Diposkan pada Cerpen

Impian Seme Wiro 2 Part 3

PhotoGrid_1524063809833

Ulfa pulang dengan diantar oleh Wiro menggunakan si hijau tua yang memang sudah tua itu. Akhirnya si hijau tua pun menjadi berguna.
Namun mobil itu mogok meski baru beberapa meter saja keluar dari komplek rumah Wiro. Mobil itu mecet di kala mentari tengah terik-teriknya, ketika panasnya sangat menusuk dan ketika jalanan ramai. Hal itu mengaharuskan Wiro serta Ulfa mendorongnya sampai ke bengkel terdekat.
Sebuah mobil mewah menghampiri mereka, terbukalah kaca mobil dan nampaklah seseorang didalamnya. Orang itu ialah seorang lelaki tampan yang berpenampilan santai dan antimainstream.
Ia tersenyum ke arah Wiro dan Ulfa sebelum akhirnya melambaikan tangannya.

“Ulfa!” sapa lelaki itu.

Ulfa hanya terdiam, pura-pura tak mendengrnya dan terus begitu meski lelaki itu memanggilnya berkali-kali.

“Ulfa, kamu dipanggil tuh…” kata Wiro.
“Biaran aja, Wir.” kata Ulfa ketus.

Karena di hiraukan oleh Ulfa, akhirnya lelaki itu keluar dari mobil dan mendekati Ulfa.

“Hi!” sapa lelaki itu.
“Halo!” Wiro tersenyum padanya.

Sementara itu Ulfa masih terdiam,

“Perkenalkan, nama saya Eric.” kata lelaki itu sambil menyodorkan tangannya.
“Saya Wiro.” Wiro segera menyodorkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan.
“Saya teman Ulfa, teman baik Ulfa.” kata Eric.

Mulut Ulfa melongo,

“Mobilnya kenapa?” tanya Eric.
“Ini, mogok biasa. Maklumlah, mobil tua.” jawab Wiro.
“Kalau begitu, saya panggilkan mekanik ya.” kata Eric.

Belum sempat Wiro berkata-kata, Eric sudah terlanjur menghubungi mekanik yang ia maksud tersebut.

“Halo…”

Beberapa saat kemudian,

“Sudah saya telepon, sebentar lagi juga pasti datang.” kata Eric sambil tersenyum.
“Kalau gitu, kamu ikut aku aja Fa. Dari pada nunggu mobilnya selesai dibenerin, kan lama.” kata Eric lagi.

Ulfa kembali melongo, yang kemudian ia teruskan dengan mengeryitkan dahinya.

“Iya Fa, kamu lebih baik ikut Eric saja.” kata Wiro.
“Sialan kamu, Ric!” bentak Ulfa dalam hatinya.
“Ya udah, aku duluan ya, Wir.” kata Ulfa sambil melempar senyum palsu.

Batin Ulfa memekik, Eric benar-benar telah merusak moment pentingnya bersama Wiro. Meskipun itu hanyalah berdua ditengah terik mentari disaat mobil sedang macet sepeti ini. Lagipula Wiro juga telah mengusirnya secara halus, jadi Ulfa tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikuti perintahnya.
Sementara itu Wiro berusaha memperbaiki si hijau tua itu sendiri sebelum mekanik yang tadi di telfon Eric datang. Tentu saja dengan berbekal pengalaman seadanya.
Mobil Ayu melintas di jalan itu, Ayu sempat melirik ke arah seseorang yang tengah menghapus peluh dari wajahnya itu.

“Wiro!” kata Ayu.
“Pak, pak, berhenti!” kata Ayu sembari menepuk kursi supir berkali-kali.

Mobil itupun berhenti menepi ke seberang sana berada tepat didepan mobil Wiro.

Ayu keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Wiro.

“Permisi.” kata Ayu.

Wiro pun menoleh, betapa terkejutnya ia ketika yang ia lihat adalah Ayu, temannya waktu sekolah dulu.

“Ayu, kamu…” Wiro termangu untuk beberapa saat.
“Wiro, ternyata benar. Kira’in cuma khayalanku saja.” kata Ayu sambil tersenyum.
“Apa kabar?” tanya Ayu sambil menyodorkan tangan.

Wiro melihat pada telapak tangannya yang penuh oli,

“Kotor.” kata Wiro.
“Mobil kamu kenapa, Wir?” tanya Ayu.
“E… Ini nih, biasa mobil tua selalu mogok. Tadi juga udah ada yang manggilin mekanik, tapi belum datang juga.” jawab Wiro.

Mekanik itu datang tepat saat Wiro selesai menjawab pertanyaan Ayu.

“Itu udah datang mekaniknya.” kata Ayu sambil menujuk ke dua orang yang berboncengan dengan mengenakan pakaian bertuliskan ‘AS Motor’ berhenti tepat di dekat mobil Wiro.
“Ya udah, ditinggal aja. Lebih baik kamu ikut aku aja.” kata Ayu.
“Eh, entar dulu.” kata Wiro.
“Tunggu bentar ya…”

Wiro berjalan ke arah dua orang yang berada tak jauh dari mobilnya itu, mereka berbincang-bincang untuk beberapa saat sebelum akhirnya Wiro pun kembali.

“Jadi, kita mau kemana?” tanya Wiro.
“Udah, ikut aja.” jawab Ayu.

Ayu menggandeng tangan Wiro dan membawa Wiro ke mobilnya. Wiro hanya hanya bisa menuruti apa kemauan Ayu.
Lagipula ia masih tak percaya bila itu benar-benar Ayu, ia masih mengira bahwa ini merupakan khayalannya saja dan ini ia masih berpikir bahwa ini adalah mimpi.
Tak banyak yang berubah di diri Ayu, mungkin hanya penampilannya saja yang mewah dan membuatnya terlihat bersih.
Senyum itu masih seramah dulu, sama seperti setiap kali Ayu bertemu Wiro. Mata itu masih memancarkan cahaya ketulusan yang terselubung sejuta arti.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Satu tanggapan untuk “Impian Seme Wiro 2 Part 3

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s