Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 15 : Pergi Ke Dokter

Hari berikutnya Stella sakit, tubuhnya panas dan ia hanya dapat terbaring di tempat tidurnya.
Berita tentang sakitnya Stella ini telah sampai ke telinga Arif. Dan malam nanti sepulangnya dari kantor, Arif berencana untuk menjenguknya.
Kini Arif tengah di sibukkan dengan pekerjaannya, bertumpuk-tumpuk maps di atas meja itu harus ia baca dan periksa. Di tambah dengan beberapa maps yang baru saja di berikan oleh Mario.

“Semangat bos!” kata Mario sebelum ia berjalan ke arah pintu keluar.
“Tunggu Io!” kata Arif.
“Apaan?” tanya Mario sembari menoleh ke arah Arif.
“Sini duduk.” kata Arif lagi.

Mario pun menuruti perintah Arif, ia duduk di kursi dan berhadapan dengan Arif.

“Ada apa?” tanya Mario.
“Gue mau nanya sesuatu. Kalau seorang cewek tiba-tiba sikapnya berubah itu kira-kira kenapa ya?”
“Apa ya? Paling dia lagi ngambek.” jawab Mario.
“Ngambek?” tanya Arif lagi.
“Iya. Emang siapa yang berubah? Nadya?” Mario justru balik bertanya.
“Bukan. Si Stella tuh, dia aneh banget.” jawab Arif.

Mario menghela nafasnya, sementara Arif mulai kembali membuka satu-persatu tumpukan maps dan kadang menulis sesuatu disana.

“Sekarang gini, sejak kapan Stella mulai bertingkah aneh sama loe?” tanya Mario.
“Sejak…” Arif memikirkannya,
“Sejak bilang kalau gue sama Nadya jadian.” jawab Arif.

Mario terdiam sejenak, lalu saat itu pula ia berdiri.

“Kalau gue bilang sih, kemungkinan besar Stella suka ama loe.” kata Arif sambil berjalan ke arah pintu dan akhirnya keluar.

Kata-kata dari Mario terngiang-ngiang di telingga Arif,

“Apa benar yang dikatakan oleh Mario?” tanya Arif pada dirinya sendiri.
“Akh, mungkin lebih baik aku biarkan Stella sendiri dulu.”

Arif kemudian melanjutkan kesibukannya dengan tumpukan maps itu, sebelum akhirnya berhenti lagi karena handphonenya berbunyi. Arif pun mengechecknya, disana ada sebuah reminder bertuliskan “pergi ke dokter”.
Arif telah mempertimbangkan lagi, ia berfikir bahwa sakit yang sering ia rasakan bukanlah sesuatu hal yang biasa. Ia pikir ini adalah suatu yang lebih dari itu, maka dari itu ia merencanakan untuk pergi ke dokter.

“Ternyata banyak jadwal.” kata Arif sambil mengusap dahinya.

Arif menutup kembali maps yang telah ia buka lalu mengembalikannya pada posisi semula. Setelah keperluan yang ia bawa dirasa cukup, iapun pergi meninggalkan kantor untuk periksa kesehatan ke dokter.
Mobil Arif melaju dengan kecepatan cepat, karena saat itu sedang jam kerja dan tidak terlalu ramai. Karena luang itulah yang akhirnya membuat Arif sampai di rumah sakit dengan cepat. Sesampainya di rumah sakit ini ia pun teringat bahwa kakaknya(Aziz) bekerja di rumah sakit “Harapan” ini. Aziz merupakan seorang dokter. Berbeda dengan Arif, ia lebih menekuni dunia kesehatan.
Arif buru-buru mendaftar dan melakukan pemeriksaan karena ia khawatir kakaknya akan melihatnya dan memberinya banyak peetanyaan yang sudah terbayang di benak Arif.
Proses pemeriksaannya hanya sebentar saja, ia hanya diperiksa dan di tanyai berbagai pertanyaan. Akan tetapi hasilnya tak keluar hari ini, melainkan besok. Arif pun pergi meninggalkan rumah sakit itu, ia berjalan cepat dan berjaga-jaga agar kedatangannya ini tidak di ketahui oleh Aziz.

“Huh, untung Aziz gak liat.” kata Arif sesampainya di mobil.

Ia pun langsung meninggalkan rumah sakit itu untuk kembali ke kantornya.
Sementara itu Nadya tengah sibuk memperhatikan handphonenya, disana telah ada sebuah isi chat berupa sapaan yang siap dikirim namun tak kunjung Nadya kirim karena takut mengganggu Arif.

Hari berikutnya Arif kembali ke rumah sakit itu, masih dengan berhati-hati dalam melangkah dan melihat ke sekeliling takut kalau kakalnya melihatnya.
Sesampainya di tempat dokter itu, rupanya antriannya panjang. Ia menjadi resah dan takut. Dan benar saja, beberapa saat kemudian Aziz lewat didepannya. Arif langsung meraih koran yang tengah di baca seseorang disampingnya.

“Pinjam bentar!” kata Arif.

Tapi tetap saja, Aziz tak asing dengan kemeja berwarna hijau kontras itu. Dari sekian banyak orang kantoran seperti adiknya, mereka mungkin akan lebih memilih memakai warna-warna yang gelap dibandingkan dengan yang kontras.
Aziz kemudian mendekatinya, berjalan ke arah lelaki yang tengah sibuk membaca koran itu. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu adalah adiknya, ia kemudian mencoba meraih koran itu karena penasaran dengan orang dibaliknya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 15 : Pergi Ke Dokter

  1. Dan jreng….Arif ketahuan, hee…bgtu klau drama Indonesia biasanya. Tp klau utk kjutan ksh belokkan aj crtanya, haha…sy lp, Arif skit apa ya?

    Oya, utk yg berikut bisa dimutakhirkan lg mas (slain itu, ada typo, gpp, gak mengganggu esensi):

    ~~~
    “Kalau gue bilang sih, kemungkinan besar Stella suka ama loe.” kata Arif sambil berjalan ke arah pintu dan akhirnya keluar.

    Kata-kata dari Mario terngiang-ngiang di telingga Arif,
    ~~~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s