Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Impian Semu Wiro 2 Part 1

PhotoGrid_1524063758661

 

Beberapa Tahun Kemudian

 

Wiro berada pada hiruk-pikuk manusia didalam bis, iapun hanya bisa berdiri membiarkan tangan kanannya bergelantung pada pegangan itu dan tangan kirinya memegang ransel setelah merelakan tempat duduknya di tempati oleh seorang nenek tua, orang yang dirasa lebih pantas mendapatkannya. Pagi-pagi di jam masuk kerja seperti ini siapapun tak akan mendapatkan tempat duduk bila tidak berangkat sedikit lebih awal. Hal itulah yang sering Wiro lakukan ketika berangkat ke tempat kerjanya.

Wiro kini tinggal di ibukota(Jakarta), ia menjadi seorang guru bahasa inggris di salah satu sma negeri ternama di kota ini.

Menurut kabar yang datangnya dari Miki, Ayu pun sekarang tinggal di kota ini. Namun sayangnya baik Miki maupun Wiro sendiri pun tidak punya kontak Ayu. Terakhir yang ia ingat adalah ketika ia dan Ayu duduk di taman kota(Marunting Batu Aji) dan saling membicarakan tentang mimpi mereka masing-masing.

 

“Kamu serius mau jadi guru bahasa inggris?” tanya Ayu antusias.

“Ya. Itu adalah cita-citaku.” jawab Wiro dengan tegas.

 

Ayu sempat termangu sebelum akhirnya Wiro balik bertanya kepadanya,

 

“Kalau kamu, pengen jadi apa?” tanya Wiro.

“Entahlah… Yang pasti aku ingin menjadi terkenal, agar aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau. Termasuk, orang yang aku sukai.” jawab Ayu sambil menatap lekat pada mata Wiro.

 

Wiro menyadari tatapan mata yang aneh itu, ia segera memalingkan matanya ke arah bunga-bunga yang bermekaran di antara hamparan rumput nan hijau.

 

“Memangnya siapa yang kamu suka?” tanya Wiro basa-basi, meski sudah tahu orang yang di sukai Ayu adalah dirinya sendiri.

“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan yang bahkan kamu sudah tahu, Wir.” jawab Ayu dengan tersenyum.

 

Sejak hari itulah mereka tidak pernah bertemu lagi, bahkan ketika teman-temannya mengantarkan Wiro ke bandara pun hanya Ayu seorang yang tak ada disana.

 

Sesampinya di terminal, Wiro masih harus berjalan kaki menuju ke sekolahan. Untung saja jaraknya tidak terlampau jauh hanya beberapa meter saja dari sana.

Di perjalanan menuju ke sekolah, ia dihampiri oleh seseorang wanita. Orang itu ialah Ulfa, seorang guru bahasa indonesia yang mengajar di sekolah yang sama dengan Wiro.

 

“Pak Wiro.” sapa Ulfa.

“Iya, bu Ulfa.” balas Wiro sembari menyunggingkan senyum.

“Tidak perlu pakai kata ‘bu’ juga kali.” kata Ulfa.

“Anda juga tidak perlu pakai kata ‘pak’ kalau begitu.”

“Hehe, maaf. Habis kebiasaan sih.” kata Ulfa lagi sambil nyengir.

 

Bukan sebuah kebiasaan bagi Ulfa untuk datang ke sekolah sepagi ini, namun untuk seseorang yang ia cintai apapun pasti akan dia lakukan. Apalagi hanya sekedar berangkat kerja lebih pagi, meski ia belum tahu apa yang akan ia lakukan nanti bila datang sepagi ini.

 

“Ya sudah, kalau begitu diluar sekolah kita anggap itu sebagai kata yang tabu. Setuju?” kata Wiro.

“Setuju pak.” kata Ulfa.

“Tuh kan!” kata Wiro sambil menatap tajam.pada mata Ulfa.

“Maaf, saya lupa.”

“Setuju Wiro!” seru Ulfa.

 

Mereka pun saling berjabat tangan sebagai tanda perjanjian yang baru saja mereka buat tentang panggilan diluar sekolah.

 

Malam harinya, Wiro mengerjakan setumpuk pekerjaan yang ia letakkan di atas meja yang tak kunjung selesai meski sejak sedari tadi ia mengerjakannya. Ia merasa jenuh, iapun menyalakan televisi di depan sana yang jaraknya hanya sekitar tiga meter saja. Tidak ada yang menarik yang dapat menghiburnya saat ini kecuali sebuah film drama berjudul “Selamat Tinggal Air Mata” yang baru Wiro tonton sekejab saja langsung berganti iklan produk susu.

Ia menghembuskan nafas panjang sebelum membiarkan kepalanya mendarat di meja bersama tumpukan buku-buku yang berserakan dan mengerjapkan matanya. Dan meski ia hanya mendengar kata-kata yang di lontarkan oleh iklan tersebut, namun ia tak asing dengan orang yang mengucapkannya.

 

“Ayu!” katanya dalam hati.

 

Buru-buru ia bangun dan melihat ke arah televisi itu namun lagi-lagi iklan itu pun sudah berganti dengan yang lainnya. Ia juga sebenarnya masih tidak terlalu yakin dengan apa yang ia dengar.

 

“Yang tadi itu, beneran suara Ayu Apa cuma aku yang lagi kangen dia aja ya?” tanya Wiro pada dirinya sendiri.

 

Wiro akhirnya mematikan televisi itu dan mulai kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum usai sebelum malam menjadi semakin larut.

 

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Impian Semu Wiro 2 Part 1

  1. Wah, fiksinya dimulai nih…Keren..ternyata Cerbung Slmat Tinggal Air Mata yg sllu dibaca Wiro sbnyak 25 part itu kini sdh jd drama televisi, yeay…

    Hhmm …bkal ktmu dg Ayu gak ya? Sy ikuti crtanya ya, hahaha…. smoga kinerja Wiro gak terganggu oleh urusan cinta lg..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s