Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Impian Semu Wiro 2 Part 5

PhotoGrid_1524063835287

Dimas, asisten pribadi Ayu tengah membolak-balikan kertas pada buku catatan yang ia pegang. Ia tengah memilih aktifitas mana saja yang nantinya akan Ayu kerjakan.

 

“Gue udah me-manage aktifitas loe, udah banyak yang gue kurangi. Paling cuma syuting iklan produk minuman dan makanan.” ucap Dimas seraya terus mencatat.

 

Memang, sejak di diagnosis, aktifitas Ayu menjadi drastis berkurang. Akibatnya, dari mulai tawaran main film sampai ftv terpaksa harus ia tolak.

Dimas melirik ke arah Ayu, sandwich dan segelas susu itu masih utuh. Sedangkan Ayu malah senyam-senyum sendiri.

 

“Yu! Loe dengerin gue gak sih?” tanya Dimas ketus.

“Denger kok, Wir,” ucap Ayu spontan yang bahkan Ayu sendiri pun terkejut.

“Wir?”

“Siapa itu, Wir?”

“Wiro Sableng?”

“Bukan. Namanya Wiro Natanegara, dia itu temen gue!” jawab Ayu.

“Bodo amat! Mau Wiro Natanegara kek, mau Wiro Sableng juga gue gak peduli. Yang penting sekarang, loe harus makan.” ucap Dimas seraya menambah sandwich Ayu.

 

Di tempat lain…

 

Wiro berlari buru-buru menuju ke ruang guru, sementara itu Ulfa berjalan santai sembari mengecheck buku-buku yang ia bawa.

 

Dan,

 

“Brak!!!” tabrakan pun tak terelakkan.

 

Dokumen serta buku-buku mereka berserakan di lantai, sedang keduanya sama-sama terjatuh. Bibir Ulfa monyong, pertanda bahwa ia siap menyemprotkan kekesalannya pada orang yang baru saja menebraknya itu.

Andai saja itu bukanlah Wiro, maka sungguh Ulfa akan berceloteh dari pagi ini sampai pagi besok.

 

“Maaf, saya sungguh teledor.” ucap Wiro sambil membereskan buku yang berserakan itu.

“Gak apa-apa, saya juga kurang hati-hati tadi.” balas Ulfa.

 

“Hari ini kamu tampan sekali, Pangeran. Bukan. Maksudku lebih tampan dari biasanya. Rambutmu terurai terbawa angin, kemejamu selalu rapi dan senyum itu, sungguh, selalu membuat hatiku meleleh.” batin Ulfa.

 

Setelah memunguti buku Ulfa, Wiro segera memberikannya, setelah itu ia pun pergi.

 

“Saya buru-buru, sekali lagi saya minta maaf ya.” ucap Wiro.

 

Ulfa membalasnya dengan senyuman,

 

“Mau di tabrak setiap hari juga tidak apa-apa, tidak sakit sama sekali dan justru menyenangkan.” kata Ulfa dalam hati.

 

Ulfa kemudian melanjutkan langkahnya, menuju ke ruang kelas dua.

Ia kemudian mengajar sampai waktu istirahat jam kedua.

Bel istirahat pun terdengar, semua siswa pergi meninggalkan ruang kelas. Tinggalah Ulfa sendiri disana yang kini tengah sibuk mencari buku miliknya.

Perhatiannya tersita ketika melihat sebuah buku usang berjudul “Memories” yang ia tahu bahwa itu bukan miliknya.

Ulfa pun membuka buku itu,

Di halaman pertama ia melihat foto Wiro waktu masih Sma dengan gaya nyentrik yakni kedua tangan di pinggang. Foto itu sukses membuat Ulfa tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak, sedang Wiro, orang yang di anggapnya pangeran itu biasanya terlihat cool dan keren namun nyatanya bisa juga bergaya demikian.

Di halaman kedua nampak foto Wiro bersama kelima temannya yakni ; Ayu, Dini, Hardi, Beni dan Miki. Ulfa tahu karena di setiap foto tertulis sebuah nama.

 

“Ayu?” tanya Ulfa dalam hati.

“Jadi ini Masayu Anastashia versi jadul,” timpalnya.

“Jelek banget!” kata Ulfa lagi sembari tertawa kecil.

 

Halaman berikutnya masih sama, menampilkan potret kebersamaan Wiro dan keempat temannya.

Perhatiannya tertuju pada sebuah pita merah yang menjadi pembatas buku tersebut. Ulfa pun membukanya, pembatas itu ada tepat di bagian tengah. Disana ada foto Wiro yang masih memakai seragam sma. Ulfa masih tersenyum sama senangnya ketika melihat foto itu pula. Sedang di sebelahnya ada sebuah sticker berbentuk cinta yang di tempelkan di tengah-tengah, lalu di sebelahnya lagi ada foto wanita cantik bertuliskan “…. my love”, kata pertama telah di coret-coret sehingga tidak terlihat dengan jelas.. Entah kenapa hati Ulfa terbakar melihat foto yang satu ini, masalah Ayu saja belum selesai, ini ada lagi perempuan yang lain.

 

“Kelihatannya mereka serasi,” ucap Ulfa.

“Akh, apa-apaan aku ini. Kesal!!!” teriak Ulfa.

“Tapi, kok aku kaya kenal sama cewek ini? Tapi, siapa ya?” tanya Ulfa pada dirinya sendiri.

 

Ia pun kemudian menutup buku itu dan tak pernah berniat untuk membukanya kembali.

 

Beberapa saat kemudian Wiro datang membawa sebuah buku novel yang disana tertulis nama pemilik novel itu yakni Ulfa sendiri.

Rupanya novel itu ikut terbawa ketika pagi tadi mereka bertabrakan di koridor sekolah.

 

“Maaf, ini punya anda.” ucap Wiro sembari menyodorkan novel itu.

 

Ulfa terlonjak dari tempat duduknya, sebuah kebiasaan ketika berhadapan dengan Wiro.

 

“Oh, iya.” kata Ulfa.

“Ini juga punya anda, pak.” kata Ulfa sambil memberikan buku Wiro.

“Terima kasih,” ucap Wiro sembari menerima buku itu.

“Kalau begitu, saya pamit dulu.” ucap Wiro sembari tersenyum ramah.

 

Wiro pun berlenggang pergi, meninggalkan Ulfa yang sedang luluh hatinya.

 

“Senyummu selalu bisa meluluhkan hatiku, melemahkan pikirku, menghilangkan segalanya hingga yang ada hanya kamu dan kamu.” batin Ulfa.

 

“Tak peduli siapapun itu, orang di foto yang tadi, Ayu, atau siapapun. Aku pasti akan hadapi mereka.”

 

“Pasti bisa!” kata Ulfa bersemangat.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Impian Semu Wiro 2 Part 5

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s