Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Impian Semu Wiro 2 Part 7

Wiro memakai kemeja putih, rapi seperti biasanya. Sementara Ulfa yang duduk di sebelahnya mengenakan pakaian gaun panjang berwarna biru dan terlihat semakin cantik dari biasanya. Seperti yang telah mereka rencanakan, malam ini mereka akan dinner di sebuah restoran mewah di Jakarta.
Si hijau tua pun melaju menembus macetnya kota Jakarta di malam hari, akhirnya setelah bergelut dengan kemacetan selama berjam-jam, mereka pun sampai di sebuah restoran mewah.

“Kita makan disini, Wir?” tanya Ulfa seolah tak percaya bahwa Wiro akan sanggup membayar makanannya.

Wiro hanya tersenyum,

Ulfa duduk berhadapan dengan Wiro, sementara itu Wiro berjalan menuju ke arah Ulfa seraya membawa penutup mata yang langsung ia pakaikan ke Ulfa.

“Kamu ngapain?” tanya Ulfa.
“Udah, kamu ikut aja,” jawab Wiro.

Wiro pun membawa Ulfa ke sebuah dananu di dekat restoran itu, dan disana sudah ada banyak orang. Penutup mata Ulfa pun dibuka, nampaklah di ujung taman didekat danau menyala sebuah lampu yang tersusun dan membentuk kata “I ♥ U” dan membuat bayangan di air.

“Indah,” ucap Ulfa.

Ulfa tersipu malu, rupanya sang pangeran tengah menyatakan perasaan terhadapnya.

“Wir, ka… mu,” ucap Ulfa terbata karena saking terharunya.

Lalu ketika Ulfa menoleh ke belakang, yang ada ialah Eric, bukan Wiro.

“Eric?” kata Ulfa.

Eric berlutut di hadapan Ulfa seraya membawa sepucuk bunga mawar merah yang indah.

“Maukah kamu jadi kekasihku, Ulfa?” tanya Eric.

Mata Ulfa justru menelusur, mencari keberadaan Wiro. Beberapa saat kemudian, Wiro muncul di antara kerumunan orang yang menyaksikan peristiwa pengungkapan cinta Eric terhadap Ulfa itu.

“Terima, terima, terima,” terdengar suara dari kerumunan yang awalnya hanya di ucapkan seseorang menjadi beramai-ramai di ucapkan, tak terkecuali Wiro yang juga memberi isyarat untuk menerima Eric.

Karena dilihat banyak orang dan tak ingin membuat Eric malu, akhirnya Ulfa terpaksa menerima cinta Eric.
Eric melompat kegirangan yang kemudian di lanjutkan dengan memeluk Ulfa, sementara itu sejak tadi Ulfa hanya dapat melempar senyum palsu.
Wiro pun mendekati mendekati mereka, mengucapkan selamat lalu menjabat tangan mereka berdua. Sekuat tenaga Ulfa menahan emosinya ketika harus berhadapan dengan Wiro lagi.
Sedangkan Eric langsung memeluk Wiro ketika Wiro telah berada di depannya.
Ia tahu betul bahwa semua takkan berjalan lancar bila tanpa bantuan Wiro. Dari mulai restoran sampai konsep, Wiro lah yang telah memikirkannya. Berhubung selama ini ia dekat dengan Ulfa, maka ia tahu hal apa saja yang di sukai olehnya.
Semua itu dilakukan Wiro karena kasihan terhadap Eric. Beberapa hari yang lalu Eric bercerita bahwa ia telah menyatakan perasaannya pada Ulfa berkali-kali namun selalu di tolak, Eric juga bercerita pada Wiro bahwa ia menyukai Ulfa sejak smp. Dan selama ini ia hanya mencitai Ulfa, tidak ada yang lain.

Sejak malam itu, semuanya menjadi berubah. Ulfa tak lagi naik bis atau naik si hijau tua milik Wiro ketika berangkat ke sekolah, melainkan ia selalu di antar jemput oleh Eric.
Sikap Ulfa terhadap Wiro pun menjadi dingin, mereka pun saling berjauh-jauhan.

Sementara itu di tempat lain,

Ayu terbaring lemah di kamarnya di temani Dimas sang asisten setia. Agaknya penyakitnya tengah kambuh, membuatnya harus melupakan segala macam aktifitas dan beristirahat.

“Dim?” panggil Ayu.
“Iya, ada yang bisa gue bantu?” tanya Dimas.
“Keknya gak lama lagi gue bakalan mati,” kata Ayu.

Dimas yang sedari tadi menatap keluar jendela, akhirnya menatap Ayu. Ia kemudian berjalan ke arah Ayu, lalu kemudian memegang kedua tangan Ayu.

“Loe gak boleh ngomong gitu,” kata Dimas.

Ayu hanya terdiam, kemudian memalingkan mukanya, tak mau menatap Dimas dengan air muka yang sedih seperti itu.

“Gue ada permintaan, Dim.” kata Ayu.
“Apapun itu, selama gue bisa, pasti gue kabulin. Jadi, apa itu?” tanya Dimas antusias.
“Sebelum gue mati, gue pengen jadian sama orang yang gue sayangi, Dim.” jawab Ayu.
“Memangnya siapa itu?” tanya Dimas lagi.
“Namanya Wiro, dia temen gue sejak kecil sampai sekarang. Kita pisah waktu gue ke Jakarta sedang dia kuliah di luar kota. Sekarang mungkin saatnya gue mencoba lagi, meski mungkin gue masih sama takutnya, takut jika di tolak lagi.” celoteh Ayu.
“Wiro Sableng itu?” tanya Dimas.

Ayu terpaksa mengangguk karena enggan menanggapi pertanyaan Dimas yang satu itu.

“Dan loe pernah nembak tapi di tolak?” tanya Dimas lagi.

Ayu mengangguk lagi pelan,

“Dia gak tahu aja kalau loe bakalan jadi artis terkenal kaya sekarang ini. Kalau dia tahu loe bakal kaya gini, dia pasti nyesel berat.” ucap Dimas.
“Gak, Dim.” protes Ayu.
“Gak? Lhah, kenapa?” tanya Dimas.
“Beberapa hari yang lalu, gue ketemu sama dia, dan… Dia biasa-biasa aja tuh, liat gue yang sudah menyandang gelar artis ini.” jawab Ayu.
“Kaya apa sih, si Wiro itu?” tanya Dimas penasaran.
“Besok kalau gue udah pulih, gue ajak loe ke rumahnya Wiro, ya. Gak jauh kok dari sini.” kata Ayu.

Namun, sampai hari berganti, rupanya tak membuat Ayu pulih. Ia tetap terbaring di tempat tidurnya, bahkan kali ini dengan berbagai peralatan kesehatan demi membuatnya untuk tetap bertahan.
Diam-diam Dimas mencari alamat Wiro, ia berniat membawa Wiro ke rumah Ayu. Akhirnya setelah berhari-hari mencari, ia pun bertemu dengan Wiro.

“Apakah benar ini rumah Wiro Sab…” hampir saja Dimas mengucapkan nama yang paling dibenci oleh Ayu.
“Wiro apa?” tanya Wiro.
“Wiro Natanegara maksud saya,” ucap Dimas.
“Saya Wiro, ada apa ya?” tanya Wiro.
“Saya mau bicara serius,” jawab Dimas dengan air muka tak kalah serius.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Impian Semu Wiro 2 Part 7

  1. Wah, btapa terpukulnya si Ulfa pd Wiro ya? Maunya Wiro, eh mlah Eric yg muncul. Itu namanya nerima terpaksa :))
    Sakit ap sih si Ayu? Parah bnget tu ya. Kirain klau artis kan, krn bnyak duit, cpat sembuhnya :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s