Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 20 : Layangan Isi Hati

Hans termangu untuk beberapa saat karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Nadya setelah sekian lamanya.

“Iya, tadi kebetulan aja lewat.” jawab Hans sambil tersenyum.

Sesungguhnya Hans berdusta, bahwa yang sebenarnya ia telah mengikuti Nadya sejak tadi dari tempat makan faviuritnya. Untunglah Hans masih mengingat tempat makan favourit Nadya itu, untung pula Nadya masih suka makan di tempat itu.

“Kok bisa kebetulan gini ya?”
“Tapi maaf Hans, aku naik taksi aja. Udah pesen soalnya.” kata Nadya sambil berlenggang pergi dari hadapan Hans dengan satu senyum kecil terukir di wajahnya.

Hans tersenyum kecil seiring Nadya yang berlenggang pergi menjauhinya.

“Tak masalah, Nad. Suatu saat nanti, semuanya pasti akan kembali. Kamu jadi milikku, aku jadi milikmu dan kita bersatu.” kata Hans dalam hati.

Taksi itu berhenti tepat di gerbang masuk komplek rumah Nadya, sedang mobil Hans tak jauh berhenti dibelakangnya. Terlihat Nadya keluar dari taksi itu sembari menenteng sebuah tas kecil.

“Rupanya kamu masih tinggal disini…” kata Hans.

Nadya terlihat berjalan memasuki komplek perumahan, diikuti dengan Hans yang meninggalkan tempat itu.

Pagi harinya, Hans telah berada di tempat yang sama, bedanya kali ini ia berada di dalam komplek perumahan itu.
Nadya terlihat keluar dari rumahnya, kemudian masuk ke dalam sebuah taksi. Hans mengikuti Nadya kemanapun ia pergi, sampai pada akhirnya siang itu Nadya bertemu dengan Arif dan pergi ke sebuah tempat yakni bukit yang biasa mereka kunjungi. Hans pun masih tetap mengikuti mereka.
Kini Hans ada di balik sebuah pohon besar, mengamati mereka dari kejauhan.
Arif pergi meninggalkan Nadya yang terduduk di ayunan itu untuk mengambil sesuatu di bagasi mobilnya, rupanya yang ia ambil ialah dua buah layangan berwarna putih polos serta sebuah spidol.
Setelah itu ia kembali ke tempat Nadya. Ketika tengah dekat dengan Nadya, langkah Arif terhenti. Ia merasa di awasi, meski begitu semuanya terlihat baik-baik saja dan Arif pun pada akhirnya menghiraukan hal itu.
Ia kemudian melanjutkan langkahnya, mendekati Nadya didepan sana.

“Nih buat kamu…” kata Arif sambil menyorkan satu buah layangan dan sebuah spidol.
“Maksudnya apa ini?” tanya Nadya.
“Dulu… Saya sering melakukan hal ini kalau saya ingin mengatakan isi hati saya pada tuhan. Kata kakek saya, tuhan akan melihat dan membacanya.” jawab Arif sambil tersenyum karena dibenaknya terlintas seberkas kenangan bersama kakeknya.

Nadya tersenyum sebelum akhirnya menerima layangan dan spidol itu. Lalu mereka terlihat tengah sibuk menulis isi hati atau permintaan di layangan masing-masing.

Di layangan Nadya tertulis,

“Tuhan, aku hanya ingin agar Arif tidak pernah pergi lagi.”

Sementara itu,

“Loe nulis apa?” tanya Nadya sambil melihat ke layangan Arif.
“Eits!!! Gak, boleh lihat.” jawab Arif yang dengan sigap menyembunyikan layangannya.
“Pelit!!!” kata Nadya ketus.
“Ya sudah, lebih baik kita menerbangkan layangan kita.” kata Arif mengalihkan perhatian.

Layangan pun mereka terbangkan, kini keduanya melayang bersama awan di langit yang biru cerah.

“Sebenarnya apa yang Arif tuliskan, kok gue jadi penasaran ya…” kata Nadya dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Arif.

Arif yang sadar bahwa Nadya tengah meliriknya, akhirnya melihat ke Nadya pula.

“Ada apa?” tanya Arif.

Nadya langsung mengalihkan pandangannya,

“Gak. Gak ada apa-apa kok.” jawab Nadya.

Arif mengeryitkan dahi, dan karena dirasa sikap Nadya ini aneh, Arif akhirnya menggili tubuh Nadya demi meraih informasi dari Nadya.
Nadya terpelonjak dari tempatnya duduk, sementara Arif terlalu asik melakukan hal itu sampai tak sadar bila layangannya kini terlepas dari genggamannya.

“Rif, layangan loe tuh.” kata Nadya.
“Yaaah… Nyangkut deh.” kata Arif dengan ekpresi wajah yang kecewa.

Layangan Arif tersangkut tepat di atas genteng rumah pohon.

“Tenang, masih ada punyaku.” kata Nadya sambil menyodorkan benang itu.

Arif pun meraih benang itu, tak berselang lama, tangan mereka saling bersentuhan sama-sama memegang benang itu.

“Memangnya kamu nulis apa?” tanya Arif.
“Gue cuma minta sama Tuhan biar loe gak pergi lagi.” jawab Nadya.
“Sebegitukah takutnya kamu kehilangan saya, Nad.” kata Arif.
“Ya, gak gitu juga. Maksud gue tuh…”
“Apa hayo…”

Arif kembali menggili tubuh Nadya,

“Rif, udah dong. Nanti layanganku juga ikut tersangkut lhoh.” kata Nadya.
“Iya, iya. Maaf deh.” kata Arif.

Hans mulai kesal melihat pemandangan itu, namun ia belum mau mengakhiri pengintaiannya.

“Dasar norak, pacaran kaya gitu.” kata Hans pada dirinya sendiri.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 20 : Layangan Isi Hati

  1. Wah, bkal seru ni…ap si Hans bkal nongol jg nntinya…?
    Hrs sbar menunggu lnjutannya dong ya,😂
    Smpai brp part lg ni, mas Aris?
    Ini ntar dibuat buku kumpulan cerpen aj mas ya…dngan editor hndal psti bkal laku ni buku…

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s