Diposkan pada Best Friend, Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Family, Keluarga, Love, Sahabat, Teman

Bread & Love

Mereka berdua terduduk di sebuah kursi yang saling bersebelahan. Sedangkan bos mereka tengah mondar-mandir kesana-kemari sejak sedari tadi. Ia memang tengah memikirkan sesuatu.
Meski berat, namun akhirnya bos itu mengambil sebuah keputusan.

“Baiklah, aku sudah mengambil keputusan.” ucap bos sesaat setelah menghela napas panjang.

Mereka berdua saling berpandangan dan keduanya sama-sama menujukan air muka yang cemas, sedih sekaligus takut sebelum akhirnya kembali menunduk kebawah.

“Aku sudah memutuskan kalau salah satu dari kalian harus berhenti bekerja,” ucap si bos dengan berat hati.

Si bos kemudian menghentikan langkahnya, lalu sejurus kemudian membanting telapak tangannya ke meja hingga membuat mereka berdua terkesiap.

“Sial!” gumam si bos.
“Kartika, padahal kau harus membawa ayahmu ke rumah sakit. Dan Kurniawan, padahal sebentar lagi kau harus membayar untuk bisa mengikuti ujian di kampusmu. Tapi toko roti ini malah sepi. Maaf, maafkan aku.” ucap si bos dengan penuh emosi.

Untuk sesaat, mereka bertiga membiarkan senyap menguasai atmosfer di ruangan ini. Sampai akhirnya terdengar sesenggukan. Kartika tengah menangis.
Air mata yang ia tahan sejak sedari tadi ia memasuki ruangan ini akhirnya tak dapat terbendung lagi.
Kurniawan pun lantas menoleh ke arah Kartika, ia menelusur air muka Kartika yang nampak menggambarkan seberkas kesedihan yang teramat sangat.

“Aku tak mau berhenti bekerja karena aku ingin ikut ujian lalu kemudian lulus dengan nilai yang baik.” ucap Kurniawan akhirnya.

Kurniawan kemudian menoleh kembali ke arah Kartika, “Tapi aku tak bisa membiarkan ayah Kartika semakin memburuk kesehatannya,” tandas Kurniawan.

Seketika Kartika menoleh ke arah Kurniawan, “Jangan, Wan.” ucap Kartika.
Seperti tak ada yang berbicara, Kurniawan melanjutkan kembali omongannya, “Akulah yang akan tetap bekerja.” ucap Kurniawan.

Obrolan paling menegangkan itu akhirnya berakhir dengan sebuah keputusan yakni terpilihnya Kurniawan sebagai karyawan yang akan terus bekerja di toki roti ini.

Kurniawan serta Kartika kemudian meninggalkan ruangan itu. Kartika berjalan menuju mess, sedang Kurniawan mengikutinya dari belakang.
Terlihat Kartika tengah mengemasi pakaian serta barang-barangnya sembari menyeka air matanya yang terus berlelehan sejak tadi.

“Ka’, maaf…” ucap Kurniawan.
Kartika langsung menoleh ke sumber suara dan menyunggingkan seutas senyum, “Tidak apa-apa, Wan. Pekerjaan ini lebih penting buat kamu. Pokoknya, berjanjilah kau akan lulus dengan nilai yang bagus.” ucap Kartika.
“Tidak. Bukan begitu.” ucap Kurniawan.
Spontan, Kartika mengeryitkan alis serta dahinya, “Maksud kamu?” tanya Kertika.
“Aku tak bisa berbahagia sedang kamu menderita.” tandas Kurniawan.
“Aku memang akan tetap bekerja, tapi uang itu untuk kamu, untuk berobat ayah kamu.” tambah Kurniawan.

Air mata yang sudah susah payah Kartika tahan pun, kini mengalir kembali.

“Lalu bagaimana dengan kamu?” tanya Kartika lagi.
“Aku masih punya banyak waktu, tapi ayah kamu… Kita tak pernah tahu rencana Tuhan, entah itu tentang kebahagiaan atau kesedihan meski di setiap rencana itu selalu ada pelajaran berharga. Intinya aku tidak ingin aku atau pun kamu menyesal nantinya.” jawab Kurniawan.
“Tapi,”
“Lagipula kamu juga masih berjualan gorengan, lebih baik fokuslah pada hal itu.” kata Kurniawan sembari tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan ruangan mess itu.

Satu bulan kemudian…

Kurniawan kini tepat berada di depan pintu rumah Kartika, tinggal mengetuk pintu saja dan ia pun pasti akan dipersilahkan masuk. Tapi entah kenapa saat ini ia tak punya cukup keberanian, bahkan hanya untuk mengetuk puntu rumah Kartika saja.
Sementara itu Kartika malah membuka pintu itu dan membuat Kurniawan terkesiap sampai mundur beberapa langkah.

“Wan, kamu di sini? Udah lama?” tanya Kartika.
Kurniawan tersenyum, “Akh, nggak. Baru, kok.” jawabnya.

Ia kemudian meraih amplop berwarna krem itu dari saku celananya dan memberikannya pada Kartika.

“Apa ini, Wan?” tanya Kartika lagi.
“Itu gaji aku selama satu bulan ini. Buat berobat ayah kamu.” jawab Kurniawan.
“Oh iya, gimana kabar ayah kamu? Baik-baik saja, kan?” tanya Kurniawan.
“Ayah baik kok, sehat. Makasih ya, Wan. Kamu sudah mau membantuku.” ucap Kartika.

Kurniawan hanya tersenyum.

Beberapa saat kemudian, Kurniawan pamit dan Kartika mengantarkannya sampai ke halte bis.

Sembari menunggu bis datang, Kurniawan menjadi kepikiran dengan perasaannya pada Kartika yang telah lama terpendam, yang menggeliat dan ingin sekali rasanya untuk dapat terungkap.

Kurniawan menggeser posisi duduknya hingga tiada celah di antara dirinya dan Kartika, “Aku mau ngomong sesuatu, Ka’.” ucap Kurniawan.
Kartika menoleh, “Mau ngoming apa?” tanya Kartika penasaran.
“Aku gak tahu ini waktu yang tepat atau tidak, yang pasti aku sudah tidak bisa menyimpannya. Aku suka sama kamu. Ya. Aku suka sama kamu.” jawab Kurniawan.
“Kamu suka sama aku? Sejak kapan?” tanya Kartika lagi.
“Sejak kita pertama kali bertemu, sejak kamu pertama datang ke toko.” jawab Kurniawan.

Kali ini Kartika hanya terdiam, terus menatap Kurniawan tanpa sekalipun berkedip. Sementara Kurniawan mulai salah tingkah dan tak betah berlama-lama di sana. Ingin sekali ia hilang dari sana. Meski ada perasaan lega karena telah terungkapkannya rasa, namun sejujurnya ia belum siap bila jawaban Kartika ialah sebuah penolakan.

“Aku…”
“Kamu gak perlu jawab sekarang. Aku juga tidak mau menambah beban pikiranmu, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku.” tukas Kurniawan.

Tak lama sebuah bis berhenti, Kurniawan segera bangkit dan naik bis itu.

“Aku pulang dulu, Ka’.” ucap Kurniawan seraya menaiki tangga bis.

Bis itupun melaju, meninggalkan Kartika sendiri di sana yang masih diselimuti rasa tak percaya. Bagaimana tidak, sedang seorang yang selama ini ia cinta malah menyatakan bahwa orang itu menyukai dirinya pula.
Saking senangnya ia bahkan tak bisa memberikam jawaban, atau setidaknya sebuah anggukan agar orang itu tahu bahwa dirinya memiliki rasa yang sama.

Kartika pun bangkit berdiri, ia kemudian tersenyum ke arah bis yang terlihat semakin kecil di ujung jalan sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Tamat.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

7 tanggapan untuk “Bread & Love

    1. Panggilannya Wawan tau…

      Emang sengaja gitu, biar Kurniawan gak kaya si penulis cerita yang sudah patah hati sebelum mengungkapkan rasa. Terlepaa dari diterima atau ditolek, itu masalah belakangan.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s