Diposkan pada Cerpen

Cinta Berakhir Di Sma

Namaku Andien, aku kelas 2 sma. Sedang pacarku Raka malah masih kelas 1 karena waktu smp ia sempat tak naik kelas.
Meski begitu kami tetap menjadi pasangan yang selalu romantis hingga membuat semua orang iri kepada kami.

Siang itu saat istirahat sekolah seperti biasa Raka mengajakku ke kantin untuk makan.
Akan tetapi anehnya Raka mengajakku mengelilingi sekolahan. Aku dan dia berkeliling dari mulai ruang kelas, ruang guru, perpustakaan sampai lapangan sekolah. Setiap ruang ia pandang dengan tatapan terselubung makna yang sialnya tak ku tahu apa.
Memang ada yang aneh pada sikap pacarku ini, seperti bukan dirinya saja.

Dan saat pulang sekolah, ia juga masih bersikap aneh. Jika biasanya ia akan mengajakku makan di cafe favourit kami berdua, kali ini ia malah mengajakku nongkrong di taman sekolahan.

Dan karena rasa penasaran itulah akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, “Kamu kenapa sih, Ka?” tanyaku.
Ia menolah ke arahku sembari tersenyum, “Aku gak apa-apa kok.” jawabnya santai.

Angin berhembus merdu menerpa bunga-bunga di taman serta tubuh kami. Saat itulah ia memejamkan matanya. Sungguh, di saat-saat seperti aku teramat suka karena ia terlihat lebih tampan.
Aku pun menghadap ke depan, mencoba melakukan apa yang ia lakukan. Kemudian aku memejamkan mata dan merasakan angin yang berhembus itu.

“Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita bersama di sekolah ini, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Raka.
Aku membuka mata lalu kembali menatap kepadanya, “Maksud kamu apa?” tanyaku balik.
“Kamu serius amat sih, ini cuma sebuah pertanyaan. Perandaian.” kata Raka.
“Yah… Kalau ini adalah hari terakhir kita di sekolah, aku bakalan buat hari ini menjadi hari yang paling bahagia buat aku dan kamu.” kataku.
“Tapi gak mungkin lah, hari ini gak mungkin hati terakhir kita di sini.” kataku lagi.
“Kalau aku, aku cuma mau…”

Tiba-tiba Raka memelukku erat, bahkan detak jantungnya sampai bisa kurasakan.

“Aku cuma mau seperti ini,” kata Raka.

Sesaat kemudian, ku rasakan punggungku basah entah kenapa. Hingga ku dengar Raka terisak dan akupun akhirnya melepas pelukan eratnya, “Kamu kok, nangis? Kenapa?” tanyaku antusias.
“Enggak kok, ini barusan kena debu. Sakit banget sampai aku nangis.” kata Raka sembari tersenyum serta menyeka air matanya.

Setelah puas nongkrong di taman sekolahan, Raka mengantarku pulang. Lalu ketika aku telah sampai di depan pintu, tiba-tiba tubuhku didekap olehnya.

“Kamu kenapa sih? Hari ini kok aneh banget,” tanyaku.

Raka hanya terdiam.

Sampai kata itu ia ungkapkan, “I Love U,” kata Raka.
“I Love U Too.” kataku.

Kali ini aku menyaksikan kepergian Raka, melihat punggungnya hilang ditelan gelapnya malam.
Dan entah kenapa aku langsung rindu kepadanya, ingin rasanya aku memeluknya seperti yang sedari tadi ia lakukan bila ia ada di sini.

Hari berlalu dengan begitu cepat, pagi pun menjelang.

Di sekolah, aku tak melihat keberadaan Raka. Padahal biasanya ia selalu datang pagi-pagi sekali. Sampai pada akhirnya, Miki, teman sekelas Raka menghampiriku dan memberikan sebuah surat yang katanya dari Raka.

Aku pun membukanya,

“Dear Andien,

Terima kasih atas semua yang pernah kamu berikan. Aku teramat sangat bahagia bisa mengenal kamu.
Maaf untuk semua kasalahan yang aku perbuat.
Maaf juga karena mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi.
Ayahku bercerai dengan ibuku dan ia ingin aku ikut ia pindah ke luar kota. Sebenarnya aku tak bisa memilih antara ayah atau ibu, terlebih di sini ada kamu.
Tapi ibuku menyarankan aku untuk ijut ayah, katanya kalau ikut ayah pendidikanku akan terjamin. Jadi, aku memutuskan untuk ikut bersamanya.
Aku tahu ini akan menyakiti hatimu.
Maaf, maaf karena aku tak bilang langsung sama kamu.
Tentang cinta kita, biarlah berakhir sampai di sini saja. Bukannya aku sudah tak sayang padamu, tapi aku ingin kamu fokus pada pendidikan kamu. Lagipula sebentar lagi kamu akan naik kelas 3.

Selamat tinggal, Andien… Semoga Tuhan selalu memberimu bahagia.

Raka Ferdinand”

Hatiku hancur saat itu, tungkaiku juga lemas sampai aku tak bisa menopang diriku sendiri dan akhirnya jatuh.

Ku lihat lagi surat itu, aku baca sekali lagi, “Kanapa kamu ningalin aku, Ka? Kamu kan bisa tetap tinggal di sini bersama mama kamu dan kita akan baik-baik saja.” kataku dalam hati.
Satu-dua air mata mulai mebasahi surat itu, “Raka!!!!!” teriakku kencang.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

13 tanggapan untuk “Cinta Berakhir Di Sma

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s