Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Impian Semu Wiro 2 Part 4

PhotoGrid_1524063822932

Dari mulai menonton film, bermain games sampai makan di restoran mewah sudah mereka lakukan, dan selama itu Wiro hanya diam tetap termangu menandakan betapa takjubnya ia pada perubahan orang yang di depannya, Ayu.

Malam itu, mobil mewah Ayu memasuki komplek perumahan Wiro yang sudah sepi. Rumah Wiro sendiri ada di ujung komplek.

 

“Jadi kamu tinggal disini?” tanya Ayu.

 

Wiro menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil,

 

“Ok. Lain kali aku main kesini ya… Gak terlalu jauh juga dari rumahku kok.” kata Ayu.

 

Lagi-lagi Wiro hanya mengangguk.

 

Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Wiro, sementara Ulfa yang sedari tadi menunggu di depan teras rumah Wiro mulai bertanya dalam hati perihal siapa yang datang ke rumah Wiro itu. Ulfa sendiri baru-baru ini sering mampir ke rumah Wiro setiap malamnya hanya untuk mengantarkan martabak telur kesukaan Wiro.

Sejak saat itulah Wiro tak pernah repot-repot keluar malam untuk mencari martabak telur kesukaannya. Hal itulah juga yang membuatnya menyesal telah mengatakan pada Ulfa tentang makanan kesukaan.

Deru mobil itu di matikan, lampu mobil juga, sedang salah satu pintu mobil terbuka mengeluarkan Wiro dari sisi kanan.

Seketika Ulfa langsung terlonjak melihat Wiro, seutas senyum terlukis di wajahnya.

 

“Hi, Wir,” sapa Ulfa.

“Halo, Fa. Udah lama?” tanya Wiro.

“Lumayan. Ini, ada martabak telur buat kamu.” ucap Ulfa seraya memberikan kotak makanan itu.

“Kamu ni, Fa. Kebiasaan. Kan aku udah bilang, gak usah repot-repot gini.” kata Wiro.

“Akh, gak kok. Gak ngerepotin sama sekali.” kata Ulfa seraya tersenyum kembali.

 

Namun senyuman di wajah Ulfa itu tak berlangsung lama ketika dari sisi kiri keluar sesosok perempuan yang pastinya satu Indonesia juga sudah tahu. Masayu Anastashia. Artis terkenal itu, ada di rumah Wiro pula.

 

“Dia siapa, Wir?” tanya Ulfa.

“Ayu, masa kamu gak tahu…”

“Aku tahu. Tapi, maksud aku bukan itu. Dia siapanya kamu?” tiba-tiba saja pertanyaan itu seperti di lontarkan dengan amat serius.

“Dia temen aku, gak nyangka bisa jadi artis terkenal.” jawab Wiro seraya tersenyum bangga.

“Hi…?” sapa Ayu ramah.

“Halo…” balas Ulfa dengan senyum yang di paksakan.

“Siapa nih, Wir. Pacar kamu?” tanya Ayu.

“Akh, bukan. Kami cuma rekan kerja kok.” jawab Wiro cekatan.

 

Mendengar hal itu entah kenapa hati Ulfa sakit, meski pada kenyataannya memang benar bahwa mereka hanyalah rekan kerja, tak lebih dari itu.

 

“Udah malam, Wir. Aku pulang dulu ya…” ucap Ulfa seraya berlenggang pergi.

 

Wiro bahkan belum mengiyakan, namun Ulfa sudah melangkah pergi.

 

“Ya udah, masuk dulu yuk…” ajak Wiro.

“Gak usah, udah malam. Gak enak sama tetangga.” kata Ayu.

“Aku pulang dulu ya.” kata Ayu.

“Ok. Sampai ketemu lagi.” kata Wiro sembari melambaikan tangannya.

 

Mobil Ayu sudah raib di ujung jalan komplek sana, kini Wiro tengah berjalan kembali menuju ke rumahnya. Sebelum masuk ke rumah ia menoleh ke arah garasi, disana si hijau tua sudah terparkir rapi. Setelah itupun ia masuk.

Baru beberapa langkah saja ia masuk rumah, ia teringat sesuatu. Martabak telur dari Ulfa masih ada di luar. Buru-buru ia mengambil martabak itu dan kembali masuk.

Ia kemudian berhadapan lagi dengan setumpuk pekerjaan yang belum usai kemarin. Beruntung ada martabak yang mengganjal perutnya yang keroncongan.

Ia mulai merasa bahwa Ulfa itu bukan hanya rekan kerja, melainkan sesuatu yang lebih. Bayangkan, setiap hari ia membelikan Wiro martabak dengan harga sekitar 50 ribu setiap kotak.

Jika Ulfa membelikan martabak setiap hari, maka setiap bulannya Ulfa akan menyumbang Rp.1.5000.000 untuk keberlangsungan hidup(makam malam) Wiro.

Dan jika itu berlanjut sampai satu tahun, maka Ulfa akan menyumbang sebesar Rp.18.000.000, DELAPAN BELAS JUTA. Pakai huruf Kapital.

Itulah mengapa Wiro selalu berusaha mencoba menghentikan aksi baik malaikat tak bersayap bernama Ulfa ini meskipun hasilnya selalu gagal.

 

Sementara itu di kos-kosan Ulfa…

 

Si kembar Ana dan Ani tengah mendengarkan cerita Ulfa, namun rupanya mereka lebih tertarik kepada orang ketiga.

 

“Masayu Anastashia!” teriak Ana.

“Artis terkenal itu kan???” tanya Ani.

“Harus berapa kali sih, gue ngejelasin? Iya. Iya. Itu memang Masayu Anastashia” jawab Ulfa ketus seraya menarik selimut.

“Saingan loe berat, Fa.” ucap Ana lagi.

“Bener tuh.” Ani ikut menimpali.

“Udahlah, gue capek, mau tidur.” ucap Ulfa seraya berbalik memalingkan pandangan dari wajah si kembar yang serius dan menatap jendela yang tirainya terbuka itu.

 

“Tapi bener juga kata mereka, tak mungkin bisa sedekat itu bila hanya teman. Pasti lebih dari itu.” pikirnya.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Impian Semu Wiro 2 Part 4

  1. Wow, ternyata Ayu, si artis terkenal itu Masayu Anastasia :)) keren…keren …

    Oya, kok kyak kebetulan ya, dulu di skolah Wiro itu ad juga tmn Wiro yg bernama Ani dan Ana. Mereka memang saudara kmbar.

    Wah, mkin seru ni imajinasi sang pembuat Cerbung. Moga2 ad kisah si Luna itu di ujung cerita. :))

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s