Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 17 : Eat, Sleep and Art

Dua minggu sudah Arif tidak masuk ke kantor, dua hari pula ia tak berhubungan dengan siapapun termasuk Nadya pacarnya sendiri. Semua hal di dunia ia tinggalkan lalu ia hanya bermalas-malasan berbaring ditempat tidur atau sekedar jalan-jalan menikmati sisa hidupnya.
Ia mengasingkan diri di sebuah villa di daerah puncak setelah berpamitan pada Mario perihal pengasingan dirinya itu. Meski pada awalnya Mario menolak, akhirnya ia hanya bisa pasrah. Arif tak memberikan alasan yang jelas, hanya berkata “Ingin pergi ke suatu tempat dalam kurun waktu yang lama dan butuh ketenangan”.
Arif melihat kembali pada amplop putih yang ada dilaci, amplop berisi hasil pemeriksaan kesehatannya. Beberapa hari ini hal itulah yang sering ia lakukan, ia selalu berharap pemeriksaan itu salah. Seorang masuk ke dalam kamar Arif tanpa mengetuknya terlebih dahulu, terdengar suara langkah orang itu lalu dengan sigap Arif menutup lacinya dan menoleh ke belakang.

“Kamu kenapa, Rif? Kok sudah lama gak masuk kerja?” tanya Aziz.
“Saya cuma butuh ketenangan bang.” jawab Arif dengan senyuman palsu.
“Kamu kok gak bilang? Setidaknya aku bisa bantu-bantu di kantormu.” tanya Aziz lagi.
“Gak apa-apa kok bang. Semuanya sudah saya percayakan sama Mario. Lagian abang juga sibuk mengurus pasien.” jawab Arif.

Aziz merasa ada yang aneh, ada yang tidak beres dan ada yang disembunyikan oleh adiknya itu. Aziz melihat pada wajah Arif yang pucat lesu, pada baju tidur yang masih dipakai oleh Arif meski sudah siang dan pada tangan Arif yang masih memegangi gagang laci. Iapun kemudian berjalan ke arah Arif, sementara itu Arif terus menjaga laci itu, lebih tepatnya menjaga isi laci itu.

“Muka kamu kok pucet?” tanya Aziz lagi.
“Gak, gak kok. Mungkin karena saya belum makan saja jadinya pucet.” jawab Arif.

Sementara itu, Nadya merasa sangat khawatir pada Arif. Berbagai cara telah ia lakukan untuk bertemu dengan Arif. Dari mulai berkunjung ke rumah sampai ke kantornya, namun semuanya tak membuahkan hasil. Dua minggu sudah Arif hilang bak di telan bumi.
Nadya teringat pada Stella, ia kemudian pergi ke kantor untuk menemui Mario. Siapa tahu Mario punya kontaknya Stella, begitu pikir Nadya.
Tanpa sadar Nadya berjalan menuju ke sebuah ruangan yang besarnya lebih besar dari ruangan yang lainnya yang tak lain adalah ruangan Arif.
Langkah Nadya terhenti ketika ia tersadar bahwa Arif tak ada disana. Lalu ia melihat ke sekitar, berharap ia melihat Mario. Mario terlihat ada disebelah barat disebuah ruangan yang dibatasi oleh kaca. Nadya berjalan kesana, masuk kedalam ruangan itu dan duduk di kursi didepan Mario sebelum ia menyapa Mario.

“Hi, Io!” sapa Nadya.
“Halo, Nad…”

Mario terlihat tengah sibuk dengan pekerjaannya, matanya terfokus pada layar komputer dan jarinya tetap mengetik. Sementara itu di meja ada sekitar puluhan berkas terbungkus maps yang menumpuk. Nadya tahu diri dan tidak akan berlama-lama disini, ia tak ingin sampai mengganggu pekerjaan Mario.

“Loe punya kontaknya Stella gak, Io? Kalau punya, gue minta dong!” kata Nadya.
“Punya.” jawab Mario.

Iapun sejenak melepaskan pandangannya dari komputer itu, mengambil hpnya lalu mencari kontak Stella. Setelah itu ia membacakan nomornya yang kemudian dicatat oleh Nadya. Setelah itu Nadya pun langsung pergi dari sana.
Di dalam sebuah taksi ia menelpon Stella, Stella mengangkatnya, menanyakan siapa yang memberikan nomornya dan pada akhirnya ia memberikan alamat rumahnya.
Nadya kini telah berada didepan rumah Stella, ia mengetuk pintu rumah dan seseorang membukakan pintu.

“Stella nya ada?” tanya Nadya.
“Ada. Dikamar. Masuk saja mbak.” kata seorang asisten rumah tangga.

Nadya pun masuk kerumah itu dan berjalan menuju kamar Stella dengan ditunjukan oleh art itu. Sampailah mereka disebuah ruangan yang letaknya diujung. Pintu kamar itu tak dikunci, Stella terlihat tengah sibuk berada dimeja kerjanya.

“Itu non Stella nya.” kata art itu sambil menunjuk ke arah Stella.
“Saya tinggal dulu.”
“Makasih…” kata Nadya.

Nadya berjalan menuju ke arah Stella. Ia melihat ke arah dinding, disana penuh dengan foto dirinya dan Arif. Lalu ia melihat lagi diatas meja pun penuh dengan foto Stella dan Arif lagi. Tiada foto lain selain foto kebersamaan Stella dengan Arif kecuali sebuah poster bertuliskan “Eat, Sleep and Art”.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

4 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 17 : Eat, Sleep and Art

    1. Pak Desfortin selalu detail

      Gimana ya… Kan Aziz kakaknya Arif, jadi dia punya akses ke manapun tempat milik keluarga mereka.

      Besok hari senin kelanjutannya😅

      Oh iya, di buku “Obituari Negeri Pelangi” saya menyebut nama kamu lho, nama “Desfortin” sbg pembaca setia cerpen saya

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ya…sy tiap bca blog org brusaha utk sllu memperhatikan bbrp detil memang, slain konten jg grammar. Itu sbab, sy sllu kritisi (bkn hnya tulisan mas Aris sj, tp yg lain jg) utk penggunaan awalan ‘di’ sbgai preposisi atau awalan ‘di’ di dpan kta krja pasif (misalnya ‘ditempat’, mestinya ‘di tempat’; ‘di buat’, mestinya ‘dibuat’).

        O bgtu ya. Logis jg sih. Itu berarti villa-nya milik keluarga Arif. Ok sip.

        Ditunggu kelanjutannya ya, Mas Aris. Gak sbar sih, aplgi nnti klau Anda slsai nulis Cerbung ini, Anda kan mau nulis ttg lnjutan Cerpen Wiro sy yg receh itu, hihi…

        Oya? Senang skli bcanya. Udah terbit ya buku tsb? How can I get it?

        Disukai oleh 1 orang

      2. Dulu saya padahal pelajaran bahasa indonesia itu nilainya bagus-bagus lho, tapi cuma bagus aja dan gak suka sastra.

        Begitulah…

        Jadinya Cerbung ya, bukan cerpen😀

        Kirim alamat lengkap kamu via WA ya, nanti aku kasih😄

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s