Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Sahabat, Tak Berkategori, Teman

Impian Semu Wiro 2 Part 9(The End)

Marunting Batu Aji 2000

Dengan rasa sakit dan muka pucat itu harusnya siapapun sudah takkan bisa tersenyum lagi. Namun berbeda dengan Ayu, ia tetap menyunggingkan seutas senyum demi rekan-rekannya yang sudah repot-repot datang demi upacara tarian penyembuhan dirinya. Juga demi Wiro yang kini berada di tengah lapangan, memakai pakaian menyerupai dukun dan disaksikan banyak orang. Ya, Wirolah sang penarinya. Hari ini ia akan menarikan tarian manang, tarian untuk meminta kesembuhan.
Dimas, Ana, Ani, Eric dan juga Ulfa ada di sebelah kanan Ayu. Sementara Miki, Beni, Dini, Hardi dan keluarga Ayu ada disebelah kirinya. Mereka semua akhirnya mau meluangkan waktu demi berpartisipasi dalam acara ini.
Mereka semua duduk di bawah tenda biru yang cukup besar untuk meneduhi banyak orang.
Alunan musik pun berbunyi, Wiro mulai bergerak menarikan tarian seperti layaknya seorang dukun. Beruntung ia pernah mempelajari tarian ini dulu, jadi tak terlalu sulit baginya meski agak sedikit kaku dan lupa gerakan pula.
Entah kenapa tarian Wiro justru menyedihkan, apalagi ketika kedapatan ia berkali-kali menyeka air mata yang jatuh. Rupanya tak hanya Wiro, semua yang ada di samping kiri dan kanan Ayu pun melakukan hal serupa, mereka semua menangis. Meski tangisan para teman lelaki Ayu ialah tangisan yang di sembunyikan, mereka semua menunduk. Tapi hal itu justru menandakan betapa sedihnya kenyataan bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah dengan Ayu.
Kadang juga mereka memalingkan pandangan ketika Ayu memperhatikan mereka.
Sementara teman wanita itu menangis tersedu-sedu, apalagi ketika Ayu menatap mereka. Tangisan itu semakin menjadi.
Sampai tiba saatnya rasa sakit itu terulang, akan tetapi lebih sakit dari biasanya. Ayu memagangi kepalanya yang berdenyut-denyut seperti hendak pecah, sementara itu Wiro menghentikan tariannya dan berlari ke arah Ayu.
Hal itu pulalah yang membuat semuanya sadar bahwa penyakit Ayu kambuh lagi, dan membuat mereka semua menatap Ayu.
Alunan musik itu pula berhenti, semuanya kini memperhatikan Wiro dan Ayu. Wiro menggengam erat tangan Ayu yang ia rasakan kini telah mulai dingin.

“Kamu tenang, ya, aku ada disini. Semuanya ada disini.” ucap Wiro.

Ayu tersenyum mendengarnya, namun senyuman itu tak berlangsung lama, sejurus kemudian ia tak sadarkan diri dan jatuh tepat di pelukan Wiro.
Semuanya panik, kecuali Wiro yang tidak ingin membuat suasana menjadi lebih buruk lagi.
Dengan meminjam mobil milik keluarga Ayu, Wiro membawanya ke rumah sakit di kota Marunting Batu Aji ini. Di temani Dimas, Ana, Ani, Ulfa dan juga Eric. Semantara keluarga Ayu serta teman-teman yang lainnya ada di belakang mereka.
Sampailah mereka di rumah sakit, Ayu segera di bawa ke ruang IGD.
Air muka semua orang penuh akan ekpresi ketakutan, tak terkecuali Wiro. Ada sebagian yang mondar-mandir tak sabar menunggu, ada juga yang lebih memilih untuk tetap duduk sambil terus berdoa.
Lama sekali mereka menunggu, mungkin hampir satu jam lamanya. Sampai akhirnya dokter itupun keluar dari ruangan, membuat semua memperhatikannya.
Lalu Wiro adalah orang peetama yang menghampiri dokter itu,

“Bagaimana keadaan Ayu, dok?” tanya Wiro.

Dokter itu tak menjawab, ia hanya menggeleng kecil seraya menunjukan ekpresi putus asanya.
Karena tak mendapatkan jawaban yang pasti, akhirnya Wiro menerobos masuk.
Seseorang terbaring disana, seluruh tubuhnya tertutup oleh kain putih.

“Ayu,” ucap Wiro pelan.

Ia kemudian berjalan menuju ke ranjang itu, di bukalah kain putih itu dan nampaklah wajah ayu yang putih pucat tanpa seutas senyum yang manis lagi.
Wiro tak kuasa menahan sedih, air matanya yang sedari tadi terbendung pun tumpah dan ia terus menerus berteriak memanggil nama Ayu.

Jakarta 2001

Berhari-hari lamanya Wiro mengurung diri di kamarnya, membiarkan dirinya tak terurus bahkan ia tidak mengajar lagi.
Sampai pada suatu hari, Ulfa datang. Tentu saja tak sendiri, ia datang bersama tunangannya, Eric.
Kedatangan Ulfa kemari sebenarnya untuk mengundang sekaligus memberitahukan bahwa pesta pernikahan dirinya dan Eric akan di adakan di Bali. Tapi Ulfa merasa miris melihat badan Wiro yang kurus kering yang agaknya tak terisi oleh makanan selama beberapa hari. Ia pun memutuskan untuk membuatkannya sebuah masakan.
Tak hanya itu, ia yang di bantu Eric pun membersihkan rumah Wiro yang tak ubahnya seperti kapal pecah yang pastinya berantakan.
Setelah itu, Wiro, Eric dan juga Ulfa duduk di sofa untuk bercengkerama atau sekedar menonton tv.
Namun kelihatannya acara di tv itu hanya dinikmati oleh Eric dan Ulfa saja karena sedari tadi Wiro memperlihatkan ekpresi yang sama yakni datar cenderung ke sedih.
Melihat hal itu, Ulfa pun menyuruh Eric untuk mematikan tvnya. Mereka kemudian saling berpandangan, berbicara melalui isyarat yang entah apa namun seolah saling memahami.

“Wir, kamu gak boleh gini terus. Ayu pasti sedih disana,” ucap Ulfa.
“Iya, Wir.” Eric ikut menimpali.

Wiro pun akhirnya melempar senyum, namun terlihat secara jelas bahwa senyum itu palsu.
Karena kesal, Ulfa akhirnya menggilik-gilik Wiro hingga Wiro terlonjak dari tempat duduknya. Hal itu di lakukan pula oleh Eric yang tak ayal membuat Wiro tertawa terpingkal-pingkal sekaligus tersiksa menahan geli. Karena Wiro tertawa, akhirnya mereka melakukannya lagi dan lagi.
Tawa itu, sungguh mereka rindukan. Tawa yang menunjukan seolah tak ada apapun, seolah tak ada yang terjadi.
Dan biarlah sejanak ia lupakan tentang Ayu, tentang cinta dan kesedihannya. Biarkan semua itu berganti dengan tawa serta senyuman seperti saat ini.
Setelah berkali-kali bolak-balik kamar mandi karena di gilik-gilik, akhinya Wiro duduk di sofa kembali bersama Ulfa dan Eric.

“Thank’s ya,” ucap Wiro.
“Untuk?” tanya Ulfa seraya mengeryitkan dahinya.
“Untuk yang tadi, kalian membuat saya tertawa lagi.” jawab Wiro seraya merangkul Ulfa dan Eric.
“Akh…” ucap Ulfa manja.

Mereka pun saling berpelukan, sesekali mereka melanjutkan menggilik-gilik badan Wiro sampai ia mengaku tak kuat dan memohon ampun.

Baik dan buruk,
Ada dan tiada,
Hidup dan mati,
Dan begitulah seteruanya, sampai nanti.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

2 tanggapan untuk “Impian Semu Wiro 2 Part 9(The End)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s