Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 21 : Isi Hati Arif

Hari ini berlalu dengan begitu cepat, semburat cahaya senja yang sosoknya begitu indah terlukis di ujung langit.
Sedang Hans masih berada ditempatnya berdiri sejak tadi meskipun Nadya telah pergi dari bukit itu. Menyaksikan mentari yang terbenam, barang kali cintanya pada Nadya hanya akan terpendam. Suara burung yang berkicauan, mungkin semuanya akan terlupakan. Atau bahkan merasakan semilir angin yang berhembus memberi kesejukan, mungkinkah nanti cintanya akan ikut ia terpa pula.
Tiba-tiba sesosok perempuan yang tak asing lagi berjalan menuju ke arah bukit itu, melewati ayunan dan menaiki anak tangga menuju ke rumah pohon. Sontak hal itu membuat Hans terkejut. Nadya datang lagi, sendirian pula.
Nadya terlihat tengah mencoba mengambil layangan Arif yang tersangkut itu yang letaknya tepat berada di atas genteng rumah pohon.
Hans merasa miris melihatnya, Nadya bisa saja terpeleset lalu jatuh ke tanah yang jaraknya beberapa meter dari ketinggian. Ingin sekali menggantikan hal berbahaya yang sedang dilakukan Nadya itu, akan tetapi ia pun sadar bila ia menolong Nadya maka Nadya akan tahu bila ia mengikuti Nadya.

“Jangan membahayakan dirimu, Nad. Aduh… Kemana pacar kamu itu?” tanya Hans dalam hati.

Nadya berhasil mengambil layangan itu, namun layanan itu segera terjatuh melayang karena Nadya terpeleset dan tubuhnya tergelanting dengan kedua tangannya memegangi bagian teras kayu rumah pohon.
Jantung Hans berdetak lebih kencang lagi, ingin sekali rasanya ia berlari menolong Nadya. Namun, hanya do’a yang kali ini bisa ia berikan.

“Ayo, Nad. Kamu pasti bisa.” kata Hans sambil mengepalkan kedua tangannya.

Dengan susah payah Nadya mencoba terus naik, mengangangkat berat badannya sendiri. Hati Hans merasa sangat lega karena akhirnya Nadya berhasil naik dan terhindar dari celaka.
Sejenak Nadya merebahkan badannya dirumah pohon itu, sekedar untuk melepas lelah. Sementara nafasnya terenggah-enggah serta peluh terus keluar dari keningnya. Sesekali ia pun menghapus peluh yang terus mengalir itu.
Sampai akhirnya ia bangkit berdiri dan menuruni tangga lalu mengembil layangan itu.

Disana tertulis,

“Tuhan, berikanlah aku hidup yang lebih lama agar aku bisa bersama dengan Nadya seperti ini. Tapi jika memang aku harus mati, maka izinkan aku untuk memilikinya. Walau pun untuk sesaat saja”

Layangan milik Arif mulai basah karena Nadya mulai meneteskan air matanya. Hans yang melihat hal itu merasa iba pada Nadya.

“Kenapa kamu menangis, Nad? Memangnya apa yang tertulis disana?” tanya Hans dalam hati.

Nadya pun kemudian bangkit berdiri dan kemudian berlari menuju ke parkiran. Ketika menuruni tangga bukit, Nadya kurang hati-hati hingga terjatuh dan kakinya terluka. Sontak Hans saat itu secara spontan ingin berlari namun segera sadar bahwa ia tak boleh menolong Nadya.
Tinggalah Nadya yang merintih kesakitan dan mencoba berdiri lagi lalu kembali melanjutkan perjalanannya. Sampailah Nadya di parkiran yang di sana masih ada taksi yang kemudian meninggalkan tempat itu.
Hans kembali mengepalkan tangannya, kemudian ia berkali-kali memukulkannya ke arah pohon hingga tangannya terluka.

“Arif, kau pasti akan menerima pembalasanku karena telah menyakiti Nadya.” teriak Hans.

Malam harinya, Arif terlihat beberapa kali melihat pada jam di tangannya. Malam ini mereka memang telah berjanji akan makan malam di sebuah restoran di pinggiran kota Jakarta.
Yang ditunggu pun akhirnya datang juga, Nadya datang dan mencoba berjalan meski kaki kanannya pincang akibat terjatuh di tangga bukit tadi, iamendekati Arif dengan tangan yang ia sembunyikan di balik punggungnya.
Senyum dari wajah Arif seketika memudar ketika melihat Nadya berjalan kesusahan seperti itu, apalagi ketika melihat kakinya di perban.

“Kamu kenapa, Nad?” tanya Arif khawatir.

Nadya hanya tersenyum kecil.

Sementara itu, sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya itu akhirnya ia keluarkan, sebah layangan berwarna putih yakni layangan milik Arif.

“Maksudnya apa ini?” tanya Nadya dengan mata berkaca-kaca.

Arif terpegun melihat layangan miliknya ada pada Nadya, jantungnya berdebar lebih kecang dari biasanya.

“I… Itu…” kata Arif terbata-bata.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 21 : Isi Hati Arif

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s