Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 14 : Hari Patah Hati Tersakit

Selamat Tinggal Air Mata Part 14 : Hari Patah Hati Tersakit

Beberapa saat lamanya Nadya terdiam, sampai mentaripun hampir seluruhnya terbenam bahkan burung-burung saling sahut-sahutan dari kejauhan.

“Gue… Gue gak bisa jawab sekarang, Rif.” jawab Nadya.

Arif hanya tersenyum mendengar jawaban dari Nadya itu, sementara Nadya tidak mengerti mengapa kata itu yang keluar dari mulutnya. Mungkin karena sesungguhnya hatinya masih ragu.

“Ok. Saya akan sabar menunggu jawaban kamu.” kata Arif.

Malam harinya, Stella dan Arif berencana untuk makan malam di sebuah restoran. Stella telah berada di restoran ini sejak satu jam yang lalu, sementara Arif belum juga datang. Stella bertekat untuk mengungkapkan semua perasaannya pada Arif malam ini, ia juga telah siap dengan segala kemungkinan jawaban yang nanti akan di berikan Arif. Walaupun itu sebuah penolakan, tapi yang terpenting bagi Stella saat ini adalah perasaannya terungkapkan.
Beberapa saat kemudian Arif datang yang masih mengenakan pakaian kantornya yakni kemeja hijau dengan dasi berwarna hijau tua dan di balut dengan jas hitam.

“Maaf, saya terlambat.” kata Arif.
“Akh, gak apa-apa kok.” kata Nadya sambil mengibaskan tangan kanannya.

Nadya meneguk minuman yang ada didepannya itu sebelum pada akhirnya ia memberanikan diri dan mulai bicara.

“Aku mau mengatakan sesuatu hal sama kamu.” kata Stella.
“Apa itu?” tanya Arif.

Sebelum Stella menjawab pertanyaan Arif, Arif terlebih dahulu mengatakan sesuatu yang membuatnya terpaksa mengalah dan mendengarkan cerita Arif lebih dulu.

“Tapi sebelum itu saya mau cerita sesuatu dulu sama kamu.” kata Arif.
“Apa itu?” kini Stella yang bertanya karena penasaran.
“Saya dan Nadya sudah jadian, Stell.” ucap Arif dengan girangnya.

Arif teringat kejadian tadi di jalan pulang menuju ke rumah Nadya. Saat itu Nadya menyuruh Arif untuk berhenti dan Nadya mengatakan sesuatu pada Arif yang intinya adalah ia menerima cinta Arif. Arif tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya, saat itu pula ia memeluk Nadya.
Sementara itu… Jika ada saat yang paling menyakitkan bagi Stella, itu adalah hari ini. Stella ingin sekali mengungkapkan perasaannya yang telah lama terpendam, disisi lain ia tak ingin merusak hari yang bahagia untuk Arif ini. Apalagi dapat dilihat dari ekpresinya Arif terlihat sangat bahagia.

“Oh iya, tadi kamu mau ngomong apa?” tanya Arif.

Stella berpikir saat Arif bertanya akan hal itu, namun ia tak jua menemukan alasan.

“Bentar, aku ke toilet dulu.” kata Stella.

Stella langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Arif. Sesampainya di toilet, Air matanya mengalir membanjiri pipi. Ia menangis tersedu bahkan sampai mencuri perhatian orang-orang di toilet itu.
Lama Stella menunggu sampai air matanya tak mengalir lagi, namun sepertinya tak bisa, air mata itu terus mengalir seiring semakin sesaknya sakit di dada. Akhirnya Stella menghapus air mata itu, lalu kembali pada Arif. Arif yang melihat mata Stella yang memerah lalu memperhatikannya dengan seksama.

“Mata kamu kenapa, kok merah gitu?” tanya Arif.
“Gak apa-apa kok.” jawab Stella.

Lalu setetes air mata mengalir dari pelupuk mata Stella.

“Kamu nangis?” tanya Arif lagi.

Merasakan air matanya yang mengalir kembali itu Stella langsung menghapusnya.

“Gak. Ini tadi kelilipan waktu ke toilet.”
“Ya udah ya, aku pulang dulu.” kata Stella.
“Tapi Stell…”

Stella langsung pergi meninggalkan Arif, langkahnya cepat dan terburu. Arif merasa aneh dengan sikap Stella yang barusan, tidak biasanya ia bersikap seperti tadi.

“Dia bahkan belum cerita apapun.” kata Arif pada dirinya sendiri.

Arif pun ikut meninggalkan tempat itu lalu berusaha mengejar Stella, namun ia dapati Stella telah masuk sebuah mobil taksi. Akhirnya ia urungkan niat mengantar Stella.
Di dalam taksi Stella kembali terisak dan menangis, kesedihan yang teramat sangat benar-benar telah mengambil alih hidupnya. Hal itu terus berlanjut hingga ia sampai di rumahnya. Di dalam kamarnya ia mengambil sebuah frame yang terdapat foto dirinya dan Arif lalu saat itu pula ia melemparnya ke dinding. Setelah itu Stella berjalan ke kamar mandi, lalu masih dengan mengenakan busana ia membasahi tubuhnya dengan shower di malam hari yang dingin ini. Stella benar-benar tak menyangka bila hari dimana seharusnya ia akan mengungkap perasaan, justru menjadi hari dimana ia akan mengalami patah hati tersakit seperti ini.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 14 : Hari Patah Hati Tersakit

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s