Diposkan pada Cerpen

#2 “Hijrah Si Pencuri Kotak Amal”

Suatu pagi…

Hilman dan Tini tengah menikmati sarapan pagi mereka sebelum masing-masing dari mereka bergelut dengan rutinitas.

“Tadi malam ibu bermimpi, ibu lihat kamu memakai baju serba putih dan sholat di masjid. Sungguh senangnya hati ibu di mimpi kala itu.” kata Tini dengan air muka sumringah.
Hilman menghentikan makannya sejenak, “Aku juga senang bila mimpi itu bisa terwujud, bu.” kata Hilman seraya tersenyum.

Setelah makan, mereka pun saling berpisah. Tini yang merupakan buruh cuci baju lalu mengetuk pintu demi pintu untuk menawarkan jasanya. Sebenarnya Hilman telah melarangnya bekerja, namun Tini bersikeras tetap ingin bekerja lantaran tak mau membuat anak semata wayangnya itu bersusah sendiri.
Karena hal itulah seorang sukarelawan bahkan pernah menawari Tini untuk tinggal di panti jompo tanpa harus membayar biaya, akan tetapi Tini tak mau.
Sedangkan Hilman, ia akan pergi dari mulai pagi sampai larut malam. Tak banyak yang tahu apa pekerjaan Hilman, bahkan Tini sendiripun tak mengetahuinya.
Yang pasti Hilman selalu membawa pulang uang yang cukup banyak setiap harinya.

✳✳✳

Hilman duduk bersila sama seperti semua orang yang ada di dekatnya, mendengarkan ceramah dan menunggu waktu itu tiba.
Entah kenapa masjid yang kali ini berbeda bagi Hilman, ada yang aneh dari sang mubalig.
Ia menatap Hilman tanpa berkedip, ia juga tiba-tiba saja merubah tema dengan begitu saja dari yang awalnya tentang Puasa Sunah menjadi Para Penghuni Neraka, yang paling mencolok salah satunya ia membahas tentang Pencuri.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala pernah berfirman,

وَ السَّارِقُ وَ السَّارِقَةُ فَاقْطَعُوْآ اَيْدِيَمُهَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مّنَ اللهِ، وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِه وَ اَصْلَحَ فَاِنَّ اللهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ، اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. المائدة:38-39

Yang artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksa dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Maidah : 38-39]” kata mubalig itu dengan lantangnya.

Mendengar firman itu jantung Hilman berdegub kencang, ia pun memutuskan untuk keluar.

Hilman terduduk di selasar, di saat jemaat berhamburan meninggalkan rumah Tuhan. Hari ini ia lupa pada misinya, entah mengapa ia pun tak mengetahuinya.

Sesaat seseorang menepuk pundak Hilman, “Assalamu’alaikum?” ucap orang tersebut.
Hilman menoleh, “Wa’alaikumsalam.” jawab Hilman ragu.

Ternyata orang tersebut ialah mubalig yang tadi berceramah, umurnya sekitar 30an, sedikit lebih tua dari Hilman.

Hilman menatapnya tanpa henti, “Nama saya Habibi, kamu boleh panggil saya Habib atau Abib saja.” kata mubalig itu memperkenalkan diri seraya menyodorkan tangannya.
Hilman tersenyum dan menjabat tangan Habib, “Nama saya Hilman.” kata Hilman.

Hening sempat ada di tengah-tengah mereka berkuasa, sebelum akhirnya Hilman mulai bertanya.

“Tadi kenapa tema ceramah berubah begitu saja?” tanya Hilman.
“Karena kamu.” jawab Habib.
Hilman yang memandang ke depanpun akhirnya menoleh ke arah Habib, “Karena saya, tapi kenapa?” tanya Habib lagi.
Habib menghela nafas sebelum ia mulai menjelaskan, “Saya juga tidak tahu. Yang pasti Allah memberikan saya suatu keanehan, semacam petunjuk. Yang karena hal itulah saya bisa membaca isi hati atau pikiran orang. Ketika melihat mata kamu, saya langsung terpikir tentang maling, dosa dan neraka. Maaf, bukan bermaksud menyindir atau apa, tapi itulah yang saya lihat.” jawab Habib.

Jawaban Habib yang baru saja dilontarkan mampu membuat hati Hilman sakit tak tertahankan. Meski semua yang dikatakan Habib adalah benar adanya, namun entah kenapa Hilman tak terima.

✳✳✳

Sementara itu…

Tini pulang lebih awal lantaran hari ini tak banyak yang menggunakan jasanya. Dan karena tidak ada kerjaan, maka Tini memutuskan untuk bersih-bersih rumah.
Ia membersihkan dapur, kamar mandi dan juga seluruh ruangan. Hingga saat ia hendak membersihkan kamar Hilman, ia melihat beberapa kotak beraneka macam warna di bawah dipan.

Ia mengambilnya satu, “Astagfirullah, ini kan kotak amal.” ucap Tini.

Tini kemudian menelusur ke bawah dipan, di sana ia dapati tak hanya satu tua tiga kotak amal, namun puluhan.
Ia pun melihat ke seluruh ruang kamar Hilman, di atas lemari juga terdapat beberapa kotak.

“Apa-apaan ini? Ya Allah…” ucap Tini yang kini wajahnya basah sebab berlinangan air mata.

Tangannya bergetar, ia menjatuhkan kotak amal yang ia pegang.
Tungkainya lemas, ia lalu terjatuh ke lantai.

✳✳✳

Hilman terlonjak dari tempatnya duduk lantaran sudah enggan berada di sana, dan dengan air muka penuh kekesalan ia akhirnya meninggalkan Habib sendirian.

“Kamu masih punya waktu untuk kembali, rumah Tuhan ini merindukan dirimu yang dulu. Bertaubatlah!” ucap Habib.

Hilman sempat berhenti dan mendengarkan apa yang Habib katakan, sesaat kemudian ia kembali berjalan.

Ketika hendak mengetuk pintu, Hilman dibuat terkesiap lantaran pintu itu terbuka dengan sendirinya. Ia dapati ibunya tengah menenteng dua tas besar dengan air muka yang terisi kesedihan bercampur kekesalan.

“Ibu kenapa, ibu mau kemana?” tanya Hilman.
“Ibu mau pergi dari sini, ibu gak sudi tinggal sama kamu. Si pencuri kotak amal. Ibu gak nyangka, ternyata selama ini ibu makan pakai uang haram.” jawab Tini dengan geramnya.

Kembali hati Hilman tergores kesakitan, kali ini lebih sakit dari semua rasa sakit yang pernah ia rasakan.

“Tapi bu, Hilman itu…”
“Ibu telah menerima tawaran seorang sukarelawan yang mau menampung ibu di panti jompo.” tukas Tini sebelum Hilman berkata-kata.

Tini kemudian berjalan melewati Hilman, namun segera terhenti lantaran Hilman memeluk kedua kakinya.

“Maafkan Hilman, bu. Hilman janji tidak akan mengulanginya lagi, ibu tolong jangan pergi.” rengek Hilman.
Tapi sakit hati akibat kecewa sudah terlalu dalam bagi Tini, “Ibu harus pergi.” kata Tini.

Tepat setelah Tini kembali melangkahkan kaki, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.

Tangisan Hilman pun pecah, “Ibu, jangan pergi.” kata Hilman sembari memeluk lebih erat lagi.

Tapi Tini masih cukup kuat untuk melepaskannya. Pelukan itu terlepas, namun imbasnya kepala Hilman terbentur tembok hingga ia merasakan sakit sampai membuat penglihatannya mengabur.
Terhuyung-huyung ia mencoba mengejar ibunya yang kini telah masuk ke dalam mobil, namun terlambat, sesaat mobil itupun melaju dan berlalu.

“Ibu!!!” teriak Hilman.

Hari berikutnya…

Hilman pergi ke sebuah masjid tempat di mana Habib akan kembali berceramah, ia menunggu di selasar hingga Habib selesai.

“Maaf sudah menunggu,” kata Habib.
Hilman menoleh, “Duduk!” perintah Hilman.
“Saya mau taubat.” kata Hilman.
“Alkhamdulillah, akhirnya.” ucap Habib lega.
“Tolong ajari saya sholat, saya ingin kembali kepadaNya.” kata Hilman.
“Dengan senang hati.” kata Habib sembari merangkul Hilman.
“Oh iya, sebentar.” kata Habib.

Habib kemudian pergi meninggalkan Hilman, sesaat kemudian ia kembali. Ia membawa sebuah baju koko kengkap dengan sarung serta kopiah yang kesemuanya berwarna putih.

“Pakailah ini,” kata Habib seraya menyerahkan baju dan perlengkapan sholat itu.
“Ini seperti dalam mimpi ibu,” kata Hilman dalam hati.
“Setelah ini aku akan menyerahkan diri.” tambahnya.”

Hilman pun memakai baju itu, setelah itu Habib mengajarinya cara berwudhu kemudian mengucap dua kalimat syahadat dan setelah itu mengajari Hilman sholat. Dan sholat berjamaahlah yang menjadi puncaknya.

Mimpi Tini telah menjadi kenyataan, sayangnya ia tak bisa melihatnya.

Selesai.

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s