Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 23 : Balada Dalam Bis Kota

Tidak ada yang berbeda dengan apa yang dilakukan Nadya di pagi hari. Berjalan sampai keluar dari komplek rumahnya, naik bis dan pergi ke kantor. Hanya saja kali ini ia berangkat lebih awal, ia berangkat untuk sebuah meeting dadakan yang akan di adakan jam 8 pagi.
Hal itu membuat Arif ketinggalan dan tidak berangkat kerja bersama Nadya seperti yang biasa ia lakukan.
Di tengah itu semua, ada Hans yang selalu siap siaga dimana pun dan kapan pun Nadya berada bak seorang bodyguard.
Namun seperti biasanya, ia hanya membuntuti Nadya dari belakang. Yang kali ini ia menyamar sebagai penumpang bis memakai hoodie serta kaca mata yang berwarna hitam dan duduk di kursi paling belakang.
Hal itu tidaklah sia-sia, sebab benar saja, beberapa saat kemudian saat kursi bis belum penuh, seseorang lelaki berparas menyeramkan duduk di sebelah Nadya dan tak lama setelah itu ia merampas tas milik Nadya.
Hans yang melihatnya langsung berlari mengejar orang itu, perkelahian pun tak dapat terelakkan. Mereka berdua berkelahi di saat bis melaju dengan cepatnya, di barengi dengan teriakan histeris orang-orang dalam bis yang pada akhirnya hal itu di menangkan oleh Hans.
Hans kemudian memberikan tas itu pada Nadya, dan hal itulah yang membuat Nadya penasaran kenapa bisa ada Hans di tempatnya saat ini, satu bis yang sama.
Setelah kejadian itu, suasana menjadi hening. Tidak ada yang terdengar selain deru bis ini, sampai akhirnya rasa penasaran Nadya terhadap Hans memecah semua itu.

“Kamu kenapa bisa ada disini?” tanya Nadya yang kini menjauhi Hans meski sudah tidak ada ruang lagi.
“Ya, ini kan tempat umum.” jawab Hans dengan santainya.
“Tapi kenapa harus di bis ini?” tanya Nadya lagi.

Kali ini Hans tak dapat berkata apa-apa, ia hanya terdiam menundukan kepalanya.

“Kamu gak bisa jawab?” tanya Nadya dengan nada sedikit tinggi dari tadi.
“Oh, aku tahu. Jadi selama ini kamu ngikutin aku?” tanya Nadya lagi.

Hans masih saja terdiam,

“Jawab Hans!!!” bentak Nadya.

Kedua tangan Hans mengepal, namun ia masih tak dapat berbuat apa-apa.

“Jadi bener kamu ngikutin aku? Untuk apa Hans?”
“Untuk ngejaga kamu, untuk ngelindungin kamu. Pacar kamu itu gak becus, dia gak bisa ngejaga pacarnya sendiri. Dia melindungi kamu yang hampir jatuh dari rumah pohon, dia gak bisa jagain kamu sampai kamu jatuh dari tangga di bukit dan dia gak bisa menjaga kamu dari penjahat seperti orang yang tadi.” jawab Hans dengan nada tinggi, sampai-sampai seisi bis memandang ke arahnya.

Nadya tercengang mendengarnya, ternyata Hans telah mengikutinya sampai sejauh itu. Hans tahu semuanya, tentang layangan, rumah pohon, bukit yang indah dan tentang Nadya yang jatuh dari tangga.

“Untuk apa kamu melakukan semua itu?” tanya Nadya.
“Berapa kali aku harus bilang, aku suka kamu, aku masih sayang sama kamu dan aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu. Aku tahu aku salah karena telah memutuskan hubungan kita demi jodoh yang di pilih oleh orang tuaku yang bahkan tak ku cintai. Itu adalah kesalahan terbodohku, Nad. Tapi aku janji aku akan menebusnya.” jawab Hans.

Nadya yang sedari tadi memalingkan pandangan ke arah jendela mobil, akhirnya ia menatap lekat kepada Hans.

“Masa itu sudah berakhir dan tidak akan bisa di ulangi lagi, Hansel Christian.” kata Nadya.
“Bisa, Nad. Kamu hanya perlu mencintai aku untuk mengembalikan semuanya.” kata Hans.

Nadya mulai kesal, ia lalu bangkit berdiri lalu menerobos Hans dan turun dari bis itu.
Hans mengejar Nadya, mencegahnya saat hendak menaiki bis yang lain.

“Nad, dengerin aku dulu.” kata Hans sambil memegangi tangan Nadya.
“Apa lagi, Hans?”
“Aku tegaskan sekali lagi, kita tidak akan bisa sama seperti dulu, kita tidak akan pernah bisa. Aku sudah punya Arif, dan dia jauh lebih baik dari kamu. Maka dari itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu. Tidak akan pernah bisa. Camkan itu!!!” kata Nadya sambil meninggalkan Hans di tepi jalan yang belum terlalu ramai itu.

“Kamu menyakiti hatiku, Nad. Aku tidak bisa menerima ini semua, aku terlalu menyayangi kamu, Nad.” kata Hans sambil terus melihat oada bis yang di naiki Nadya yang kini telah jauh dan tak terlihat lagi.

Hans mengepalkan tangannya kembali dan seutas senyum terlukis di wajahnya.

“Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka siapapun tidak akan aku biarkan untuk memiliki kamu.” kata Hans.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 23 : Balada Dalam Bis Kota

      1. Sepemahaman saya yang benar “diadakan” karena “diadakan” menunjukan kata kerja pasif. Mohon kalo salah mohon dibuang jauh-jauh

        Suka

Tinggalkan Balasan ke Desfortin Batalkan balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s