Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Selamat Tinggal Air Mata Part 24 : Setangkai Mawar Merah Yang Terjatuh

Hari pun berganti, dan esok hari itu Nadya dan Arif berjalan-jalan di taman kota. Taman itu tampak ramai, di sana banyak sekali orang-orang yang beraktifitas. Mulai dari lari pagi, bersepada dan lain sebagainya. Sedang Nadya dan Arif ada di taman kota itu hanya untuk sekedar mencari udara segar di pagi hari saja.
Kini Nadya duduk sendirian di bangku taman karena Arif meninggalkannya untuk mengambil sesuatu.
Arif mengambil bekal makanan serta sepucuk bunga mawar warna merah kini tengah ia pegang dan ia sembunyikan di balik punggungnya.
Entah mengapa hati Nadya tiba-tiba menjadi resah, Arif hanya pamit untuk mengambil bekal saja namun kenapa bisa sangatlah lama.
Ia kini bangkit berdiri, berjalan ke kanan dan ke kiri, lalu sesekali ia akan duduk lagi.
Sementara itu, Arif menengok ke kanan dan kiri, ia tengah fokus memperhatikan lalu kendaraan yang pagi itu mulai ramai meski hari itu adalah hari minggu yang seharusnya tidak seramai itu.
Sedang Hans ada di dalam mobilnya, kini mulai menyalakan mesinnya dan melaju pelan.

“Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki Nadya.” ucap Hans ketus.

Arif melihat mobil hitam itu berjalan pelan, ia pikir orang di dalam mobil itu tengah mempersilahkan ia untuk menyebrang. Maka dari itulah Arif kemudian berjalan untuk menyebrang, namun ketika ia tepat sampai di tengah jalan, tiba-tiba mobil itu melaju dengan kencangnya hingga menabrak Arif.
Arif terpental jauh, tubuhnya berkali-kali terguling di jalanan aspal dan kini tubuhnya penuh luka terutama dibagian kepalanya.
Ia masih sadar meski kini hanya diam dan tak bergerak. Matanya memandang pada bunga mawar merah yang terlepas dari genggamannya yang berada tak jauh dari tempatnya terbaring saat ini.
Lalu perlahan pandangan matanya mulai mengabur, kemudian semuanya menjadi gelap dan ia tak sadarkan diri.
Kejadian itu terjadi dengan begitu cepat, ia sampai tak bisa menghindar.
Sementara itu wajah Hans penuh akan peluh, nafasnya pun tergesa. Ia lalu melajukan lagi mobil mewahnya setelah sempat berhenti untuk menengok ke arah Arif. Sempat pula terbesit penyesalan dalam hatinya, namun semua itu telah terjadi.

“Arif mana sih?” tanya Nadya pada dirinya sendiri yang kali ini masih saja mondar-mandir di dekat bangku taman itu.

Ia kemudian berjalan menjauhi bangku, tak sabar rasanya ia ingin menyusul Arif dan meninggalkan aktifitas membosankan bernama menunggu.
Namun perhatiannya tersita ketika ia melihat kerumunan orang berkumpul di tengah jalan yang hal itu pula membuat jalan macet.
Nadya berjalan ke arah kerumunan itu, menyibak orang-orang yang berkerumun.
Entah kenapa degub jantungnya memburu ketika telah dekat. “Semoga firasat buruk kali ini tidak benar.” pikirnya.
Ia berhasil menyibak kerumunan itu, di dapatilah Arif yang terbaring disana dan penuh luka. Sontak ia berteriak memanggil nama Arif.
Ia kemudian memangku Arif, memanggil namanya dan kemudian sesekali pula memeluknya.
Dan dengan bantuan warga, Arif akhirnya bisa masuk ke mobilnya yang tengah Nadya kendarai saat ini.
Beberapa kali Nadya menyetir sambil menghapus air mata yang enggan berhenti mengalir dari matanya sampai akhirnya Arif mengagetkannya.

Nadya menepikan mobilnya sejenak,

“Kamu sudah sadar?” tanya Nadya.
“Kamu siapa?” Arif justru balik bertanya.

Mendengar pertanyaan itu balik dari Arif, seketika Nadya langsung menghapus air matanya.
Arif mulai mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya yang penuh darah, hal itu membuat Nadya semakin panik.

“Kamu kenapa, Rif?”
“Sabar ya, kita ke rumah sakit sekarang.” kata Nadya sambil menghidupkan lagi kendaraannya.

Mobil itupun melaju kencang, sedang sepanjang perjalanan erangan Arif semakin keras. Sampai akhirnya ia berhenti mengerang karena kembali tak sadarkan diri.
Melihat hal itu Nadya semakin melajukan kendaraannya agar cepat sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Arif langsung di bawa ke sebuah ruangan khusus yang tertutup dan tak mengijinkan siapapun masuk tak terkecuali Nadya.
Nadya justru bingung, kepada siapa ia harus berbicara tentang hal ini. Orang tua Arif? Keluarganya? Ia tak tahu, ia bahkan belum pernah ke rumah Arif.
Akhirnya terbesit satu nama dalam benaknya, “Stella”.
Stella terkejut bukan main ketika mendengar kabar itu, ia pun memutuskan untuk segera memesan tiket ke Indonesia meski baru beberapa hari di Paris, Perancis.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Air Mata Part 24 : Setangkai Mawar Merah Yang Terjatuh

  1. Wah, ksian dan naas skli Arif. Ap dia bkal slmat tp mnesia? Tbakanku kyaknya gak slmat dech, kan tabrakan mobil Hans itu kncang dan keras, hrsnya jg mati di tempat, hee….

    Mau bca lanjutannya ah….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s