Diposkan pada Cerpen

Janjiku!

Gemuruh ombak menyapu bibir pantai, pun menyapa tubuh ku. Aku pun terjaga, lalu kemudian mencoba berjalan meski langkahku terhuyung.
Hal terakhir yang dapat ku ingat ialah ketika tiba-tiba ombak besar menerjang perahu kayu yang ku naiki yang akhirnya terbalik. Aku terombang-ambing di tengah lautan dengan keadaan setengah sadar, tenggelam, tak tahu dengan nasibku sendiri apakah akan hidup ataukah mati. Hal yang sangat ekstrim tersebut memang sudah biasa aku lakukan demi sebuah foto yang indah yang nantinya akan ku setorkan ke media. Ya, aku merupakan seorang fotografer.
Dan bukannya hidupku berkekurangan, malah ayahku mau mengabulkan apapun permintaanku asal aku mau menuruti perkataannya dan tinggal di rumah. Akan tetapi aku menolak, karena aku punya duniaku sendiri, dunia yang aku sukai. Salah satunya ialah dunia fotografi ini.
Namun Tuhan masih sayang kepadaku, ia masih memberiku kesempatan hidup dan pastinya kesempatan untuk menjadi yang lebih baik lagi.
Aku tak tahu kini ada di mana, di sini tak ku jumpai seorang pun. Sementara tubuhku lemah tak berdaya.
Sejurus kemudian kepalaku berdenyut, dan setiap denyutan begitu menyiksa, setiap ia ada membuatku menderita.
Hingga akhirnya aku semakin lemas, penglihatanku memudar, pun pendengaranku.
Aku jatuh tersungkur, dan sebelum penglihatanku benar-benar memudar dan hilang, aku melihat seorang anak kecil berlari ke arahku yang sudah terbaring di pasir pantai. Ia berlari sembari berteriak yang tak dapat ku dengar jelas apa katanya. Dalam gelap, masih dapat kurasakan tangan mungil itu menyentuh wajahku, kemudian menggoyang-goyangkan tubuhku. Lalu saat aku kembali terjaga, aku sudah berada di ranjang dan dikerumuni banyak orang.

“Saya ada di mana?” tanyaku pada sesiapa saja yang ada di sana.
Seseorang maju mendekatiku, “Kamu ada di rumah saya, di desa kami.” jawab seorang lelaki sembari membenarkan kopiah usangnya yang menceng.
“Kami menemukan kamu tergelatak lemah di pantai, maka dari itu kami membawamu kemari.” tambah lelaki tua itu.
“Terima kasih.” ucapku sembari tersenyum.

Aku kemudian mencoba untuk bangun, namun kepalaku berdenyut lagi dan kembali menyakitkan.
Sontak aku memeganginya dan mengerang kesakitan.

“Istirahatlah dulu, anak muda. Kau boleh tinggal di sini sampai kau benar-benar sembuh.” ucap lelaki tua itu.
“Iya, benar.” ucap warga yang lainnya.

Lelaki tua itu kemudian mebantuku berbaring, lalu ia dan para warga meninggalkanku sendirian di sana dan aku pun kembali tertidur.

Sekitar dua minggu lamanya aku tinggal di rumah bapak tua itu yang kini kutahu bahwa namanya ialah pak Habib. Ternyata di pulau yang terpencil ini ada desa, dan wajar saja bila belum ada listrik. Lalu sebagai penerangan para warga akan menggunakan dian¹ dan juga obor. Termasuk pak Habib yang sering menggunakan dian untuk membaca al-qur’an.
Aku sering mendengarkannya ketika melantunkan ayat suci itu, lantunannya begitu merdu dan sangat indah. Meski sebenarnya sedikit asing di telingaku karena aku bukanlah seorang muslim.
Aku juga sering ikut pak Habib pergi ke sebuah saung untuk mengajar mengaji.
Jalan yang kami tempuh untuk menuju kesana cukup jauh, jalannya masih berbatu dan gelap. Maka dari itu masing-masing dari kami selalu membawa obor.
Awalnya memang susah beradaptasi dengan mereka, namun pada akhirnya semua murid pak Habib ramah kepadaku meski mereka tahu bahwa aku dan mereka berbeda. Namun sungguh, nyaris seperti tak ada sekat di antara kami.
Salah satu murid pak Habib yang ku kenal ialah Arif. Ia bercerita bahwa ialah anak yang menemukanku di bibir pantai hingga memanggil warga dan aku selamat.
Aku merasa miris pada pak Habib, juga para muridnya, tak terkecuali Arif. Bisa saja saat mereka berangkat atau pulang mengaji mereka tersesat ke dalam hutan lalu jatuh ke dalam jurang nan terjal karena minimnya penerangan.
Aku mulai berpikir betapa kurang bersyukurnya aku, sudah diberi segalanya namun malah masih saja mencari yang lebih bahkan sampai menjauhi keluarga. Aku juga teringat pada janji ayah yang mau mengabulkan segala permintaanku asal aku juga mau kembali.
Dan aku mulai membayangkan bila rumah pak Habib ada lampu, saung tempat mengaji dan juga jalan-jalan itu.

Hari berikutnya aku pamit pulang, aku diantar oleh pak Habib, beberapa warga dan juga para murid pak Habib. Ada juga Arif, sedari tadi ia memegang erat tanganku karena tak ingin aku pergi dari pulau ini. Ia bahkan sampai menangis tersedu-sedu karena kepergianku.
Namun aku tetap harus pergi, itu juga untuk kebaikan pulau ini.

“Kakak pasti datang kesini lagi.” kataku pada Arif.

Arif masih menangis tersedu-sedu dan tetap memegang erat tanganku. Pak Habib yang melihat hal itu akhirnya memaksa Arif untuk melepaskan gengaman tangannya dan aku pun naik ke perahu.
Aku melambaikan tangan ke arah mereka yang mengantar kepergianku, aku juga melihat Arif menangis sejadi-jadinya ketika perahu mulai menjauhi bibir pantai.

“Aku pasti kembali, aku janji.” gumamku.

Butuh waktu berjam-jam lamanya perjalanan laut serta dua jam perjalanan darat hingga akhirnya aku sampai di rumah.
Lalu ketika aku hendak membuka pintu, pintu itu pun terbuka, ayahlah yang telah membukanya. Ia memakai kemeja berbalut jas rapi dan menenteng tas siap untuk berangkat ke kantor. Ia pun terkesiap melihat aku berada di depan pintu rumahnya.

“Christ, kau pulang nak?” tanya ayah yang saat itu pula memeluk erat tubuhku.
“Iya, ayah.” jawabku.

Ayah pun masuk disusul oleh aku. Kami berdua duduk di sofa tanpa sepatah kata pun, aku enggan untuk memulai sedang ayah sepertinya masih tidak percaya dengan kepulanganku, masih tak percaya bila kami akan kembali bersua, bahkan kini mata ayah berkaca-kaca.

“Apakah ayah masih ingat pada janji ayah?” tanyaku pada ayah akhirnya demi memecah keheningan.
Kulihat dari air muka ayah, nampaknya ia tengah berpikir. Akhirnya ia mengangguk seraya berkata, “Masih.”
“Kalau begitu aku ingin meminyanya,” kataku.
“Apa itu?” tanya ayah antusias.
Aku menghela napas panjang, “Aku ingin listrik, ayah. Kemarin saat aku berburu foto, aku tenggelam di laut dan terdampar di sebuah pulau. Aku ditolong oleh penduduk pulau dan akhirnya selamat. Tapi di sana gelap, ayah. Tidak ada penerangan kecuali sinar bulan dan obor.” jawabku.
Ayah kembali terkesiap, bahkan lebih dibandingkan tadi saat melihatku pulang. “Puji tuhan!” ucapnya seraya menyeka air mata yang tak dapat terbendung lagi.
“Aku janji tidak akan pergi lagi bila ayah menuruti apa mauku kali ini.” kataku.
Ayah mengangguk beberapa kali dan dengan cepat ia memeluk erat aku lagi, “Pasti, nak. Pasti akan ayah kabulkan.” ucap ayah seraya menepuk-nepuk punggungku.

Beberapa hari kemudian, pulau torang menjadi terang benderang. Bukan karena obor atau sinar rembulan, tapi karena lampu, karena adanya listrik.
Kini pak Habib tak perlu lagi memakai dian saat membaca al-qur’an, para warga juga tak perlu risau beraktifitas dimalam hari, bahkan yang kudengar saung tempat mengaji juga kini menjadi ramai setelah adanya penerangan. Ada perasaan bahagia mengejolak di dalam dada setelah aku kembali dan menepati janjiku. Apalagi ketika melihat senyum dari pak Habib, Arif, para penduduk pulau juga ayahku. Rasanya tak akan dapat aku jelaskan karena saking bahagianya.
Perbedaan menjadi tidak pernah berarti karena hati kita telah bersatu.

Selesai

Note :

Cerpen ini adalah cerpen yang saya ikut sertakan dalam sebuah lomba dengan tema, “Arti Sebuah Perbedaan”.

Juara satu dan dua sudah diumumkan. Kini saya sedang menunggu pengumuman 50 besar, karena naskah yang masuk 50 besar akan dibukukan.

Do’akan saya semoga cerpen ini masuk 50 besar ya…

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Janjiku!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s