Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Impian Semu Wiro 2 Part 6

Wiro membuka pintu rumahnya, ia kemudian masuk. Merebahkan badannya di sofa, menaggalkan jas hitamnya, meninggalkannya berserakan bersama tas kerjanya di sofa lalu di lanjutkan dengan berjalan ke arah kamarnya.
Ketika ia berjalan ke arah kamarnya, ia mendengar suara gaduh yang berasal dari dapur. Sejurus kemudian, terciumlah bau masakan yang mampu menggugah selera. Wiro berjalan ke arah dapurnya, dan benar, disana nampak seseorang terlihat tengah memasak sebuah masakan dengan lihainya.

“Siapa ya?” tanya Wiro.

Perempuam itu berbalik, nampaklah Ayu yang tetap terlihat cantik meski berbalut celemek.

“Ayu,” ucap Wiro.
“Iya. Maaf ya, aku masuk dapur kamu gak ijin dulu. Habisnya kamu lama sih, pintu rumah kamu juga tidak di tutup.” ucap Ayu.
“Ya, gak apa-apa kok.” kata Wiro.

Wiro pun mendekati Ayu, memandangi dapurnya yang berantakan.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Wiro.
“Gak ada. Udah selesai tau.” jawab Ayu sambil memonyongkan bibirnya.
“Ya udah.” Wiro pun pergi meninggalkan Ayu.
“Wait!” teriak Ayu.
“Ada apa? Katanya gak mau di bantu,”
“Setelah ku pikir-pikir, kamu bisa kok, bantu finishing.” kata Ayu.
“Hmmm, tadi gak mau di bantu.”

Wiro pun kembali ke dapur, membantu proses finishing masakan Ayu.
Tidak seperti kemarin yang masih canggung, kini Wiro sudah kembali terbiasa. Ayu yang sekarang juga masih sama dengan yang dulu, hanya saja memang penampilannya saat ini berubah 180 derajat.
Wiro membentuk sebuah bentuk dengan saos dan mayones, sementara itu Ayu menghardiknya karena bentuknya buruk.

“Bukan gitu, Wir!” hardik Ayu.
“Lha, terus?” tanya Wiro.
“Yang bener, gini nih…”

Ayu mengambil mayones yang ada di piring itu lalu seketika mengusapkannya ke wajah Wiro, setelah itu Ayu berlari demi menghindari serangan balasan dari Wiro.
Namun Wiro berhasil mengejar Ayu dan membalasnya. Sampai wajah mereka penuh mayones, barulah perang itu di hentikan.
Mereka kompak membersihkan wajah mereka yang kotor karena mayones itu dengan tissue, berbeda dengan wajah Wiro yang langsung bersih, wajah Ayu justru masih banyak menempel mayones. Hal itulah yang membuat Wiro membantu Ayu untuk membersihkannya.
Wiro pun mengusap halus noda-noda putih itu dengan tissue, sementara Ayu hanya terdiam, mematuhi apapun yang akan dilakukan Wiro.
Wiro memegang dagu Ayu dan wajah mereka kini berhadapan, jantung Ayu berdegub kencang dan seperti akan meledak, nafasnya memburu, peluhnya pun menetes, tapi matanya tiada sekalipun berkedip.
Melihat hal itu, Wiro pun berbalik menatap mata Ayu. Menelusur jauh kesana, mata Ayu masih memancarkan sinar yang sama seperti beberapa tahun lalu saat mereka masih duduk di bangku sma. Sinar cinta.
Beberapa saat lamanya aktifitas saling tatap mata itu berlangsung, sampai akhirnya suara langkah kaki menghampiri mereka. Itupun tak akan membuat tersadar bila orang yang datang itu tidak berdeham.

“Eh, Ulfa,” ucap Wiro salah tingkah ketika dirinya dan Ayu kedapatan berduaan.
“Saya cuma mau nganterin ini, Wir.” ucap Ulfa sembari menunjukan sekotak martabak telur.
“Tapi sepertinya gak perlu, ya… Soalnya udah ada yang masakin kamu.” ucap Ulfa dengan tersenyum kecut.
“Eh, gak kok. Martabak telur yang kamu bawa itu tetap menjadi makanan favourit saya.” ucap Wiro.
“Ya sudah, saya permisi dulu.”
“Makasih ya, Fa.” ucap Wiro.

Ulfa hanya tersenyum lalu melenggang pergi.

Ayu dan Wiro duduk saling berhadapan di ruang makan, menyantap makanan yang tadi mereka masak serta martabak yang di bawa oleh Ulfa tadi.

“Wir!” panggil Ayu.
“Hmmm,” jawab Wiro malas.
“Sepertinya Ulfa itu suka sama kamu,” kata Ayu.
“Haha…” Wiro tertawa.
“Kenapa?” tanya Ayu.
“Gak mungkinlah, kita ini rekan. Satu sekolahan lagi.” jawab Wiro.
“Tapi aku serius, dia sepertinya benar-benar suka sama kamu.” ucap Ayu lagi.
“Kalau saya sukanya sama kamu gimana?” tanya Wiro.
“Apa’an sih,” kata Ayu malu-malu.

Dan benar saja, malam-malam berikutnya Ulfa tak pernah berkunjung ke rumah Wiro lagi. Mungkin itu sebagai bentuk kekesalannya karena Wiro membuatnya kecewa.
Akibatnya, kebiasaan Wiro keluar malam untuk mencari makanan pun terulang karena tak setiap hari Ayu datang ke rumahnya untuk membuatkannya makan malam. Tahu sendirilah, seperti apa sibuknya seorang artis yang kini tengah naik daun itu.
Namun kebiasaan keluar malam itu tak berlangsung lama karena Ulfa memergokinya sedang antri martabak di suatu pinggir jalan sembari mengusap-usap tubuhnya bahkan menggaruknya berkali-kali, pertanda bahwasanya alerginya terhadap dingin kambuh.
Ulfa tak sampai hati melihat pangerannya itu tersiksa oleh dinginnya angin malam, akhirnya Ulfa menyuruh Wiro pulang dan menggantikan posisinya. Dengan terpaksa Wiro menuruti perintah Ulfa, beberapa saat kemudian, Ulfa datang ke rumah Wiro dengan membawa martabak itu bahkan dengan obat alergi. Apapun itu pasti akan Ulfa lakukan demi pangerannya, pujaan hatinya. Meski kadang, ia harus menguras habis isi tabungannya demi membeli martabak-martabak itu.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Impian Semu Wiro 2 Part 6

  1. Hampir sj ya itu kejadian antara Ayu dan Wiro…haha…Ulfa mah pling bs dech ya gangguin org yg lagi seru2nya…
    Ksian skli si Ulfa ya, mau2nya jd tukang antar martabak tiap hri. Wiro jg trima trus ya, msa gak nolak sih..kan.kasian kocek Ulfa terkuras trus 😂😂
    Tp ya, bgtulah…klau cinta itu sring bikin org suka utk berkorban wlau ujung2nya bs sj jd korban :)))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s