Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 22 : Permainan Hati

PhotoGrid_1522622358310

Arif mulai berpikir, ia tak mau tulisannya itu mengungkap semuanya dan membuat Nadya bersedih.

 

“Itu isi hati saya,” ucap Arif dengan senyum dan sikap setenang mungkin.

“Gue tahu, tapi maksudnya apa?” tanya Nadya lagi.

“Ya, memang setiap orang pada akhirnya akan mati kan? Dan kita tak tahu kapan itu. Sampai hari itu tiba nanti, saya ingin membuat kenangan-kenangan yang indah bersama kamu, orang yang paling saya cintai.” jawab Arif.

 

Nadya kemudian berjalan lebih mendekat lagi ke arah Arif, lalu ia mendekap erat tubuh Arif.

 

“Untuk alasan apapun, gue mohon jangan pergi lagi. Gue gak bisa hidup kalau gak ada loe.” bisik Nadya.

 

Kemeja Arif mulai basah karena Nadya akhirnya menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia bendung.

Arif melepas pelukan Nadya, ia lalu memegangi wajah Nadya dan menghapus air matanya.

 

“Saya tidak akan pergi lagi.” mengatakan hal itu, hati Arif seperti tertusuk benda tajam yang membuat hatinya sakit.

“Mari kita membuat janji.” ucap Arif lagi.

“Janji?” tanya Nadya.

“Iya… Saya berjanji tidak akan pergi lagi, sementara kamu harus berjanji tidak boleh menangis lagi.” jawab Arif.

“Kamu jelek banget kalau lagi sedih gini,” kata Arif sambil mencubit kedua pipi Nadya.

“Iiih… Apaan sih?” Nadya mengelak.

“Tapi saya serius, Nad. Mulai dari sekarang, ucapkanlah Selamat Tinggal pada Air Mata.” jawab Arif.

“Janji!” ucap Arif sambil menyodorkan kelingkingnya.

 

Nadya membalasnya dan kelingking mereka saling bertemu.

 

Nadya melambaikan tangannya ke arah mobil Arif dan Arif pun membalas dengan hal yang sama.

Mobil Arif pun berlalu dan Nadya berjalan menuju ke rumahnya. Di depan rumahnya terdapat sebuah mobil mewah berwarna hitam yang tak asing bagi Nadya namun ia masih mencoba mengingatnya.

Pintu rumah Nadya terbuka, di sana nampak ada Hans dan juga Nelly yang sedang bercengkerama.

Melihat Nadya, Hans pun tersenyum ramah. Semantara itu Nelly memilih untuk ke lantai dua kembali ke kamarnya membiarkan mereka berdua bersama.

 

“Baru pulang, Nad?” tanya Hans.

“Iya,” jawab Nadya ketus.

“Kamu ngapain kesini?” tanya Nadya.

“Aku…” jawab Hans dengan menujuk ke dirinya sendiri.

“Memangnya gak boleh apa kalau aku main ke rumah orang yang aku sayangi?” Hans balik bertanya.

 

Nadya tercengang mendengarnya, setelah apa yang pernah ia alami dengan Hans, Hans masih bisa berkata ‘sayang’ kepadanya. Baginya ini merupakan permainan hati yang menyakitkan.

Tangannya mengepal, semua emosinya terkumpul disana namun  sebisa mungkin ia menahannya.

 

“Sayang, kamu bilang?”

“Setelah apa yang kamu lakukan kamu masih bisa bilang ‘sayang’? Gak. Tidak ada apa-apa lagi di antara kita Hans, semuanya sudah berakhir.” kata Nadya sembari berlenggang menjauhi Hans, terdapat penekanan pada kata “sayang”.

 

Hans seketika bangkit berlari lalu meraih tangan Nadya,

 

“Aku sungguh-sungguh mengatakan ini. Apakah kamu tahu? Aku bahkan telah menceraikan Mira demi mengejar cinta kamu lagi.” kata Hans.

“Hah! Cerai?” mulut Nadya menganga.

“Kamu gila ya, Han?” tanya Nadya yang kali ini melepaskan genggaman tangan Hans lalu berlari menaiki lantai dua menuju ke kamarnya.

 

Sementara itu Hans masih disana, menyaksikan Nadya hilang di ujung tangga itu lalu kemudian pergi.

 

“Aku gak akan nyerah, Nad. Aku yakin suatu saat aku akan mendapatkan cinta kamu lagi.” kata Hans sambil berlenggang pergi dari rumah Nadya.

 

Hans melaju cepat meninggalkan komplek perumahan Nadya, sementara Nadya menyaksikannya dari balik tirai jendela di kamarnya yang ia buka sedikit. Dari sana terlihat saat Hans menendang ban mobilnya sebelum ia masuk dan meninggalkan komplek ini.

Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar Nadya lalu kemudian membuka pintu kamarnya.

 

“Dia ngapain datang kesini lagi?” tanya Nelly.

 

Beberapa saat lamanya Nadya terdiam sebelum akhirnya ia menjawab,

 

“Dia bilang dia masih sayang sama gue dan mau jadi pacar gue lagi.” jawab Nadya yang masih memperhatikan jalan di komplek rumahnya.

“Sayang?” tanya Nelly lagi.

“Iya, gue gak tahu sekarang harus ngapain. Hal apa yang bisa membuat Hans pergi lagi? Yang pasti gue sama Hans sudah berakhir sejak malam itu, sejak gue ketemu sama Arif.” kata Nadya sambil tersenyum kecil seraya membalikkan badannya yang kini menghadap ke arah Nelly.

“Iya, iya. Sejak loe ketemu sama pangeran kodok loe itu kan?” kata Nelly sembari memalingkan wajahnya.

“Tapi serius deh, gue yang ngeliat doang aja, keganggu. Apalagi loe yang ngadepin.” kata Nelly dengan nada serius.

“Bener juga,” kata Nadya.

“Apa mas Arif tahu semua ini?” tanya Nelly lagi.

“Belum.”  jawab Nadya sambil menggelengkan kepalanya.

“Dan gue harap dia gak harus tahu. Gue harap masalah ini bisa gue selesai’in sendiri.” tambah Nadya.

Penulis:

Simple&Friendly

9 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 22 : Permainan Hati

      1. Iya sih, tapi ya itu… Gak ada yg baca. Kalau kata Kugy “Bukankah sebuah karya akan bermakna bila ada yang meu membacanya”, karena itulah saya tidak ingin karya saya tidak bermakna.

        Suka

    1. Sepertinya kamu gak baca dari part awal deh… Jadi, awalnya Nadya sama Hans itu pacaran. Tapi si Hans secara tiba-tiba memutuskan hubungan cinta dan justru hal itulah yang membuat Nadya bertemu dengan Arif.

      Makasih, tapi saya butuh kritik dan saran yang banyak lho…

      Suka

    1. Iya. Saya kira akan sampai part 24-25 saja, tapi sepertinya akan lebih panjang. Sabar ya, sambil saya menulis cerintanya Wiro juga. Sebenarnya sudah jadi 3 bagiansih, nantinya akan saya buat cerbung😁

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s