirinya sendiri.

“Kok kamu tahu alamat kantor saya?” akhirnya Arif menjawab pesan itu dengan sebuah pertanyaan.

“Ya iyalah, kan ada di kartu nama loe. Ya udah, buruan jemput gue.” jawab Nadya.
Arif berjalan ke arah lobi dengan langkah yang di percepat. Disana nampak seorang gadis duduk di sofa yang ia tahu itu adalah Nadya.
“Hi, udah lama?” sapa Arif.

“Lumayan.” kata Nadya.

“Kamu ngapain kesini?” tanya Arif.

“Main doang, emang kaga boleh?”

“Boleh kok, boleh.” jawab Arif.

“Gue pengen lihat ruangan loe.” kata Nadya.

“Oh, ok. Mari sini saya tunjukan.” kata Arif.
Nadya dan Arif berjalan berdampingan, pemandangan itu tak luput dari perhatian orang-orang kantor. Termasuk Mario, yang tiada henti melihat pada mereka.

Langkah Nadya terhenti ketika Arif masuk ke sebuah ruangan yang paling besar diantara yang lainnya.
“Loe bos disini?” tanya Nadya.

“Begitulah.” jawab Arif santai.

“Gila, keren banget.” kata Nadya.
Tak lama setelah itu, Mario masuk dengan gaya sok coolnya dan langsung mengajak Nadya untuk berkenalan.
“Hi, perkanalkan nama saya Mario.” kata Mario sambil melayangkan tangannya.

“Halo, saya Nadya.” kata Nadya sambil menjabat tangan Mario.
Peristiwa itu berlangsung lama, yang entah kanapa membuat Arif menjadi kesal. Apalagi saat ia dapati Mario tersenyum pada Nadya sambil memgedip-ngedipkan sebelah matanya.

Arif pun sampai harus bangkit dari tempat duduknya hanya demi memisahkan pegangan tangan itu.
“Udah kali, gak usah lama-lama.” kata Arif.

“Yaaa, terserah gue lah. Emang loe siapa? Pacar dia?” tanya Mario.

“Iya, gue emang pacar dia. Makanya gue gak suka kalau loe kaya gitu sama dia.” jawab Arif.
Jawaban itu membuat Mario dan Nadya terkejut. Bagi Mario, ketika Arif telah mamakai kata ‘Loe Gue’ itu adalah pertanda dia sudah bukan Arif yang kalem seperti biasanya, dalam artian dia sedang ngambek, marah atau tidak suka pada suatu hal. Sementara Nadya, hatinya melayang di udara, senyum di wajahnya pun tak bisa ia tahan lagi mengembang namun tetap ia berusaha menahannya. Satu hari yang lalu mereka pernah menjadi pacar pura-pura, dan bila hari ini mereka menjadi pacar yang sesunggunya, Nadya tidak akan keberatan.
“Ya sorry, gue kan gak tau.” kata Mario yang akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Sementara itu Nadya sedari tadi terus berusaha menahan senyum, dan Arif masih dengan muka kesalnya.
“Maaf ya, Mario orangnya emang gitu kalau ada wanita cantik.” kata Arif.

“Gak apa-apa kok.” kata Nadya.
Nadya berharap yang tadi Arif ucapkan akan menjadi kenyataan, dimana mereka akan benar-benar pacaran dan bukan pura-pura lagi.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

7 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 8 : Kembali Ke Kantor

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s