Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 19 : Kembali

Hari berikutnya Arif keluar dari tempat persembunyiannya lalu kembali menjalani hidup. Keluar dari villa itu dan kembali ke rumahnya. Ia juga masuk ke kantornya.
Kedatangan Arif ke kantor ini disambut hangat oleh Mario dan rekan-rekan kerjanya. Betapa riang ekpresi Mario ketika tahu bahwa Arif telah kembali ke bumi ini setelah sekian lamanya. Ia tak perlu lagi bekerja lebih ektra, ia tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan Arif yang memusingkan.
Sebuah pesan masuk di hp Nadya, pesan itu dari Mario.

“Yang dicari sudah kembali nih, Nad.” kata Mario.
“Maksud kamu?” tanya Nadya.
“Arif. Arif sudah pulang. Hari ini saja dia masuk kantor” jawab Mario.

Mengerti akan kabar itu, Nadya pun langsung pergi ke kantor Arif dengan menaiki sebuah taksi. Ia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan kerja Arif, nafasnya memburu ketika ia telah sampai didepan pintu dan bersiap membuka pintu.
Kedatangan Nadya disambut senyuman hangat oleh Arif, sementara Nadya hanya terdiam mematung disana sambil matanya berkaca-kaca.

“Hi, Nad.” sapa Arif yang kini telah berada didepannya.

Tangan Nadya megepal dan seketika memukul keras wajah Arif, bukan hanya sekali namun berkali-kali. Yang hal itu membuat Arif tersungkur ke lantai bahkan bibirnya berdarah serta pipinya biru lebam.

“Loe, itu kemana aja? Gue tu khawatir sama loe. Pergi gak gak ada kabar, gak bilang-bilang.” bentak Nadya yang kini berlinangan air mata.

Mario melihat kejadian itu dari balik pintu yang ia buka sedikit, ia melihat ke arah map yang ia bawa, ia menelan ludahnya sendiri dan akhirnya tak jadi masuk ke ruangan Arif.
Sementara Arif berusaha bangkit berdiri, ia tetap tersenyum meski luka dan berdarah sekalipun.
Ia tak mencegah Nadya melakukan hal itu karena ia tahu bahwa ia memang salah. Menghilang dari semuanya, meninggalkan Nadya tanpa kabar, yang pastinya membuat khawatir.

“Maafkan saya, saya hanya butuh ketenangan.” kata Arif.

Di tempat lain, Stella tengah mengemasi barang-barangnya. Pupus sudah harapannya pada Arif, lagipula Arif terlihat sangat bahagia, iapun harus mencari kebahagiaannya sendiri. Sebelum ke bandara, ia menyempatkan diri pergi ke bukit itu. Ia membuat dirinya mengayun di ayunan itu, lalu duduk sebentar di rumah pohon sekedar mengingat masa-masa bersama sahabatnya yang mungkin tidak akan bisa terulang kembali. Setelah itupun ia berangkat ke bandara.
Meski Stella sudah menjadi designer ternama, namun ia tetap ingin menjadi yang lebih baik lagi. Ingin menjadi yang terbaik. Maka dari itu ia memutuskan untuk kembali bersekolah yang kali ini sekolah di Paris.
Ketika ia telah sampai di bandara, ia melihat ke arah sekitar. Ia amati betul setiap sudut untuk mengingat kota ini, lalu ia menghela nafas dan masuk ke dalam.

Arif terduduk di sofa dengan penuh luka di wajahnya, sedang Nadya tengah membersihkan luka-luka Arif.

“Saya janji tidak akan pergi lagi.” kata Arif.
“Kecuali…”
“Kecuali apa?” sahut Nadya.
“Kecuali saya mati.” jawab Arif dalam hati.
“Ah, gak. Gak jadi.” jawab Arif sambil tersenyum.

Arif tetap mengerjakan pekerjaannya meski wajahnya lebam akibat dipukuli Nadya tadi.
Mario mengamati betul-betul setiap sudut ruangan, ia pastikan tidak ada keberadaan Nadya disana. Setelah dirasa memang tidak ada, iapun kemudian masuk membawa beberapa map tadi.
Ia terheran-heran melihat wajah Arif yang penuh luka lebam itu.

“Gila! Cewek lu preman, ya?” tanya Mario.
“Ya, gitu deh.” jawab Arif santai sambil terus mengetik.

Mario geleng-geleng kepala, ia masih heran dengan Nadya yang begitu. Ia kemudian meletakkan map itu di meja, lalu meninggalkan Arif disana. Dan ketika hendak membuka pintu, ia terkejut karena pintu itu terbuka. Nampak Nadya disana menerobos masuk.

“Nadya, kok balik lagi?” tanya Mario.
“Emang kenapa? Gak boleh?” tanya Nadya.

Tanpa menunggu jawaban Mario, ia pun berlenggang masuk kembali ke ruangan Arif. Mengambil barang yang tertinggal disana.

Di tempat lain…

Hans telah berniat untuk mendapatkan cinta Nadya lagi. Meski dengan hal apapun, meski dengan cara apapun juga. Ia juga telah menceraikan Mira dan pergi dari rumahnya hanya agar bisa benar-benar sendiri.
Kini ia berada di perkiran kantor di depan kantor Arif, dan sebenarnya ia telah mengikuti Nadya sejak tadi dari rumahnya.
Nadya terlihat keluar dari balik pintu kantor itu, kemudian berjalan ke arah parkiran. Menegok ke arah kanan namun tiada tanda-tanda kedatangan taksi yang telah ia pesan.
Sigap, Hans menjalankan mobilnya lalu berhenti tepat disebelah Nadya.
Kaca mobil itu terbuka, nampaklah Hans duduk santai disana.

“Sini Nad, sama aku aja.” ajak Hans.
“Lhoh, Hans? Kok kamu disini?” tanya Nadya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 19 : Kembali

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s