Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 18 : Terbatas Waktu

“Hi Stell…!” sapa Nadya.

Stella tak langsung menjawab, ia melihat ke arah seseorang yang menyapanya terlebih dahulu dan memastikan kalau itu benar-benar Nadya.

“Halo Nad… Ada apa datang kemari?” tanya Stella.

Benar, memang itu adalah Nadya. Sementara Nadya sendiri merasa keberadaannya tidak diinginkan karena baru saja ia masuk ke ruangan ini malah langsung diberi pertanyaan seperti itu.

“Kamu tahu Arif dimana? Sudah lama ia menghilang tanpa kabar. Di kantor bahkan di rumahnya sendiri juga tidak ada. Di hubungi pun tidak bisa. Siapa tahu dia memberitahu kamu tentang kepergiannya ini.” tanya Nadya.
“Aku gak tahu Nad. Bahkan kalau gak dikasih tahu oleh kamu aku pasti gak akan tahu kalau Arif pergi. Kamu tunggu saja Nad, aku yakin pasti dia akan segera kembali.” jawab Stella.
“Ya sudah kalau begitu, saya permisi. Makasih Stell.” kata Nadya.
“Sama-sama.”

Nadya pun pergi meninggalkan rumah Stella dengan tangan kosong, harapan bila ia akan memperoleh sesuatu dari Stella hanya benar menjadi harapan saja. Nadya mulai putus asa, ia tak tahu lagi kemana harus mencari. Ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan lagi.

Sementara itu, diam-diam Aziz masuk ke kamar Arif. Ia kemudian berjalan menuju ke sebuah laci yang tadi ditutupi oleh Arif. Ia memeriksa laci itu yang hanya berisikan buku-buku dan barang-barang Arif. Sampai akhirnya ia melihat sesuatu yang menyita perhatiannya, sebuah amplop putih berlogo rumah sakit Harapan. Ia membuka amplop itu lalu membaca isi suratnya dengan seksama, sampai akhirnya surat itu mulai basah sebab Aziz mulai meneteskan air matanya.

“Jadi ini alasannya, ini alasan mengapa kamu sampai mengasingkan diri. Aku tahu rasanya pasti sakit sekali, aku juga tahu pasti tak mudah buatmu menjalani semua ini.” kata Aziz dalam hati.

Aziz akhirnya berjalan keluar mencari keberadaan Arif, ia dapati Arif tengah berdiri di balkon lantai dua sambil menikmati pemandangan kebun teh berlatar belakang dua gunung kembar yang megah serta indah. Pelan, Aziz berjalan ke arah Arif sambil membawa amplop putih yang ia sembunyikan dibalik saku celananya.

“Rif!” panggil Aziz.

Arif tak menjawab hanya menoleh dan berbalik badan saja. Sementara Aziz berlari ke arah Arif dan saat itu pula memeluk erat tubuh Arif.
Lalu ia teringat kejadian waktu mereka masih kecil, beberapa bulan setelah kepergian kakeknya. Benar-benar hanya ada mereka berdua, karena meski kakek Arif serta Aziz telah pergi sekalipun tetap tak mampu membuat setidaknya salah satu dari kedua orang tuanya berhenti bekerja dan mengurus anaknya. Arif merasa sangat sedih saat itu, wajahnya murung setiap hari. Sampai akhirnya hal itu memaksa Aziz yang tak peduli pada apapun juga mau tidak mau mulai harus memperdulikan adiknya.

“Kamu yang sabar, kamu tak sendiri. Ada abang disini.” kata yang sama yang dulu pernah Aziz katakan pada Arif.
“Maksud abang?” tanya Arif sambil melepas pelukan Aziz.
“Kamu kenapa gak bilang kalau sakit?” Aziz justru balik bertanya.
“Maksudnya apa bang?” tanya Arif lagi.
“Sudah. Kamu jangan bohong lagi. Abang sudah tahu semuanya.” jawab Aziz.

Aziz kemudian mengeluarkan amplop putih itu dari balik saku celananya lalu menunjukannya pada Arif.

“Maaf, abang ngambil dari laci di kamar kamu.” kata Aziz.
“Jadi abang sudah tahu.” Arif memalingkan wajahnya, ia kembali menatap ke hamparan kebun teh itu. Enggan rasanya melihat amplop putih itu lagi.
“Waktu kamu gak banyak, Rif.” kata Aziz.
“Berapa hari yang saya punya bang?” tanya Arif.
“Aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu, yang pasti tidak banyak.” jawab Aziz.

Bukan tidak bisa membertahukan, lebih tepatnya tidak tega mengatakannya. Bagaimana mungkin ia akan memberitahukan sisa waktu hidup yang dimiliki oleh adiknya itu.

“Jadi saya memang telah benar-benar sekarat.” kata Arif.
“Masih ada waktu, Rif. Mari kita berobat ke luar negeri. Abang akan mencarikan rumah sakit yang terbaik dan kamu pasti akan sembuh.” Aziz bahkan tak yakin saat mengatakan hal itu.
“Tidak perlu bang, itu hanya akan membuang sisa hidup saya. Lebih baik saya disini saja. Hanya saja memang untuk saat ini saya ingin sendiri sampai saya puas dan akhirnya saya akan kembali menikmati sisa hidup.” saat mengatakan hal itu ia langsung teringat pada Nadya, hanya itu yang paling penting baginya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Satu tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 18 : Terbatas Waktu

  1. Hhmm…apkah Arif akn berakhir? Kayaknya inilah yg mnjdi judul Cerbung ini..klau liat dr judul sih kayaknya Arif bkal smbuh, klau brobat ke luar ngri, kan Slmat Tinggal Air Mata, 😀😀
    #ahsayasoktahu

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s