Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Family, Keluarga, Love

Wanita Tua Itu Ku Panggil Ibu

Tiga hari sebelum lebaran…

Aku terpisah dari rombonganku setelah motorku mogok. Kami berangkat dari Jakarta dengan bergerombol dan tidak saling mengenal, jadi wajar bila mereka tak sadar bila aku tertinggal.
Kami juga melewati jalan alternatif, hal itulah yang membuatku kesulitan dalam mencari jalan keluar.
Sudah sejak jam 2 siang tadi, sampai sekarang langit mulai menggelap namun tak juga aku temukan jalan keluar.
Jalan yang kulewati selalu membuatku sampai pada titik yang sama seperti saat motorku mogok. Aku pasrah, lalu berjalan sesuka hati menganut pada intuisi entah kemana ia akan membawaku.
Dan benar saja, sesaat kemudian adzan maghrib pun terdengar, aku menepikan motorku lalu duduk di sebuah bangku yang ada di seberang jalan dengan banyak pohon rimbun.
Aku mengambil bekal di ranselku dan memutuskan untuk berbuka di sana, di pinggiran jalan.
Jalanannya sangat sepi, agaknya aku ada di sebuah dusun yang jauh dari kota.

“Nak!” seseorang menepuk pundakku, membuatku terkesip, terlonjak sampai tersedak.
Aku menoleh, wanita paruh baya itu tersenyum ramah kepadaku, “Maaf, kalau saya mengagetkan.” ucap wanita tua itu.
“Tidak apa-apa, Bu.” kataku sembari tersenyum pula.
Ia berjalan mendekatiku, “Dari pada buka di sini, mending buka di rumah saya saja. Rumahnya dekat kok dari sini.” kata wanita tua itu.
“Terima kasih, bu.” ucapku.

Aku pun kemudian mengikuti ibu tersebut, menyusuri jalan setapak, melewati lebun teh, hingga berjalan di jalanan pedesaan yang masih berbatu.
Meski hanya sebuah pedesaan, namun tempat ini tak kalah meriahnya dari kota.
Setiap rumah memasang lampu berwarna-warni di depan rumahnya dan kembang api juga menghias langit, membuatku tersadar bahwa kemeriahan seperti ini merupakan pertanda sudak dekatnya aku dengan kemenangan.

Aku dan ibu itu berjalan menjauhi desa, menelusuk ke dalan hutan, hingga akhirnya berhenti di rumah yang di sebelahnya terdapat pemakaman.

“Ibu tinggal di sini?” tanyaku.
“Iya, nak. Kenapa, kamu takut?” tanya ibu itu.

Aku hanya dapat menggelengkan kepala.

“Mari masuk,” ibu tersebut mempersilakan.

Aku pun masuk, lalu duduk di sebuah dipan yang ada di ruang tamu.
Rumah ibu terbuat dari bambu, yang bahkan sebenarnya sudah tak layak untuk disinggahi.
Aku tak bisa membayangkan betapa tersiksanya aku bila harus tinggal di sini. Aku pasti akan kedinginan saat musim hujan. Sebaliknya, aku pasti kepanasan saat kemarau menjelang. Belum lagi bila ada angin besar, pasti dengan mudah rumah ini akan rubuh.
Bahkan membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup.

“Nak, sini masuk.” ucap ibu tersebut.
“Iya, bu.” kataku.

Aku dibawa ke sebuah ruangan yang cukup luas di ruang tengah. Masih sama dengan di ruang tamu, di ruangan ini pun hanya ada dipan yang bahkan bergoyang-goyang ketika kami duduki.

“Maaf, saya hanya punya ini.” ucap ibu tersebut sembari menoleh ke arah nasi dan lauk yang tersaji.
“Tidak apa-apa kok. Terima kasih.” ucapku.

Kami pun menyantap hidangan yang nampak lezat tersebut, saat itu pula kami saling berbagi cerita.
Dan belakangan ku tahu bahwa ia merupakan seorang janda yang hanya berteman sepi dan derita. Suaminya meninggal karena sakit, sedangkan anak-anaknya pergi entah kemana. Ia tak pernah tahu keberadaan mereka.
Mendengar cerita sang ibu, entah kenapa membuatku merasa bahwa aku tak sendiri.
Aku pun sama tragisnya dengannya, semua anggota keluargaku tewas dalam sebuah kecelakaan maut. Saat itu merela sedang liburan ke sebuah tempat wisata, dan entah mengapa saat itu aku bersikeras tak ingin ikut. Rupanya Tuhan ingin aku agar tetap hidup.

“Ternyata kita sama.” ucap sang ibu sembari tersenyum meski matanya berkaca-kaca.

Ia baru saja mengucapkan apa yang aku pikirkan.

Setelah berbuka puasa, aku diajak ibu ke masjid untuk melaksanakan sholat tarawih.
Kami berjalan bersebelahan dan terlihat seperti seorang ibu dan anak.
Ada sebuah rasa yang hilang di setiap detik yamg ku jalani bersama ibu. Perasaan rindu yang begitu hebat dan mendalam, yang kinj telah terobati.

Malam itu aku menginap di rumahnya, malam berikutnya juga. Bahkan sampai hari kemenangan tiba.
Ibu itu juga bersedia menjadi orang tuaku, ia pun ikut senang karena bisa merasakan bahagianya mempunyai seorang keluarga, seorang anak.

Kini aku tahu aku tak perlu lagi pulang ke kampung halaman yang bahkan hanya menyisakan kenangan pahit.
Kini aku mempunyai rumah baru, keluarga baru, ibu baru.
Aku akan pulang kesini, ke rumah wanita tua, yang kini ku panggil ‘ibu’.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “Wanita Tua Itu Ku Panggil Ibu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s