Diposkan pada Cerita Pendek, Cerpen, Cinta, Dongeng, Family, Keluarga, Love, Novel, Tak Berkategori

#1 “Ibu Yang Merindu Si Bungsu”

Sebab apa yang kan kau jalani merupakan sebuah misteri yang tak kau ketahui.

Wajah Aida terlihat semringah ketika mendengar suara mobil memasuki rumah, ia pun bergegas melihatnya.
Berdirilah ia di depan pintu rumah menyambut kedatangan Bayu. Sementara Bayu berjalan ragu setelah melihat Aida telah ada di depan pintu.

Sigap Aida memeluk Bayu ketika Bayu ada tepat di depannya, “Bagaimana hari ini, sayang?” tanya Aida.
Bayu segera melepaskan pelukan Aida, “Bu, aku ini sudah besar. Berapa kali sih harus ku katakan, jangan pernah peluk aku lagi.” bentak Bayu.
Hati Aida seketika merasakan sakit, sebuah rasa sakit yang tak asing lagi baginya, “Tapi ibu rindu kamu, nak.” kata Aida.

Bayu tak mengindahkan, ia malah berjalan masuk.

“Ibu ingin jalan-jalan mencari makan sama kamu,” kata Aida.

Bayu menghiraukannya seolah tidak ada yang berbicara, ia pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Lalu ibu dan kamu makan malam bersama.” tambah wanita tua itu.
“Aku tidak mau!” kata Bayu tanpa menoleh dan terus berjalan.
Aida putus asa, namun tidak menyerah. Ia mengehela nafas sebelum kembali mencoba membujuk anaknya, “Ibu ingin mengobrol denganmu. Lima belas menit, sepuluh menit, atau bahkan lima menit pun tak apa.” kata Aida.
Bayu kembali menghentikan langkahnya, namun ia tetap tak menoleh, “Aku capek, bu. Ibu tolong ngertiin aku!” kata Bayu dengan nada tinggi.
“Aku rindu kamu yang dulu, anakku. Saat kamu masih merintis usahamu dan belum sesukses ini tapi selalu punya waktu untuk ibu.” kata Aida dalam hati.

Bayu mulai menaiki anak tangga, dan tak butuh waktu lama untuk membuatnya sampai di lantai dua.
Aida menyaksikan anaknya sampai benar-benar menghilang di ujung tangga, sesaat kemudian ia pun pergi dari sana. Dan saat ia melangkahkan kaki, terlihat ia juga menyeka air mata yang berlinangan.
Sama dengan kemarin, kali ini ia pun gagal membujuk anaknya untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Kini tinggalah ia sendiri di sebuah kamar yang sangat luas, nyaman dan juga indah bagai kamar seorang putri kerajaan. Tapi untuk apa artinya kemewahan ini bila ia tak bisa bersama-sama dengan anaknya seperti dulu lagi.
Sesaat ia terpikir tentang tawaran anak sulungnya Bima untuk kembali ke kampung halamannya dan menghabiskan masa tuanya di sana. Tapi ia juga tak tega meninggalkan anak bungsunya sendirian di sini. Hal itu membuatnya menjadi sangat dilema.

Suatu hari, Bayu harus pergi ke luar kota selama satu minggu untuk mengurus usahanya. Saat itulah Aida dijemput oleh Bima dan dibawa pulang. Aida terpaksa mengikuti kata Bima lantaran Bima memaksanya untuk ikut. Kata Bima, ia rindu masakan ibunya dan ingin setiap hari bisa memakan masakan ibunya, kata Bima itulah masakan paling enak yang pernah ada.
Lagi pula ia juga memang rindu pada kampung halamannya.

Beberapa hari kemudian…

Bayu terlihat lesu ketika menaiki anak tangga, entah apa sebabnya tapi tiba-tiba saja ia sangat rindu kepada ibunya. Maka dicarilah ibunya itu, ia mencari kemana-mana, dari mulai taman belakang rumah, kolam renang, sampai kamar namun ibunya tak ada di sana.
Akhirnya ia menyerah, ia memanggil asisten rumah tangganya untuk menanyakan keberadaan ibunya itu.

“Ibu saya di mana, mbak?” tanya Bayu.
“Ibu mas sudah pulang, dia dijemput sama kakaknya mas.” jawab sang art.

Entah apa lagi yang terjadi, tapi hati Bayu tiba-tiba sakit. Perasaannya juga dikuasai oleh sang rindu, ia teramat rindu kepada ibunya. Orang yang bahkan setiap harinya selalu ia acuhkan.

Pagi harinya…

Bayu langsung memesan tiket menuju kota kelahirannya untuk kemudian ia menuju ke kampung halamannya untuk menemui ibunya.
Dalam perjalanan itu ia terpikir, kali ini ia akan kembali membawa ibunya pulang ke Jakarta dan tak akan pernah membiarkan siapapun mengambilnya, tak terkecuali Bima sekalipun.
Ia juga kali ini berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan pernah menyia-nyiakan ibunya lagi.

Hamparan sawah yang luas sejauh mata memandang, udara dingin menyapa tubuh dan burung-burung bernyanyi merdu ialah pertanda bahwasanya ia telah sampai di kampung.
Bersegeralah ia menuju ke rumah Bima dengan menyusuri jalan setapak, namun langkahnya melambat setelah melihat tenda biru juga bendera putih.
Maka berlarilah ia sekencangnya, ia menembus kerumunan dan di sana ibunya terbujur kaku.

“Ibu!!!” teriak Bayu yang sontak mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu.
Bayu memeluk jasad ibunya, “Ibu, jangan tingalin Bayu. Maafkan Bayu, bu.” kata Bayu sembari menangis dan terisak.
Bima yang melihatnya segera menenangkan adikanya, “Yang sabar, Yu. Kita harus kuat.” kata Bima.

Namun Bayu terus saja menangis dan memanggil-manggil ibunya yang sudah tak bernyawa.
Dalam kesedihan itu ia justru malah teringat masa di mana ia dan ibunya saling menghabiskan waktu, saat mereka makan bersama, jalan-jalan dan mengobrol.
Kini ia ingin sekali mengulanginya, ia akan rela meninggalkan segala rutinitas jika saja ibunya masih ada. Namun kini ia tak bisa lagi.
Dan pada akhirnya Bayu tak sadarkan diri lantaran teramat sangat sedih sebab kehilangan ibunya.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

6 tanggapan untuk “#1 “Ibu Yang Merindu Si Bungsu”

      1. Temanya sederhana tapi bagus. Saran saya semangat lagi nulisnya. Oya, yang saya suka lagi dari tulisan mas aris, ejaannya bagus. Kritiknya, kadang lupa buat tanda titik di akhir kalimat. Hal wajar. Saya juga sering gitu. Lupa. Atau kebablasan untuk memperhatikan tanda baca. ๐Ÿ˜

        Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s