Diposkan pada Cerpen

#3 “Untuk Anisa”

Di suatu pagi, di meja makan dengan suasana yang dikuasai oleh si canggung…

Namanya Anisa, dia cantik dan juga tinggi, layak sekali bila menjadi seorang artis, atau minimal seorang model. Sayangnya realita tak demikian indahnya, sebab ia harus menerima nasib dirinya yang hanya menjadi seorang pelayan restoran di ibu kota.
Awalnya ia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, namun semenjak suaminya dipecat dari perusahaan, ia akhirnya memutuskan untuk bekerja demi kehidupan sehari-hari.

Sedang yang ada di hadapan Anisa itu ialah Arwin, suami Anisa. Seorang yang menjabat sebagai manager selama belasan tahun sebelum akhirnya turun pangkat menjadi pengangguran, alias dipecat lantaran suatu masalah.
Pekerjaan sehari-harinya ialah berkencan dengan laptop usang dan juga buku-buku catatan. Ia merupakan seorang cerpenis.
Namun meski ia telah berkali-kali mengirim naskahnya ke media, belum pernah ada satupun yang diterbitkan.
Imbasnya ia tak mempunyai uang juga tak pernah menafkahi istrinya.

Arwin berparas tampan, rupawan, tetapi bukan itu satu-satunya alasan Anisa tetap mempertahankan hubungan dirinya dengan suaminya yang pengangguran itu. Ada suatu rasa yang menggebu ketika Arwin ada di dekatnya, atau ketika Arwin menatap matanya seperti yang sekarang ini tengah Arwin lakukan.
Mata Arwin berwarna kebiruan dan memang indah, saking indahnya Anisa kadang sampai tak berkedip ketika melihatnya. Pun ketika Arwin tersenyum, sungguh selalu bisa melelehkan hati Anisa.
Juga perihal perjuangannya mendapatkan cinta Arwin, Anisa sampai kehilangan beberapa sahabatnya lantaran ialah yang akhirnya menjadi kekasih Arwin dari sekian banyaknya wanita cantik yang menyatakan cintanya.

“Hari ini cuma ada ini saja,” ucap Anisa akhirnya sembari menunjuk ke arah tahu dan tempe di piring.
Arwin tersenyum, “Tidak apa-apa, sayang. Makasih ya… Dan maaf, minggu ini cerpenku gak dimuat lagi. Tapi minggu depan pasti dimuat kok, aku yakin.” ucap Arwin.

Anisa selalu benci ketika Arwin mulai berbicara perihal cerpen, tulisan, yang pada kenyataannya semua itu tak pernah bisa memberi dirinya bahkan suaminya sendiri sesuatu. Tak berguna.

Anisa bangkit, ia meraih tas yang ada di kursi lalu berlenggang pergi.

Arwin merasa ada yang salah pada Anisa, tapi ia pun tak dapat mencegah kepergiannya, “Hati-hati di jalan sayang!” teriak Arwin akhirnya.

โ‡โ‡โ‡

Setelah kepergian Anisa, Arwin kemudian sarapan sebelum akhirnya berkencan lagi dengan buku catatan dan laptop usangnya.

Sementara itu…

Anisa nampak semringah, ia tersenyum kepada setiap pengunjung yang datang meski kadang tak sedikit pengunjung yang menyalah artikan keramahan dirinya itu. Anisa sering dikira wanita tunasusila, wajar memang, lantaran restoran tempat Anisa belerja mengharuskan setiap pelayannya mengenakan baju seksi.

Satu minggu kemudian…

Hari ini Anisa benar-benar dijajah oleh rutinitas, restoran sangat ramai. Yang membuatnya kewalahan ialah lantaran beberapa rekannya ada yang tidak masuk kerja.
Jadilah ia harus berjuang dengan rekan seadanya melayani pengunjung yang seolah tiada habisnya.

Hingga Arwin pun datang, wajahnya semringah, matanya juga berbinar-binar, belum pernah Anisa lihat ekpresi suaminya yang seperti itu. Namun Anisa hanya melihatnya sesaat, lantaran ia benar-benar tidak bisa menemui suaminya itu meski sebentar saja.
Bahkan ketika Arwin mendekatinya, ia tetap acuh.

Sampai akhirnya Arwin mengikuti Anisa kemanapun ia pergi, “Sayang, aku punya sesuatu buat kamu.” kata Arwin dengan antusias.
“Ada apa? Nanti saja di rumah, kamu gak lihat aku sedang sibuk!” kata Anisa sembari berjalan meninggalkan Arwin.
Namun Arwin tetap mengikutinya, “Tapi, aku mau mengatakannya sekarang, sayang.” kata Arwin.

Dan karena perhatian Anisa teralihkan kepada Arwin, ia akhirnya menabrak seseorang dan menumpahkan makanan di baju orang tersebut.
Orang tersebut murka, namun Arwin lebih murka lagi ketika melihat istrinya dimarahi oleh orang tersebut.
Akhirnya Arwin diusir oleh satpam di restoran tersebut karena telah memaki pengunjung juga karena kedatangannya telah mengganggu pekerjaan Anisa.

Dengan berat hati Arwin akhirnya pergi meninggalkan restoran itu, tapi tak dapat ia sembunyikan perasaan bahagia dalam dirinya yang masih ada.

“Tak apalah, sesampainya di rumah nanti, aku akan memberikan ini pada Anisa. Dia pasti suka.” kata Arwin pada dirinya sendiri sembari melihat pada koran yang ia bawa.

Suara klaskson terdengar dari kejauhan, karena keasyikan melihat koran tersebut secara tak sadar Arwin malah kini ada di tengah jalan.
Sontak ia berlari, namun dari arah berlawanan melaju mobil dengan cepatnya yang menabrak Arwin hingga terpental beberapa jauh.
Darah bercucuran di kepala Arwin, matanya pun terpejam.

Di tempat lain, Anisa merasakan sakit di bagian dadanya, “Perasaan apa ini?” tanya Anisa dalam hati seraya ia memegangi bagian dada.

Sesaat kemudian, Arwin menelpon. Namun bukan Arwin yang berbicara melainkan orang asing yang tak dikenalnya.

“Maaf, ini siapa ya?” tanya Anisa.
“Saya, Ujang. Karena nomor kamu tersimpan dengan nama sayang, jadi saya telepon kamu. Pemilik hp ini mengalami kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit Harapan, tolong segera kesini.” kata Ujang.

Anisa menutup telepon dan bergegas ke rumah sakit, kali ini ia tak peduli pada rutinitasnya, atau apapun yang ada. Ia hanya ingin memastikan suaminya baik-baik saja.

Tak berapa lama Anisa pun sampai di rumah sakit, ia segera mencari keberadaan suaminya. Dan ia bergegas lagi ke ruang UGD begitu ia tahu suaminya ada di sana.

Di sana ada seorang lelaki paruh baya menunggu di depan ruangan, “Pak Ujang, ya?” tanya Anisa.
Ujang terkesiap, “Eh, iya. Saya ujang.” kata Ujang memperkenalkan.
“Bagaimana keadaan suami saya?” tanya Anisa lagi.
“Tidak tahu, dari tadi dokter belum keluar.” jawab Ujang.
“Oh, gitu ya,” kata Anisa.
Anisa akhirnya duduk di sebelah Ujang, sedang Ujang malah bangkit, “Ini saya temukan tidak jauh dari lokasi kecelakaan,” kata Ujang seraya memberikan koran dan sebuah amplop.

Anisa pun teringat, betapa tadi di restoran Arwin ingin sekali memberitahukan sesuatu, barang kali itu adalah tentang kedua benda ini.

“Kalau begitu, saya permisi dulu,” kata Ujang.
“Terima kasih, pak.” kata Anisa.

Tinggalah Anisa sendiri di sana, dan hanya sepi yang ada. Perlahan ia buka satu demi satu lembaran koran itu, sampai perhatiannya tersita pada sebuah cerpen berjudul, Untuk Anisa yang penulisnya ialah suaminya, Arwin Mahendra.
Anisa membaca cerpen itu, di sana ia lihat kerja keras suaminya selama ini, tak sadar satu dua air mata pun menetes.
Anisa kemudian membuka amplop itu, di sana terdapat uang ratusan ribu yang kini ia tahu bahwa itu adalah honor cerpen suaminya. Lagi, air mata Anisa pun menetes.

Anisa menyaka air matanya, saat itu pula dokter keluar dari ruangan.

“Bagaimana keadaan suami saya dok?” tanya Anisa.
“Suami anda baik-baik saja, hanya saja masih lemah karena kehilangan banyak darah.” jawab dokter tersebut.

Beberapa hari kemudian…

Arwin dapati Anisa tengah tertidur lelap di sampingnya seraya memegang tangannya, Arwin pun tersenyum. Lalu ia membelai rambut Anisa yang hitam dan lurus itu.
Hal itulah pula yang akhirnya membuat Anisa terbangun.

“Kamu sudah siuman?” tanya Anisa.

Arwin hanya mengangguk kecil, juga tersenyum.

“Aku mau bilang…”
“Makasih,” kata Anisa seraya memeluk Arwin erat-erat sebelum Arwin berkata-kata.
“Maaf selama ini aku gak percaya sama kamu, maafkan aku. Mulai sekarang kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau. Kamu boleh nulis cerpen, kamu boleh nulis apapun.” tambah Anisa.
“Sayang, aku sakit.” kata Arwin merintih.
Anisa segera melepaskan pelukannya, “Maaf, sayang,” kata Anisa.
“Aku udah baca cerpen kamu, bagus.” kata Anisa sembari tersenyum ramah.
“Syukurlah,” ucap Arwin tak kalah gembiranya.

Sejak saat itu Arwin dan Anisa hidup apa adanya dengan melalukan apa yang sama-sama mereka suka. Sejak saat itu pula Arwin mendapat izin sepenuhnya untuk terus menulis tentang apapun, apalagi jika tentang kisah cinta dengan Anisa seperti yang terbit di hari yang lalu, Anisa akan lebih senang lagi.

Dan para akhirnya Anisa sadar, bahwa keberadaan adalah lebih dari apapun yang ada.

Selesai

Iklan

Penulis:

Simple&Friendly

17 tanggapan untuk “#3 “Untuk Anisa”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s