Diposkan pada Cerpen

Aku & Bola

Aku duduk di backstage dengan perasaan gugup yang teramat sangat, beberapa lembar lirik lagu juga tak yakin ku hafal semua. Meski aku telah memiliki album yang berisikan belasan lagu, namun aku tetap di tuntut untuk membawakan lagu orang lain pula. Akupun hanya bisa mangikuti perintah dan mencobanya sebisaku.
Entah kenapa disaat gugup itu sempat melamun dan membayangkan masa laluku. Dan akupun menjadi teringat akan hal itu.

Tsubasa Ozora pernah mengatakan “Bola adalah teman.” dan aku rasa apa yang ia katakan adalah benar, meskipun kita hanya sekedar bermain dengan bola itu yang memang seakan kita tak kesepian lagi dan memiliki sosok teman. Dan meskipun Tsubasa Ozora itu hanyalah sebuah tokoh anime, tapi ia telah membuat pemain bola terkenal seperti ; Fernando Torres,
Lukas Podolski dan masih banyak yang lainnya terinspirasi.
Karena hal itu aku pernah bermimpi teramat ingin menjadi pemain sepak bola tekenal. Dan karena hal itu pulalah aku pernah di juluki “pemain yang cerdas,” oleh temanku di waktu sd sampai “pemain yang kuat,” oleh temanku di waktu smp yang bahkan orang itu jarang memuji orang lain tapi ia aku bisa membuatnya memujiku dan bagiku itu luar biasa. Meski hanya satu, dua orang yang mengatakan hal tersebut, akan tetapi hal itu sangatlah penting dan membuatku lebih bersemangat lagi meraih cita-citaku.

Sampai pada akhirnya, ada suatu kisah di mana aku menjauhi dunia ini.
Waktu itu aku dan sekumpulan teman sekampungku sedang latihan untuk menghadapi pertandingan melawan club kampung sebelah. Entah kenapa pada hari itu akukurang merasa enak badan, dan karena hal itulah aku berkali-kali berhenti dan beristirahat menepi saat latihan berlangsung. Ada rasa sakit di bagian perut yang entah apa sebabnya, aku tak merasa salah makan atau apapun. Yang pasti hal itu benar-benar menganggu.
Seseorang datang mendekat kepadaku dengan air muka serius dan kesal. Namanya Nanang, ia adalah seniorku di club kampung ini. Saat ia telah sampai di depanku ia lalu berkacak pinggang dengan ekoresi wajah yang lebih serius dan terlihat kesal lagi dari tadi. Jika boleh ku ibaratkan, ekpresinya bagaikan sebuah bom yang siap meledak.

Aku pun merasakan firasat yang tidak enak,

“Loe ini maunya apa? Dikit-dikit kok istirahat.” tanya Nanang.
“Capek bang. Lagian entah kenapa perutku sakit.” jawabku.
“Alah… alasan. Yang namanya main sepak bola ya emang capek, kalau yang gak capek itu ya main boneka sana sama perempuan…” bentak Nanang.
“Kalau gak serius, mendingan loe cabut sana.” tambahnya.

Dugaanku ternyata benar yang entah kenapa itu membuatku merasakan sakit hati yang sangat sakit, aku pun berdiri dan pergi meninggalkan lapangan. Aku memang sangat ingin menjadi pemain sepak bola makanya aku rajin berlatih, tapi bukankah ada saat di mana tubuh kita lelah, dan bukankah saat itu terjadi suatu pemaksaan itu sangatlah tidak bagus.
Hal itu pula yang membuatku akhirnya hanya menjadi seorang penonton saja bahkan lama-kelamaan aku akhirnya tidak suka pada sepak bola atau bisa dibilang benci.
Tapi ku pikir untuk membanggakan negara itu bisa dengan banyak cara yang lainnnya yang tak hanya tentang bola. Akhirnya aku memilih untuk menekuni hobiku yang lain, yakni dunia tarik suara. Bisa dikatakan aku berhasil, aku memenangkan sebuah kompetisi di salah satu stasiun tv dan mempunyai single bahkan album.
Itupun juga tidak jauh dari kata ‘sulit’ karena aku harus bersaing dengan ribuan orang dengan jenis suara yang bagus dan beda. Tapi tak ada yang tak mungkin, buktinya aku berhasil.

Kini… Aku telah sampai pada impianku, di mana konser tunggalku beberapa menit lagi akan segera dilaksanakan.

Seorang memanggilku dan menyuruhku untuk naik ke atas stage, aku sangat grogi tapi aku harus bisa, karena ini adalah pilihanku dan harus bertanggung jawab akan hal itu. Bagaikan mimpi, ribuan orang meneriakkan namaku, mereka bersorak gembira ketika lampu sorot menyorotku dan aku mulai bernyanyi.
Meski aku telah menjadi seorang penyanyi, namun tetap dalam hati yang paling dalam aku masih ingin menjadi seorang pemain sepak bola. Mimpi itu tak pernah hilang, hanya tersimpan, terpendam dalam dan tak pernah terugkapkan lagi.
Meski begitu aku sangat bersyukur bisa meraih mimpiku dan akan lebih berusaha lagi agar bisa membanggakan negara ini.
Kadang ada sesuatu yang harus kita tingggalkan untuk meraih sesuatu yang lainnya yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Satu tanggapan untuk “Aku & Bola

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s