Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 16 : Coronary Artery Disease

Hingga akhirnya seseorang menepuk pundak Aziz yang membuat pergerakannya terhenti.

“Dok! Pasien sudah menunggu.” kata seorang suster.
“Maaf.” ucap Aziz.

Aziz pun pergi meninggalkan Arif, hati Arif merasa lega sebab Aziz tak jadi membuka koran yang menutupi wajahnya.
Beberapa saat kemudian nama Arif dipanggil, iapun bergegas masuk kedalam ruangan.
Dokter menyerahkan sebuah amplop putih kepada Arif, entah kenapa ekpresi dokter itu lesu tak bersemangat.

“Ini hasilnya pak.” kata dokter itu.

Arif segera membukanya. Jantung Arif berdetak lebih kencang, tangannya bergetar saat perlahan mulai membuka amplop putih dan pandangan matanya terfokus pada sebuah tulisan yang letaknya berada ditengah dan berhuruf tebal bertulisakan “Coronary Artery Disease”.

“Apa maksudnya ini, dok?” tanya Arif.
“Coronary Artery Disease adalah penyakit jantung koroner.” jawab dokter itu.
“Penyakit jantung?” tanya Arif lagi dengan pandangan mata yang kosong.
“Iya. Penyakit ini…”

Arif bahkan sampai tak mendengar kata-kata dokter itu, ia justru teringat pada kakeknya yang telah meninggal karena penyakit yang sama.
Waktu itu ia masih kecil, usianya baru 10 tahun. Meski begitu ia masih mengingat dengan jelas kejadian itu. Saat itu Arif sedang bermain layangan, sementara kakeknya melihatnya dari kejauhan duduk disebuah bangku taman. Tapi karena layangannya tak kunjung terbang, Arif akhirnya menyerah dan kembali ke bangku taman menemui kakeknya.
Setiap kali Arif rindu pada kedua orang tuanya, ia akan menuliskan sesuatu pada layangan itu. Menuliskan tentang kerinduan, tentang kemarahan dan tentang semuanya. Ia berharap ketika layangan telah terbang tinggi Tuhan akan melihatnya, mengerti isi hatinya dan segera mengabulkan doa dan harapannya. Tapi hari itu angin bahkan tak berhembus, membuat isi hati Arif seolah tak terbaca oleh Tuhan.
Karena lelah, Arif akhirnya tiduran dibangku itu dengan dipangku oleh kakeknya.

“Kakek, kenapa Tuhan tidak mau membaca isi hati Arif?” tanya Arif.
“Memang apa yang kamu tulis?” kekeknya justru balik bertanya.
“Ini, kakek lihat sendiri.”

Sang kakek kemudian meraih layangan itu dan membuca tulisan itu, disana bertuliskan “Tuhan, Arif rindu papa&mama”, “Tuhan, kapan mama&papa pulang?”, & “Tuhan, apakah papa&mama sudah tidak sayang sama Arif?”. Yang terakhir membuatnya terkejut, begitu hebatnya rindu yang Arif rasakan sampai ia berkata seperti itu.

Sang kakek mengangkat kepala Arif, lalu Arif duduk disebelahnya.

“Rif, papa&mama itu kerja buat kamu dan kakakmu. Mereka sampai lama gak pulang karena saking sibuknya. Mereka ingin semua yang terbaik. Kakek harap kamu ngerti ya…” kata kakek.

Arif hanya mengangguk saja. Lalu ia menatap ke arah kakeknya itu.

“Untung Arif masih punya kakek.” kata Arif.
“Kakekpun tak akan selamanya hidup, segala yang hidup pasti akan mati. Yang ada akan tiada.” kata kakek.
“Kakek kok ngomong gitu?”
“Maaf.” kata kakek sambil tersenyum.

Lalu mereka terdiam disana memandangi bunga-bunga di taman yang mekar dengan indah atau sekedar merasakan lembutnya angin yang berhembus.
Hingga Arif bangkit berdiri dari tempatnya saat ini,

“Kakek, Arif mau pulang.” kata Arif.

Lama sekali Arif menunggu sepatah kata dari kakeknya namun ia tak berkata apapun, Arif pun menoleh ke arah kakeknya. Kakek Arif menunduk sambil memejamkan matanya, dan Arif berfikir kakeknya itu ketiduran. Arif kemudian mencoba membangunkannya, tapi sang kakek justru jatuh tersungkur ke tanah. Arif terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia tersadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada kakeknya. Iapun berteriak, yang teriakan itu membuat banyak orang menghampirinya. Arif sangat terpukul atas kepergian kakenya, ia meninggal di masa-masa saat Arif sangat membutuhkannya.

“Saya permisi.” kata Arif.

Masih dengan pandangan mata yang kosong Arif berjalan keluar lalu berjalan di koridor rumah sakit, kali ini ia bahkan tak peduli lagi bila Aziz melihatnya. Hasil dari pemeriksaan itu telah membuatnya hilang semangat, serasa tiada daya untuk menjalani hidup. Ia tahu kapanpun maut bisa menjemputnya, seperti kakeknya dulu yang pergi dengan tiba-tiba.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 16 : Coronary Artery Disease

  1. Kasian skli Arief ya, mengidap sakit jantung koroner..Smoga ada mukjizat ia bs smbuh ya…

    Well, apakah Nadya akan setia mendampingi Arief stlah nnti tahu klau Arief jantungan? Haha..semua kisahnya ada di tngan seorang Arisnohara, haha…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s