Diposkan pada Cerpen

Cinta Sesaat

Tanpa sepengetahuan Aris, diam-diam Reza mengikutinya dari belakang.
Malam ini Aris berencana akan dinner disebuah restoran romantis di dekat sebuah danau.
Malam ini juga Aris ingin menyatakan perasaannya pada seorang gadis yang ia sayangi. Adalah Ana, gadis cantik dan baik hati yang sebenarnya telah lama Aris taksir namun belum berani ia mengungkapkan perasaannya.
Selama ini rasa itu hanya tersimpan, terpendam dan tak pernah terungkapkan. Namun kali ini dengan kesunghuhan dan keberanian hati, akhirnya rasa itu akan tersampaikan.

Aris kini duduk di sebuah kursi di pojokan restoran, berlatar belakang kelap-kelip lampu kota yang indah.
Ia terlihat berbeda dengan penampilan formalnya yakni ; kemeja berwarna biru muda yang dibalut dengan jas berwarna biru tua lalu ditambah dengan hiasan dasi kupu-kupu.
Restoran itu cukup unik karena dibangun di tengah danau.
Untuk mencapainya saja harus menaiki sebuah perahu kayu yang telah disediakan oleh pihak restoran.
Sementara itu Reza mengenakan hoodie hitam lengkap dengan topi yang berwarna hitam dan mengamati Aris dari jauh. Tak berselang lama Ana pun datang ke tempat itu, ia terlihat semakin cantik lagi ketika mengenakan gaun berwarna biru muda.

Ana pun duduk di mengharap Aris, “Sudah lama?” tanyanya.
Aris tersadar setelah termangu, “Lumayan.” jawabnya.

Sesaat kemudian, makanan yang dipesan oleh Aris pun datang.

“Sebelumnya… aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” ucap Aris.
“Ngomong apa?” tanya Ana antusias.

Aris pun bangun dari duduknya, lalu berlutut di depan Ana sembari menyodorkan sepucuk bunga mawar merah yang indah yang ia sembunyikan di balik kemeja biru tuanya.

“Ana, maukah kamu menjadi pacarku?” tanya Aris yang sebenarnya sedikit gugup.

Ana justru termangu, terkejut dengan pengakuan Aris terhadapnya. Yang ia tahu mereka hanyalah teman baik sejak kecil.
Melihat hal itu hati Reza bagaikan terbakar, panas sekaligus sakit.
Ia pun bangkit dan berlari ke arah Ana dan Aris.

“Berhenti!!!” teriak Reza.

Perhatian mereka berdua kini tertuju kepada Reza yang tengah berlari sembari berteriak meneriakkan kata yang sama setiap langkahnya.

“Reza,” gumam Aris dan Ana hampir bersamaan.

Sesampainya di sana, Reza langsung meluapkan kemarahannya pada Aris. Ia memukuli Aris secara bertubi-tubi, sampai Aris pun tak dapat membalas atau pun mengelak.
Sementara Ana tak dapat berbuat apa-apa selain berteriak menyuruh Reza untuk berhenti memukuli Aris.

Lalu air mata mulai membasahi pipi Ana, terlebih ketika ia melihat Aris sudah tak berdaya namun terus dipukuli oleh Reza, “Berhenti, Za. Aku mohon, berhenti…” kata Ana.
Reza masih terlihat murka meski Aris sudah tak berdaya, “Gue gak akan ngalah lagi, sudah cukup semuanya loe dapetin. Dan gue gak mau ngerelain Ana buat loe.” teriak Reza sembari terus memukuli Aris.

Berkali-kali Aris terjatuh sampai tersungkur tak berdaya, berkali-kali pula Reza membangunkannya, memukulnya dan menjatuhkannya lagi.

Di tengah penyiksaan itu, Aris justru teringat masa-masa kebersamaan dirinya dengan Reza. Saat di mana Reza adalah satu-satunya orang yang selalu ada di samping Aris, menjadi pelindungnya. Masa-masa itu ialah masa yang paling indah sepanjang hidup Aris.
Sampai akhirnya mereka menjadi dewasa dan berjalan di jalan sendiri. Aris yang patuh memilih untuk menuruti semua permintaan kedua orang tuanya dan hal itulah yang akhirnya menjadikannya sukses seperti srkarang ini.
Sementara Reza, lebih memilih hidup di jalanan guna mencari kebebasan, karena enggan sejalan dengan Aris. Terang saja ia benar-benar menjadi anak jalanan. Tak terlihat sama sekali bila ia lahir dari keluarga darah biru.

“Kak!” ucap Aris yang akhirnya membuat Reza termangu untuk sesaat dan menghentikan pukulannya.

Ana memegang pundak Reza, “Sudah, Za. Cukup.” ucap Ana.

Reza pun melepaskan cengkraman erat pada kemeja Aris yang lalu membuat Aris lunglai terjatuh.

“Kamu gak apa-apa, Ris?” tanya Ana.

Aris masih mencoba untuk tersenyum meski pipinya biru lebam dan bibirnya penuh darah.
Akan tetapi senyuman itu hanya sekejap saja, lantaran Aris merasakan nyeri yang hebat di kepalanya sampai membuatnya mengerang kesakitan.
Ana yang melihatnya menjadi sangat panik, semantara Reza kembali termangu. Kejadian ini adalah kejadian yang dulu sering ia alami, hal paling menakutkan pula baginm dirinya. Hal yang sewaktu-waktu bisa membuatnya berpisah dengan Aris.

“Za, tolongin. Jangan diem aja.” bentak Ana.

Reza dan Ana kemudian memapah Aris sampai di perahu sebelum akhirnya masuk ke mobil dan dibawa ke rumah sakit.

Aris masuk ke sebuah ruangan khusus sedang Reza dan Ana menungguinya di luar.
Dalam hati Reza, tiba-tiba terbesit rasa penyesalan dan bersalah yang teramat besar.

Sementara itu Ana terus menunjukan air muka panik sekaligus takut, “Kamu itu ngapain, sih? Kenapa harus pakai kekerasan?” tanya Ana kesal.

Lama Reza terdiam, sampai akhirnya satu kata itu terucap, “Maaf.” ucap Reza.

“Maaf? Kamu pikir maaf kamu bisa membuat Aris pulih?” tanya Ana lagi yang semakin kesal.

Ana kembali menatap Reza setelah memalingkan mukanya karena saking kesalnya, “Kamu tahu kan, bahwa adik kamu itu sakit? Dia sekarat, Za. Hampir mati.” ucap Ana.

Reza juga tahu bahwa Aris, adiknya itu menderita kanker otak. Kata dokter, umurnya tidak akan panjang. Namun mungkin semangat hidup membuatnya bertahan sampai sejauh ini, meski sebenrnya ia sakit, teramat sangat sakit.

“Lagipula kamu tahu juga, kan? Siapa yang aku cintai?” tanya Ana.

Reza menoleh, lalu termangu, tatapan mata Ana masih sama seperti dulu. Ramah namun terselubung sejuta arti.
Ia mencintai Reza sejak dulu, sejak mereka masih sama-sama kecil. Bagi Ana, Reza adalah sosok kakak yang juga selalu melindunginya. Sama seperti saat Reza melindungi Aris.

“Aku berencana akan berpura-pura mencintai Aris. Kamu tidak usah khawatir, cinta ini pasti hanya sekejap. Aku tahu itu karena hampir setiap hari Aris mengeluh sakit kemudian pingsan. Ya, meskipun kita tak pernah tahu rencana Tuhan. Sampai hari itu tiba, aku ingin membuat Aris bahagia. Meskipun itu hanya cinta pura-pura.” celoteh Ana.
“Maaf, maafkan aku, Na.” ucap Reza sembari memeluk Ana.

Ana terkesiap, namun tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan orang yang ia cintai membagi perasaannya yang kini bercampur aduk terhadapnya.

Sejurus kemudian, dokter keluar dari ruangan itu. Ia memberitahukan bahwa Aris masih lemah dan harus dirawat untuk kurun waktu yang belum dapat ditentukan.

Selama itulah Ana akan merawat Aris dan selalu berada disisinya setiap harinya setelah Reza memberikan ijin pada Ana.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Cinta Sesaat

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s